
Jakarta – Perkumpulan Alumni Atma Jaya Jakarta (Perluni) bersama Ikatan Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya (Iluni FH UAJ) dan berkolaborasi dengan beberapa organisasi lainnya menyelenggarakan Festival Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2026 bertajuk Reimagining Asian-African Conference for the Young Generation and Jakarta The Global City: Solidarity, Multi-Diplomacy, and Multi-Narratives of World History, di Ballroom Lantai 15 Kampus Semanggi Unika Atma Jaya pada pada Selasa (30/6). festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan tokoh pemerintah, korps diplomatik, akademisi, alumni, komunitas, dan generasi muda untuk mendiskusikan masa depan kerja sama internasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Penyelenggaraan festival ini menjadi refleksi bahwa nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika tidak berhenti sebagai warisan sejarah, melainkan tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun perdamaian, kesetaraan, dan kolaborasi global. Di tengah perubahan geopolitik dunia, meningkatnya peran Global South, serta berbagai tantangan lintas negara, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai ruang dialog yang mampu mempertemukan berbagai perspektif melalui pendidikan, penelitian, dan kerja sama internasional.

Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa Festival Konferensi Asia-Afrika menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan Konferensi Asia-Afrika 1955 kepada generasi muda. "Forum hari ini mengajak kita bukan hanya untuk mengenang warisan Konferensi Asia-Afrika, tetapi juga membayangkan kembali semangatnya bagi generasi masa kini. Semangat Bandung yang berlandaskan solidaritas, saling menghormati, dan kerja sama damai tetap sangat relevan dalam menghadapi tantangan global yang kita hadapi saat ini," ujar Prof. Yuda.
Prof. Yuda menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Konferensi Asia-Afrika mencerminkan visi Unika Atma Jaya untuk membentuk pemimpin yang mampu memberikan kontribusi bagi Indonesia maupun masyarakat global. "Kami percaya bahwa universitas bukan hanya pusat pembelajaran, tetapi juga jembatan yang menghubungkan bangsa, budaya, dan gagasan. Melalui pendidikan, penelitian, dan dialog, universitas berkontribusi terhadap diplomasi, perdamaian, dan saling pengertian antarbangsa," ujar Prof. Yuda.
Festival ini turut dihadiri Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia Prof. Fekadu Beyene Aleka, Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E Abdalfattah A.K. Al-Sattari, serta Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran Dr. Yahya Jahan Giri, Duta Besar Indonesia untuk Rusia Drs. Wahid Supriyadi. Selain itu, hadir juga Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri Pemprov DKI Jakarta Yudi Hermawan A, S.Sos, M.A Keempat perwakilan Duta Besar menegaskan bahwa nilai-nilai Konferensi Asia-Afrika seperti penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan, solidaritas, dan penyelesaian damai tetap menjadi fondasi penting dalam membangun tatanan dunia yang lebih inklusif.

Dalam pidatonya, Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia Prof. Fekadu Beyene Aleka menekankan bahwa Asia dan Afrika memiliki tanggung jawab bersama untuk menghadirkan bentuk kerja sama baru yang lebih inklusif melalui penguatan pendidikan, riset, inovasi, ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda. Ia menilai bahwa diplomasi pada masa kini tidak lagi terbatas pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga melibatkan universitas, dunia usaha, masyarakat sipil, serta komunitas sebagai bagian dari multidiplomasi yang mampu membangun kepercayaan dan kemitraan jangka panjang.
Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E Abdalfattah A.K. Al-Sattari mengajak generasi muda Indonesia untuk menjaga semangat persatuan, kemanusiaan, dan kecintaan terhadap bangsa sebagai fondasi kepemimpinan masa depan. Menurutnya, semangat solidaritas yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika harus terus diwariskan agar tetap menjadi kekuatan moral dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Senada dengan hal tersebut, Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran Dr. Yahya Jahan Giri menyoroti pentingnya diplomasi budaya dan multinarasi sejarah sebagai upaya menghadirkan perspektif Asia dan Afrika secara lebih utuh dalam percaturan dunia. Ia menegaskan bahwa universitas, akademisi, seniman, peneliti, hingga mahasiswa merupakan aktor diplomasi yang berperan membangun pemahaman lintas budaya melalui ilmu pengetahuan, seni, dan dialog.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan seremoni pemotongan pita sebagai tanda dibukanya Festival Konferensi Asia-Afrika 2026 yang dilakukan bersama oleh Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), Ketua Perluni Unika Atma Jaya Ivor Ignasio Pasaribu, Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Arthur Wailan Sanger, serta para perwakilan Duta Besar.
Usai seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai forum strategis yang membahas isu-isu kontemporer, mulai dari Forum Ekonomi Kreatif bertema Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika melalui Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Inovasi Perkotaan. Talkshow Sejarah mengenai warisan diplomasi internasional Presiden Soekarno, hingga Forum Diplomasi Kota yang mengangkat kerja sama Sister City Jakarta–Moskow sebagai model diplomasi kota di abad ke-21. Di festival juga menghadirkan pameran arsip, sejarah, dan sastra yang merefleksikan perjalanan Konferensi Asia-Afrika sebagai bagian penting dari sejarah diplomasi dunia.

Melalui Festival
Konferensi Asia-Afrika 2026, PERLUNI Unika Atma Jaya bersama Unika Atma Jaya
sebagai tuan rumah menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog
yang memperkuat kolaborasi lintas negara, memperluas jejaring internasional,
serta mendorong generasi muda menjadi aktor yang mampu meneruskan semangat
Bandung melalui pendidikan, diplomasi, dan kerja sama global.
(BRI)