
Jakarta - Menempuh pendidikan di satu universitas dari jenjang sarjana hingga doktoral tentu menjadi perjalanan yang tidak mudah. Hal tersebut berhasil dijalani oleh Desy Ratnasari, alumni Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya yang menyelesaikan seluruh pendidikannya di kampus tersebut, mulai dari S1 hingga S3.
Desy menempuh pendidikan S1 di Program Studi (Prodi) Psikologi, kemudian melanjutkan studi S2 di Prodi Magister Psikologi Profesi, hingga akhirnya menyelesaikan Program Doktor Psikologi. Ia diketahui lulus program doktor pada semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Kini, Desy juga aktif sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029.
Menurut Desy, alasan utama dirinya tetap memilih Unika Atma Jaya sebagai tempat menimba ilmu adalah karena kenyamanan yang ia rasakan selama berkuliah. Lingkungan belajar yang suportif, budaya kampus yang terbuka, serta hubungan baik dengan dosen menjadi faktor penting yang membuatnya bertahan hingga jenjang doktoral.
“Yang paling utama tentu kenyamanan. Budaya di Unika Atma Jaya membuat saya nyaman menjadi mahasiswanya,” ujarnya.
Tak hanya itu, dukungan para dosen juga menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi Desy selama berkuliah. Ia merasa para dosen memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang dan percaya terhadap potensi yang dimiliki setiap individu tanpa memandang latar belakang pribadi maupun profesi.
Saat pertama kali menjalani perkuliahan S1, Desy masih aktif di dunia hiburan sebagai seorang artis. Namun menurutnya, para dosen di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya tidak pernah memperlakukan dirinya secara berbeda.
“Unika Atma Jaya sama sekali tidak berpikir tentang siapa saya pada saat itu, tapi hanya melihat saya sebagai mahasiswa,” ungkapnya.

Hubungan dekat antara mahasiswa dan dosen juga menjadi hal yang sangat membekas bagi Desy. Hingga saat ini, ia masih menjalin komunikasi baik dengan para dosennya sejak S1 hingga S3.
“Relasi dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen itu sangat berkesan menurut saya,” katanya.
Selain pembelajaran akademik, Desy juga merasa Unika Atma Jaya memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya memahami dan menghargai keberagaman. Menurutnya, nilai toleransi di kampus tidak hanya berbicara mengenai agama, tetapi juga keragaman budaya dan suku bangsa.
“Yang paling penting adalah belajar memahami dan menghargai diversity,” jelasnya.
Dalam proses pembelajaran, Desy menilai praktik langsung di masyarakat menjadi salah satu metode yang paling berpengaruh bagi perkembangan dirinya. Ia mengatakan bahwa teori yang dipelajari di kelas harus didukung dengan praktik agar mahasiswa mampu memahami penerapan ilmu secara nyata.
“Di semua level, S1, S2, sampai S3, semuanya harus praktik dan turun langsung ke masyarakat,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Desy turut membagikan pesan kepada calon mahasiswa yang masih bingung menentukan pilihan kampus. Menurutnya, Unika Atma Jaya dapat menjadi salah satu pilihan karena memiliki lingkungan belajar yang nyaman, dosen yang suportif, serta lokasi kampus yang strategis dan mudah diakses transportasi publik.
“Selain akses yang strategis, dosen-dosennya dan lingkungan belajarnya sangat mendukung dan nyaman. Menurut saya Atma Jaya bisa menjadi salah satu pilihan,” pungkasnya.
(DEL)