
Jakarta – Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) melalui Campus Ministry (CM) dan Young Catholic Students (YCS) menyelenggarakan kegiatan talkshow dan Focus Group Discussion (FGD) melalui Gerakan Bersama untuk Indonesia VIII (GEBRAK Indonesia VIII) bertajuk ”Ketika Militer Masuk Ruang Sipil: Di Mana Posisi Anak Muda?” pada Sabtu (17/10) di Gedung Yustinus lantai 15, Kampus Semanggi.
GEBRAK Indonesia merupakan forum dialog rutin yang diselenggarakan CM dan YCS UAJ untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas. Tahun ini, GEBRAK Indonesia VIII mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk membahas hubungan sipil dan militer serta peran anak muda dalam menjaga demokrasi dan ruang sipil.
Dalam sambutannya, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Karier (BKK) Laurensia Harini Tunjungsari, M.Psi., Psikolog., menyampaikan rasa senangnya melihat pertemuan mahasiswa dari berbagai kampus dan berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat. “Semoga apa yang dicita-citakan oleh orang yang mempersiapkan acara ini (GEBRAK Indonesia VIII) bisa betul-betul tercapai dan kita bisa bersama-sama membangun Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala CM, Dr. Ir. F.X. Sunar Wibowo, M.Sc., menjelaskan bahwa GEBRAK Indonesia VIII mengajak mahasiswa dari belasan perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri untuk berdiskusi. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting bagi masa depan bangsa dan generasi berikutnya. Karena itu, ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pembicaraan di kegiatan ini, tetapi juga mendorong mahasiswa ikut bergerak.

Sementara itu, Ketua Acara Maria Valent Pradisty menyampaikan bahwa GEBRAK Indonesia bertujuan mengajak mahasiswa berpikir kritis dan terbuka terhadap dinamika sosial-politik di Indonesia. “Harapan kami melalui diskusi hari ini, kita tidak hanya sekedar mendapatkan wawasan baru, tetapi juga semakin peka, berani bersuara, serta mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Memasuki sesi talkshow, Analis dan Praktisi Kebijakan Pertahanan dan Keamanan Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum., menjelaskan bahwa masuknya militer ke ruang sipil tidak selalu terlihat jelas, dan dapat terjadi melalui jalur yang terlihat wajar. Menurutnya, kondisi seperti ini hanya dapat diimbangi oleh warga yang memahami strukturnya dan bersedia bergerak bersama, sehingga sikap tidak peduli bukanlah sikap netral. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa sebagai kaum berpendidikan dilihat masyarakat dari analisis, suara, dan sikapnya, sehingga ajang diskusi antar kampus menjadi penting agar dapat membantu upaya menjaga ruang sipil.

Dari sisi akademisi, Dosen Ilmu Komunikasi UAJ, Andina Dian Dwifatma, S.I.Kom., M.Si., mengangkat pertanyaan mengenai kewajaran terhadap kehadiran militer di ruang sipil, sebab di Indonesia hal ini kerap dipandang sebagai bagian dari pengamanan biasa. Untuk melihatnya dari sudut pandang generasi muda, ia melakukan riset yang masih berjalan terhadap sekitar 350 mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta, menelaah everyday militarism di bidang pendidikan, media, budaya, dan ruang publik sebagai indikator apakah generasi muda menormalisasi kehadiran militer di ranah sipil. Data sementara menunjukkan sebagian besar responden agak tidak setuju dengan kehadiran personel militer dalam kegiatan kampus yang tidak berkaitan dengan pertahanan.
Melengkapi pemaparan tersebut, Aktivis Hak Asasi Manusia dan Suara Anak Muda, Delpedro Marhaen Rismansyah menegaskan bahwa diskusi ini merupakan upaya mendorong militer kembali pada fungsi utama di bidang pertahanan dan bukan kebencian terhadap institusi. Ia mengajak mahasiswa untuk menerapkan See-Judge-Act, yaitu mengenali fakta dan siapa yang terdampak, mengujinya dengan prinsip hak asasi manusia dan demokrasi, lalu memilih tindakan kolektif yang damai, aman, dan terukur, seperti diskusi berbasis data, pers mahasiswa, dan petisi. ”Demokrasi tidak dijaga hanya oleh institusi. Ia dijaga oleh warga,” tegasnya.

Selain talkshow, GEBRAK Indonesia VIII dilengkapi dengan FGD yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas dalam kelompok-kelompok diskusi. Dalam kelompok tersebut, para peserta diajak untuk berdiskusi dan bertukar pandangan seputar peran dan batas militerisme dalam kehidupan sehari-hari sipil.
Melalui kegiatan ini, GEBRAK Indonesia VIII dari UAJ ingin terus menegaskan bahwa ruang sipil dan demokrasi perlu dijaga bersama oleh warga, dan anak muda turut memiliki peran penting. Dengan bekal pemahaman dan pertukaran ilmu lintas kampus, mahasiswa diharapkan dapat memahami persoalan secara kritis, peka terhadap situasi sosial-politik saat ini, dan berani untuk bersuara di lingkungan masing-masing sehingga membawa dampak positif bagi sekitarnya.
(STV)