Dosen
Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya, Griselda
Herman Natadiputri, S.Si., M.Si., terpilih menjadi salah satu peserta dari
Indonesia dalam Training Workshop on Securing Synthetic Biology Research
Data and Intellectual Property (IP) in Indonesia, Malaysia and the Philippines.
Pelatihan tiga hari ini berlangsung pada 2–4 September 2026 di Radisson Blu
Cebu, Filipina.
Workshop ini diselenggarakan oleh
Health Security Partners (HSP) bekerja sama dengan Asosiasi Biorisiko Indonesia
(Indonesia Biorisk Association/IBA), Malaysian Biosafety and Biosecurity
Association (MBBA), dan Biorisk Association of the Philippines (BRAP), dengan
dukungan pendanaan dari Office of Cooperative Threat Reduction, Departemen Luar
Negeri Amerika Serikat. Kegiatan ini mempertemukan sedikitnya 26 peserta dari
Indonesia, Malaysia, dan Filipina, yang terdiri atas peneliti akademik, tenaga
laboratorium, profesional teknologi informasi, serta pengelola tata kelola
riset. Peserta dari Indonesia diseleksi oleh HSP bersama IBA, dengan prioritas
bagi institusi yang aktif dalam kolaborasi internasional serta mengelola data,
teknologi, dan kekayaan intelektual biologis yang sensitif.
Pelatihan
ini bertujuan memperkuat pengawasan institusi atas data, material, teknologi,
dan kekayaan intelektual riset biologi sintetis yang rentan disalahgunakan atau
berpindah tangan tanpa izin. Selama tiga hari, peserta yang difasilitasi Mayra
Ameneiros dan Dr. Feras A. Batarseh mempelajari Dual-Use Research of Concern
(DURC), keamanan riset, cyberbiosecurity, Know-Your-Collaborator
(KYC) dan due diligence, kerangka kerja biosafety dan biosecurity
internasional, penilaian risiko berbasis skenario, serta pemanfaatan AI untuk
pengamanan data. Pada hari terakhir, peserta menyusun dan mempresentasikan
rancangan kerangka keamanan institusi yang mencakup perlindungan data,
pengamanan kekayaan intelektual, peninjauan kolaborasi, mitigasi risiko, dan
mekanisme pengawasan.
“Riset
biologi sintetis di kampus menghasilkan data, galur mikroba, dan kekayaan
intelektual yang bernilai. Pelatihan ini menunjukkan bahwa melindunginya bukan
hanya soal keamanan laboratorium, tetapi juga soal tata kelola data dan
kehati-hatian dalam memilih mitra kolaborasi,” ungkap Griselda Herman
Natadiputri, S.Si., M.Si., dosen di Prodi Teknologi Pangan dan Prodi Bioteknologi
sekaligus Kepala Laboratorium Biosains 2.
Setelah pelatihan, peserta mendapatkan pendampingan (mentorship) virtual dari para pakar untuk melakukan penilaian risiko institusi, menyusun atau menyempurnakan standar prosedur operasional (SOP), dan memperkuat mekanisme pengawasan. Melalui keikutsertaan ini, FBTI berharap dapat memperkuat tata kelola biosafety dan biosecurity di laboratoriumnya serta mendukung riset bioteknologi yang aman, bertanggung jawab, dan berdaya saing internasional.
