Forum Semanggi #6 Refleksikan relevansi Etika, Politik, dan Teknologi atas Pemikiran Alois Agus Nugroho

6/19/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Institute of Public Policy (IPP) Unika Atma Jaya (UAJ) menggelar Forum Semanggi #6 bertajuk “Etika, Politik, dan Teknologi: Refleksi atas Pemikiran Aloisius Agus Nugroho” pada Kamis (18/6). Acara yang berlangsung di Ruang Eksebisi Atma Cultura, Kampus Semanggi ini diselenggarakan untuk membedah buku yang merangkum warisan pemikiran Prof. Alois Agus Nugroho mengenai etika, komunikasi, politik, pendidikan, serta teknologi dalam konteks sosial kontemporer.


Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K). Ia menilai karya-karya Prof. Alois merupakan warisan intelektual yang selalu memantik pembacanya untuk terus berpikir ulang. "Tulisan-tulisan Prof. Alois bukan sekadar karya akademik, tetapi juga refleksi yang mengajak kita terus mencari makna dan kebenaran," katanya.



Apresiasi senada datang dari Direktur Eksekutif IPP Unika Atma Jaya, Salvatore Simarmata, S.Sos., M.A., Ph.D. Ia berharap buku ini menjadi ruang dialog kritis dalam menyoroti persoalan etika di tengah masifnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. "Buku tersebut tidak hanya mengangkat persoalan praktis, tetapi juga mengajak pembaca merefleksikan pertanyaan mendasar mengenai arah perkembangan masyarakat dan nilai-nilai yang mendasarinya," ujarnya.


Forum yang dipadati oleh mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum ini menghadirkan sejumlah pembicara kompeten yang juga menjadi kontributor buku tersebut. 


Mulai dari Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAJ, Andina Dwifatma, Ph.D., lalu Dosen Program Studi Magister Ekonomi Terapan UAJ, Agustinus Prasetyantoko, Ph.D., kemudian Dosen Program Studi Psikologi UAJ, Stefani Haning Swarati Nugroho, Ph.D., serta Ketua Dewan Pengawas TVRI, Dr. Agus Sudibyo, S.IP., M.Hum. Jalannya diskusi ini dipandu oleh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAJ, Natalia Widiasari, S.IP., M.Si.




Dalam sesi diskusi, Andina menyoroti pandangan Prof. Alois terkait hubungan erat antara etika, politik, dan seni. Andina menegaskan bahwa seorang pemimpin membutuhkan kemampuan yang lebih luas ketimbang sekadar keahlian teknokratis untuk bisa memahami masyarakat secara utuh.


"Ketidakmampuan pemimpin menghidupkan api imajinasi politis akan memaksa pemimpin beralih pada rekayasa, kekerasan, dan dominasi," tegas Andina.


Beralih ke esensi dunia akademik, Agustinus mengajak audiens untuk bisa membedakan antara 'ilmu' dan 'pemikiran'. Baginya, perguruan tinggi mengemban tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak tenaga ahli siap pakai. Universitas harus mampu melahirkan insan yang berpikir kritis dan reflektif.




"Kita tidak hanya sedang mempelajari ilmu, tetapi juga berpikir tentang logika ilmu itu sendiri. Di situlah pentingnya pemikiran kritis," ungkap Agustinus.


Sementara itu, Stefani yang juga merupakan putri dari mendiang Prof. Alois membahas relevansi pemikiran sang ayah dalam dunia pendidikan modern. Ia mengkritik tren pendidikan hari ini yang cenderung terjebak pada formalitas angka, capaian kuantitatif, dan indikator keberhasilan artifisial, sehingga berisiko mengabaikan manusia sebagai pusat dari proses belajar itu sendiri.




"Pendidikan itu sebenarnya tentang mereka, bukan hanya tentang mereka yang sudah berada dalam posisi yang menguntungkan," tutur Stefani lembut.


Isu krusial mengenai teknologi dan ruang digital menjadi sorotan utama yang dibedah oleh Agus. Dalam paparannya, ia menguliti dampak nyata dari fenomena surveillance capitalism (kapitalisme pengawasan). Fenomena ini kerap menjebak masyarakat dalam ilusi kebebasan saat berselancar di dunia maya, padahal gerak-gerik mereka terus dipantau oleh sistem pengawasan berbasis data.




"Kita seakan-akan bebas dengan gadget di tangan kita. Namun sejauh kita menjadi pengguna aktif teknologi digital, sebenarnya kita hidup dalam ruang yang serba terberi," pungkas Agus mengakhiri sesi.


Di tengah gempuran inovasi teknologi yang tak terbendung, Forum Semanggi #6 ini sukses menjadi alarm pengingat. Acara ini menegaskan kembali bahwa etika, refleksi kritis, dan nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi kompas utama dalam menavigasi kehidupan sosial, politik, maupun akademik.


(DEL)