Menghadapi Dinamika Zaman, FP UAJ dan APPI Bahas Masa Depan Psikologi Pendidikan Indonesia

6/3/2026 12:00:00 AM


Jakarta – Perkembangan zaman terus menggerakkan berbagai bidang untuk beradaptasi, termasuk di bidang psikologi pendidikan yang dituntut untuk tetap relevan dan menghadirkan praktik nyata. Merespons tuntutan ini, Fakultas Psikologi (FP) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) berkolaborasi dengan Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk "Masa Depan Psikologi Pendidikan: Mau ke Mana?" pada Jumat (22/5) di Gedung Y14, Kampus Semanggi. 

Kegiatan ini sekaligus menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APPI sebagai forum ilmiah dan diskusi akademik yang mempertemukan para akademisi, psikolog, praktisi pendidikan, hingga mahasiswa. APPI merupakan organisasi profesi di bawah naungan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang menjadi wadah bagi para psikolog dan ilmuwan dengan fokus pada pengembangan serta penerapan ilmu psikologi di bidang pendidikan. 

Dalam sambutannya, Wakil Dekan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Dr. Yapina Widyawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan pentingnya pendampingan generasi muda dalam psikologi pendidikan. ”Kalau bicara masa depan psikologi pendidikan, kita bicara tentang bagaimana mendampingi generasi yang tumbuh di dunia yang berbeda dengan kebutuhan, tantangan, dan cara belajar yang terus berubah,” ujarnya. Ia berharap psikologi pendidikan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan hadir nyata dalam praktik pendidikan sehari-hari.


Senada dengan hal tersebut, Ketua APPI Pusat, Dr. Weny Savitry S. Pandia, M.Si., Psikolog, menyambut kegiatan ini dengan harapan. ”Acara hari ini merupakan kesempatan langka karena dapat mendengar langsung dari para ahli. Semoga melalui acara ini kita semakin tercerahkan dan dapat banyak belajar serta melanjutkan berpikir kritis,” ucapnya. 


Memasuki sesi pemaparan, narasumber pertama, Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong Siahaan, M.Ed., Psikolog, membuka pemaparannya dengan menekankan bahwa psikologi pendidikan tidak dapat dipersempit hanya pada lingkup sekolah formal. Ia menjelaskan bahwa ruang lingkup psikologi pendidikan sangat luas dan mencakup proses belajar yang berlangsung di mana pun baik keluarga, komunitas, hingga ruang digital. 

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan yang kian meluas, namun belum selalu diiringi pemahaman kritis mengenai dampak dan penggunaannya. Hal ini terlihat saat Frieda berkunjung ke sebuah sekolah untuk membahas penggunaan Artificial Intelligence (AI), dalam prosesnya seorang siswa SMA mengaku AI membuatnya merasa bodoh, “Saya sebenarnya merasa bersalah, saya melihat saya jadi semakin bodoh. Saya tidak kritis lagi karena apa-apa mudah dijawab, saya tidak ikut berpikir lagi,” ujarnya. 


Di sisi lain, narasumber kedua, Dr. Margaretha Purwanti, M.Si., Psikolog, menyoroti bahwa psikolog dalam sistem pendidikan seharusnya tidak hanya berperan sebagai “pemadam kebakaran” yang hadir ketika masalah muncul. Ia menjelaskan bahwa kontribusi psikologi pendidikan dapat dilihat melalui tiga lensa, yaitu lensa mikro pada individu yang belajar, lensa meso pada lingkungan dan interaksi di sekolah, serta lensa makro pada tingkat sistem dan kebijakan. Sebagai contoh langkah di level makro, ia menceritakan audiensi APPI dengan Komisi X DPR RI terkait usulan penguatan peran psikolog dan praktisi psikologi dalam sistem pendidikan nasional, seiring pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Menurutnya, masukan tersebut mendapat respons terbuka dari para anggota dewan.


Menutup sesi pemaparan, Dr. Desy Ratnasari, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, membawa perspektif kebijakan publik ke dalam diskusi. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan yang berdampak pada masyarakat lahir dari ruang politik, sehingga penting bagi psikolog untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan para pembuat kebijakan. “Kenalan dengan pembuat kebijakan, jangan cuma sekali, lanjutkan berkali-kali,” tegasnya. Ia juga mendorong APPI untuk terlibat aktif agar perspektif psikologi pendidikan semakin hadir dalam pembahasan kebijakan nasional.


Seminar ini menjadi ruang refleksi untuk meninjau kembali kontribusi psikologi pendidikan sejauh ini, sekaligus merumuskan arah pengembangan ke depan. Dengan mempertemukan perspektif akademik, praktik, dan kebijakan dalam satu forum, FP UAJ dan APPI menegaskan komitmen bersama untuk memastikan psikologi pendidikan terus berkembang, tetap relevan serta berkontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

(STV)