
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan computer vision membuka semakin banyak peluang untuk memahami aktivitas manusia. Namun, ketika teknologi pemantauan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, muncul satu tantangan penting: bagaimana teknologi dapat membantu manusia tanpa mengorbankan privasi?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian Dr. Nova Eka Budiyanta, S.Pd., M.Pd., M.T., dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada 2025, Dr. Nova mengembangkan riset mengenai pengolahan data 3D LiDAR point cloud pada human activity monitoring sebagai alternatif data terhadap sistem pemantauan berbasis citra kamera.

"Selama ini banyak pemantauan aktivitas manusia dilakukan berdasarkan data yang diambil dari citra kamera, yang tentu saja sangat bersinggungan dengan tereksposnya privasi. Kami mencoba mencari tipe data lain beserta fitur dan metode baru yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengolah data tersebut dalam pemantauan aktivitas manusia," jelas Dr. Nova.
Melalui teknologi 3D LiDAR, sistem dapat menangkap pantulan laser dari objek untuk menghasilkan kumpulan titik atau point cloud, yang kemudian dapat diolah untuk mengenali postur dan gestur manusia tanpa menangkap informasi visual seperti warna atau detail wajah. Dengan demikian, sistem tetap dapat memantau perubahan aktivitas, seperti pergerakan seseorang atau perubahan posisi tubuh, tanpa harus merekam citra visual secara langsung.
Riset ini secara khusus juga melihat kebutuhan pemantauan lansia, yang semakin relevan seiring meningkatnya populasi lansia di Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil dan mungkin tidak selalu mendapatkan pendampingan langsung dari keluarga. Sistem monitoring berbasis 3D LiDAR diharapkan dapat membantu memberikan informasi mengenai aktivitas mereka kepada pihak terkait, dengan tetap menjaga privasi.
Penerapan teknologi monitoring di ruang publik maupun lingkungan kerja perlu mempertimbangkan batas antara kebutuhan akan keamanan dan hak individu atas privasi. Bagi Dr. Nova, prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam mengembangkan teknologi yang benar-benar berpusat pada manusia.

"Supaya teknologi itu berpusat pada manusia, desain awal itu harus dimulai dengan privacy by design. Kita harus mengutamakan privasinya dulu sebelum menentukan data dan pendekatan yang akan digunakan," ungkapnya.
Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, teknologi 3D LiDAR juga memiliki potensi penerapan di dunia industri, termasuk untuk mendukung keselamatan kerja dan pengembangan autonomous vehicle. Kemampuannya menghasilkan informasi jarak yang lebih presisi dapat membantu meminimalkan risiko kecelakaan kerja sekaligus mendukung sistem kendaraan otonom.
Pengembangan riset tersebut juga menjadi bagian dari upaya Dr. Nova membawa perspektif baru ke lingkungan Unika Atma Jaya, khususnya melalui pengembangan keilmuan human monitoring system di lingkungan laboratorium robotika dan komputasi cerdas, sekaligus memperkenalkan alternatif teknologi selain kamera dalam sistem monitoring.

Ia menggunakan riset tersebut di dalam pembelajaran melalui materi perkuliahan yang terus diperbarui berdasarkan riset dan publikasi terbaru, sekaligus mendorong mahasiswa untuk memahami fundamental, bereksperimen, dan mendokumentasikan hasil penelitian melalui publikasi ilmiah yang dapat menjadi bagian dari portofolio serta membuka peluang exposure dan kolaborasi secara global.
Pesan Dr. Nova untuk mahasiswa pun sederhana, tetapi relevan bagi siapa pun yang ingin berkembang di dunia teknologi dan riset:
"One word, be resilient."
Di Unika Atma Jaya, perjalanan tersebut dapat dimulai dari rasa ingin tahu, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar. Sebab, generasi yang akan menentukan masa depan teknologi bukan hanya mereka yang mampu menggunakannya, tetapi juga mereka yang berani menciptakan solusi baru.
(THE)