Gilbert Audira, Alumnus UAJ yang Bongkar Bahaya Nanoplastik Lewat Riset Zebrafish

8/21/2026 12:00:00 AM


Jakarta – Sebuah temuan ilmiah mengenai dampak nanoplastik terhadap sistem saraf dan perilaku ikan zebrafish telah dikutip lebih dari 500 kali oleh peneliti lain di seluruh dunia. Karya ini merupakan hasil riset alumnus Fakultas Teknobiologi yang kini menjadi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ), Gilbert Audira, kini menjadi peneliti di Department of Bioscience Technology, Chung Yuan Christian University (CYCU), Taiwan. 

Lulusan tahun 2015 ini menekuni riset yang berpusat pada dampak nanoplastik dan berbagai zat kimia terhadap organisme akuatik. Menurutnya, nanoplastik jauh lebih mengkhawatirkan dibanding sampah plastik atau mikroplastik, karena ukurannya yang mencapai ribuan kali lebih tipis dari helai rambut sehingga memungkinkannya untuk menembus membran biologis, termasuk melintasi batas darah-otak dan terakumulasi di organ reproduksi.

Bagi Gilbert, pencapaian ini merupakan tanda bahwa isu yang ia angkat relevan dan menjadi kontribusi bagi dunia riset. Ia berharap temuannya dapat menjadi data dasar dalam perumusan standar keselamatan lingkungan yang lebih aman, menjadi referensi metodologi yang integratif, serta meningkatkan kesadaran yang lebih luas terkait bahaya polusi nanoplastik sehingga dapat mendorong terbentuknya regulasi untuk keselamatan lingkungan dan kesehatan global.

Dalam penelitiannya, Gilbert dan tim menemukan bahwa paparan nanoplastik memicu stres oksidatif dan gangguan hormon, sekaligus merusak sistem saraf serta mengubah perilaku ikan yang diuji. "Ikan mengalami peningkatan kecemasan, gangguan pembentukan kelompok (shoaling), penurunan daya tanggap terhadap ancaman predator, hingga kekacauan ritme tidur/sirkadian," jelasnya. 


Lebih lanjut, Gilbert menjelaskan pemilihan zebrafish sebagai model penelitian merupakan pemilihan strategis dalam mendukung penelitian karena zebrafish memiliki kemiripan fisiologis dengan mamalia, perilaku yang kompleks dan dinamis sehingga dapat dilacak secara objektif lewat analisis computer vision, serta memungkinkan peneliti untuk melihat dampak toksikan secara menyeluruh. 

Di samping itu, ia turut menyampaikan perkembangan risetnya yang kini membutuhkan berbagai organisme selain zebrafish, seperti Daphnia, cacing, jangkrik, hingga kepiting yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda sehingga memunculkan tantangan baru. Tidak berhenti di sana, Gilbert menambahkan tantangan lainnya datang dari penguasaannya deep learning dan computer vision. Hal ini dilatarbelakangi pendidikannya yang berfokus pada biologi, dan bukan computer engineering sehingga menimbulkan kesulitan baginya untuk menjembatani dunia biologi dan computer vision. 

Saat ini, Gilbert tengah menjalankan beberapa riset paralel yang memperluas cakupan hewan akuatiknya, mulai dari evaluasi pengaruh pelarut laboratorium terhadap ritme sirkadian ikan platyfish, ekotoksikologi dan adaptasi lingkungan pada kepiting endemik Taiwan, hingga pemetaan sistem olfaktori zebrafish

Ia memperkirakan bahwa riset etologi dan toksikologi ke depan akan makin menyatu dengan otomasi berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga terbentuk perangkat lunak fenotipe perilaku yang lebih presisi dan mudah digunakan peneliti biologi di seluruh dunia tanpa terkendala hambatan teknis pemrograman. 

Menariknya, ketertarikan Gilbert pada toksikologi dan teknologi biosains muncul dari kesadaran lingkungan dan minatnya pada teknologi. Ia ingin mengambil peran dalam memastikan bahwa kemajuan industri dan zat kimia sintetis baru tidak mengorbankan kelestarian lingkungan, sekaligus melihat bidang ini sebagai ruang pertemuan antara sains hayati dan instrumen teknologi modern. 

Namun di balik itu semua, ada motivasi dan dasar yang dibangunnya saat duduk di bangku kuliah. Sejak memilih FTb (kini FBTI) UAJ, Gilbert menggeluti bidang yang disukainya. Tidak asal pilih, ia mengaku bahwa FTb UAJ merupakan salah satu pendidikan bioteknologi terbaik di Indonesia, didukung fasilitas laboratorium yang memadai, kultur pembelajaran hands-on sejak awal masa studi, serta pengajar yang kompeten dan suportif terhadap pengembangan kapasitas riset mahasiswa. 

“FTb UAJ saat itu merupakan pelopor sekaligus salah satu fakultas bioteknologi terbaik di Indonesia. Fondasi kokoh yang dibentuk selama studi di UAJ itulah yang memberikan saya kesiapan penuh untuk melanjutkan karier akademis hingga ke tingkat internasional saat ini,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, ia mengaku bekal yang didapatkan di UAJ telah mengantarkannya untuk melanjutkan studi ke CYCU. Keterampilan teknis yang ia dapat dari pengalaman langsung di laboratorium dan kebiasaan menyusun laporan ilmiah di UAJ, membentuk portofolio riset yang kemudian membantunya untuk lulus dalam proses seleksi beasiswa mahasiswa internasional. 

Setelah resmi diterima, Gilbert menilai bahwa standar kualitas dan fasilitas riset Department of Bioscience Technology di CYCU sangat mirip dengan yang ia rasakan di UAJ. Hal ini, sangat memudahkannya, terlebih lagi keterampilan dan pengalaman praktik langsung di UAJ menjadi hal yang paling terasa manfaatnya hingga kini bagi Gilbert, termasuk dalam mempublikasikan artikel risetnya di jurnal internasional. 

Menutup kisahnya, Gilbert berpesan kepada mahasiswa dan calon mahasiswa UAJ yang tertarik menempuh jalur riset atau studi ke luar negeri agar tidak pernah merasa minder dengan nilai akademis. Menurutnya, yang paling dilihat di dunia internasional adalah keterampilan praktis, cara berpikir analitis, dan kontribusi yang nyata. 

“Ingatlah bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Selama Anda memiliki fondasi yang kuat dari Unika Atma Jaya, rasa ingin tahu yang tinggi, dan strategi yang tepat, maka pintu untuk berkarier di tingkat internasional selalu terbuka lebar,” pesannya. 

(STV)