Kolaborasi Jadi Kunci, Dosen Unika Atma Jaya Rancang Model Kolaborasi untuk Bantu IKM Batik Yogyakarta

8/5/2026 12:00:00 AM


Jakarta – Bagaimana cara usaha batik kecil tetap bertahan di tengah gempuran industri tekstil berskala besar? Pertanyaan ini yang mendorong terbentuknya riset dari seorang dosen Teknik Industri di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ), Dr. Stefani Prima Dias Kristiana, S.T., M.Sc. Melalui disertasinya di Program Studi Doktor Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM), Stefani merancang model kolaborasi bagi industri kecil dan menengah (IKM) batik di Yogyakarta, dan hasilnya menunjukkan peningkatan profit rata-rata hingga 38,73 persen.

Ketertarikan Stefani tidak terlepas dari kota studinya, Yogyakarta, salah satu pusat batik di Indonesia. Wisudawan termuda Program Doktor Fakultas Teknik UGM ini melihat batik sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. “Saya mau batik itu harus kita kembangkan dan lestarikan, jangan sampai kalah bersaing dengan tekstil-tekstil lain,” ujarnya.

Stefani menyoroti pelaku industri batik yang sebagian besar masih berskala kecil dan menengah dengan keterbatasan modal serta sumber daya. Ia menemukan bahwa para pengusaha batik kerap berjalan sendiri-sendiri, meskipun mereka berada dalam satu wilayah yang sama. Hal ini yang melahirkan ide kolaborasi sebagai solusi untuk para IKM.

Melalui solusi ini, para IKM tetap berdiri sendiri namun saling bekerja sama dalam pengadaan bahan baku dan pemasaran. Riset ini berfokus pada tiga sentra batik di Yogyakarta, yaitu sentra Tancep di Gunung Kidul, Giriloyo di Bantul, dan Lendah di Kulon Progo.

Lebih lanjut, Stefani merancang dua model kolaborasi, yakni Purchasing Collaboration untuk pengadaan bahan baku bersama dan Marketing Collaboration melalui galeri penjualan terpusat. Kedua model ini kemudian diuji dengan pendekatan simulasi produksi dengan bantuan software Flexsim untuk melihat dampaknya terhadap biaya dan keuntungan setiap IKM.

Hasil dari model ini menunjukkan bahwa kolaborasi pengadaan bahan baku mampu menekan biaya secara signifikan. Sementara itu, kolaborasi pemasaran melalui galeri bersama membantu memperluas variasi produk dan segmen pasar, meski dampaknya terhadap profit baru terasa optimal ketika volume penjualan turut meningkat. Ketika kedua model ini diintegrasikan, peningkatan profit yang diperoleh sentra batik tulis mencapai rata-rata 38,73 persen, dengan kenaikan tertinggi menyentuh 64,26 persen pada salah satu IKM yang diteliti.


Bersama temuan ini, Stefani yakin bahwa kolaborasi antar IKM dapat menjadi kunci jawaban atas tantangan modal dan keterbatasan sumber daya yang selama ini dihadapi usaha kecil di Indonesia. ”Kata kuncinya kolaborasi, jadi pembelian bahan baku dilakukan secara terstruktur bersama-sama, dan saling berkolaborasi sumber daya manusianya sehingga penjualannya meningkat serta mendorong daya saing,” ujarnya. 

Riset ini menjadi contoh nyata penerapan keilmuan Teknik Industri dalam praktik, yaitu mengoptimalkan suatu sistem, dengan menganalisis masalah di industri secara khusus, kemudian mengembangkan solusinya. ”Harapannya penerapan keilmuan Teknik Industri dapat dimanfaatkan untuk menganalisis suatu permasalahan, kemudian menghasilkan solusi melalui simulasi berbasis perangkat lunak. Pendekatan ini memungkinkan penyesuaian resource secara lebih optimal sekaligus memberi gambaran terhadap outputnya. Secara umum teknik industri kata kuncinya adalah optimalisasi sistem,” ungkapnya.

Menurutnya, keunggulan prodi Teknik Industri UAJ terletak pada cakupan pembelajaran dan peluang kerja yang luas karena pendekatan yang analitis membuat lulusannya bisa masuk ke berbagai sektor, baik di bagian sistem produksi, manajemen, maupun marketing. Selain itu, prodi ini dilengkapi laboratorium (lab) yang lengkap dan mendukung kegiatan belajar mahasiswa, seperti lab ergonomi, lab sistem produksi, lab otomasi, lab statistik, dan lab inovasi.

“Kalian beruntung bisa masuk ke Teknik Industri UAJ, karena di sini bidang pembelajarannya luas dari hulu hingga hilir dalam proses pengembangan suatu industri. Bidang pekerjaannya juga luas, karena cakupan ilmu di sini ada dari manajemen, ergonomi, ekonomi teknik, supply chain, analisis biaya, perancangan produk, tata letak pabrik, hingga sistem produksi. Semua itu jadi bekal berharga buat mahasiswa nanti ketika lulus, karena itu menurut saya harus bangga bahwa kalian ada di program studi Teknik Industri” pesannya kepada seluruh mahasiswa Teknik Industri UAJ. 

Upaya Stefani tidak berhenti di ruang kelas, melainkan terus menyebar hingga menghasilkan temuan yang dapat membantu kelangsungan industri kecil dan menengah di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kolaborasi dapat menjadi jawaban dari kesulitan para industri kecil dan menengah dalam menghadapi persaingan sumber daya, modal, bahan baku, dan pelanggan.

(STV)