
Jakarta - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya melalui Program Studi Ilmu Komunikasi menyelenggarakan “GAIN COMPETITION 2026: Becoming Powerhuman in the Age of Generative AI” di Aula D Kampus Semanggi pada Selasa (30/06). Kegiatan ini mengajak generasi muda memahami pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara kreatif, etis, dan bertanggung jawab. Diinisiasi oleh mahasiswa program Studi Ilmu Komunikasi di bawah bimbingan program studi tersebut, kegiatan ini memadukan seminar dan kompetisi infografis berbasis Generative AI ini diikuti oleh siswa SMA/SMK dan mahasiswa.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Dr. phil. Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, Lisa menekankan pentingnya pemanfaatan AI secara etis dan bertanggung jawab. “Penggunaan AI menjadi salah satu keterampilan yang penting.Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakannya agar tetap maksimal dan bertanggung jawab. AI memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi hasil akhirnya tetap harus kita pahami, kita evaluasi, dan kita kembangkan sendiri,” jelasnya.
Seminar ini menghadirkan praktisi teknologi sekaligus penulis buku Becoming Powerhuman in the Age of Generative AI, Tyo Guritno, yang membahas peran manusia di tengah perkembangan Generative AI. Menurutnya AI diposisikan sebagai pendamping (co-pilot) yang membantu manusia mempercepat proses kerja, mulai dari riset, perencanaan, hingga simulasi risiko dan kemungkinan. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, termasuk dalam menentukan arah, mempertimbangkan aspek etika, dan mengambil keputusan.

"AI sangat berguna untuk melakukan riset dan mensimulasikan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi ketika kita mengambil keputusan. Namun, keputusan tetap harus ada di tangan kita," jelasnya.
Lebih lanjut, Tyo menjelaskan pentingnya penguasaan kompetensi di bidang masing-masing dalam pemanfaatan AI. Menurutnya, kemampuan menyusun prompt akan lebih optimal jika didukung oleh pengetahuan yang kuat sehingga pengguna mampu mengevaluasi akurasi dan kualitas informasi yang diberikan oleh AI.
"Every single role, we need to be expert. Tanpa keahlian dasar, kita tidak akan mampu menilai apakah hasil yang diberikan AI sudah benar atau justru menyesatkan," jelasnya.
Sementara itu, moderator sekaligus dosen Program Studi ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Paskalia S.I.Kom., M.Si, mengajak peserta merefleksikan posisi manusia di tengah arus perkembangan AI global. "Ketika mesin menjadi semakin cerdas, haruskah kita sebagai manusia menjadi pesaingnya?" ujar Paskalia.
Pertanyaan tersebut menjadi pengantar diskusi mengenai pemanfaatan AI yang tidak perlu dipandang sebagai ancaman, melainkan teknologi yang membantu pekerjaan manusia dalam meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan inovasi tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis serta nilai kemanusiaan.

Selain seminar, GAIN Competition 2026 juga menghadirkan kompetisi infografis berbasis Generative AI bagi siswa SMA/SMK. Kompetisi ini menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan komunikasi visual, serta penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab di era digital.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Komunikasi berharap generasi muda semakin memahami pemanfaatan AI dalam mendukung proses belajar, berkarya, dan berinovasi. Peserta juga diharapkan mampu memanfaatkan AI secara etis, kritis, dan bertanggung jawab tanpa mengabaikan kreativitas serta nilai-nilai kemanusiaan.
(CHA)