
JAKARTA – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya kembali menegaskan perannya sebagai ruang strategis bagi dialog kebijakan global berbasis akademik melalui penyelenggaraan forum “A Conversation with H.E. Ma. Theresa P. Lazaro, Secretary of Foreign Affairs of the Republic of the Philippines” yang berlangsung di Auditorium Yustinus, Kampus Semanggi (23/4). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Filipina di Jakarta, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dan Unika Atma Jaya, yang mengangkat diskusi publik bertajuk “Forging Ahead in Crisis: Indonesia–Philippines Relations, ASEAN Chairship, and Regional Resilience,” sebuah topik yang relevan di tengah dinamika global yang semakin kompleks dan berdampak langsung pada kawasan Asia Tenggara.

Kehadiran Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa P. Lazaro, disambut secara langsung oleh Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), di Hall Gedung Karol Wojtyla (KW) Lantai Dasar Kampus Semanggi. Penyambutan ini menjadi simbol penguatan hubungan antarnegara melalui jalur pendidikan tinggi, sekaligus mempertegas posisi perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam diplomasi kawasan. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah Filipina, korps diplomatik, akademisi, serta sivitas akademika yang menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu-isu global.
Acara ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Inovasi, Riset, Kolaborasi, dan Alumni Unika Atma Jaya, Yanti, Ph.D., menekankan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadapi kompleksitas global yang semakin tinggi, mulai dari krisis energi hingga ketidakpastian geopolitik. “Di Unika Atma Jaya, kami percaya bahwa komunitas akademik harus berada di garis depan diskusi ini. Melalui interaksi antara pembuat kebijakan dan generasi muda, kita dapat membangun kawasan yang lebih stabil,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan komitmen kampus dalam menjadikan pendidikan sebagai pilar utama dalam merespons tantangan global.

Pendiri dan Ketua FPCI, Dr. Dino Patti Djalan, dalam pidatonya menggarisbawahi pentingnya sentralisasi ASEAN, kohesi di antara sebelas negara anggota, serta visi ASEAN yang berpusat pada masyarakat. “Ketika kita berbicara tentang ASEAN yang berpusat pada masyarakat, kita harus memberikan ruang bagi warga untuk berinisiatif, berkomunikasi, dan menyuntikkan nilai-nilai yang bermakna bagi komunitas ini,” ujarnya.

Menteri Lazaro menilai dinamika global saat ini berkembang sangat cepat sehingga negara-negara di kawasan harus bersikap aktif terhadap gejolak yang terjadi. Ia menekankan bahwa ASEAN perlu mampu menyesuaikan diri agar tetap relevan di tengah perubahan tatanan dunia. “Saya pikir situasi geopolitik bergerak sangat cepat. Kita harus benar-benar bisa mengejarnya,” ucap Lazaro.
Menurut Lazaro, kekuatan ASEAN terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan dan tetap menjaga stabilitas kawasan. Ia menyebut organisasi ini telah bertahan hampir enam dekade dan tetap mampu menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. Ia menegaskan bahwa kerja sama regional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas. Selain itu, penguatan hukum internasional, khususnya melalui Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), dinilai penting untuk menjaga kedaulatan dan keamanan kawasan.
Dari perspektif akademik, pendidikan dipandang sebagai elemen kunci dalam memperkuat hubungan bilateral dan regional. Menteri Lazaro menegaskan bahwa “lembaga pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam proses hubungan bilateral.” Ia juga menyatakan bahwa universitas memainkan peran yang sangat penting dalam menjalin kolaborasi pendidikan tinggi. Hal ini memperkuat posisi perguruan tinggi dalam diplomasi pengetahuan lintas negara.
Pandangan akademik diperdalam dengan penekanan pada “kerentanan bersama terhadap volatilitas global,” sebagaimana disampaikan Dr. Atmaezer Simanjuntak. Ia menilai bahwa ketahanan kawasan tidak hanya bergantung pada koordinasi antarnegara, tetapi juga pada dampaknya bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan antara kesejahteraan dan perlindungan sosial. Krisis energi disebut sebagai contoh nyata dampak guncangan global terhadap ekonomi domestik.

Diskusi ini juga menegaskan bahwa krisis global mendorong ASEAN memperkuat koordinasi dalam isu strategis, seperti ketahanan energi dan pangan. Dalam konteks pendidikan, perguruan tinggi berperan sebagai ruang produksi gagasan dan peningkatan kesadaran generasi muda. Menteri Lazaro menekankan bahwa tantangan ke depan adalah meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap ASEAN. Hal ini penting di tengah perubahan geopolitik yang berlangsung cepat.
Melalui forum ini, Unika Atma Jaya menunjukkan komitmennya sebagai ruang dialog strategis yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan sekaligus penguatan kolaborasi lintas negara. Selain itu, forum ini mempertegas peran pendidikan tinggi dalam diplomasi regional. Kolaborasi berbasis akademik dinilai penting untuk membangun kawasan Asia Tenggara yang tangguh dan inklusif.
(BRI)