Ambassador Talk Show Unika Atma Jaya Soroti Kepemimpinan Perempuan di Tengah Tantangan Dunia Kerja

5/22/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Di tengah dunia kerja yang semakin dinamis dan kompetitif, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam membangun karier dan mengambil peran kepemimpinan. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan sosial juga membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang, berani mengambil kesempatan, dan menunjukkan kapasitas kepemimpinannya.


Isu tersebut dibahas dalam kegiatan Ambassador Talk Show: Women and Leadership yang diselenggarakan International Office Unika Atma Jaya (UAJ) di Gedung Yustinus, Lantai 14, Kampus Semanggi, (13/5).


Pada kesempatan ini, Sekretaris Universitas UAJ, apt. Sherly Tandi Arrang, M.Farm-Klin., menyampaikan bahwa perempuan selama ini telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan, ketangguhan, serta pengambilan keputusan di berbagai sektor. "Saya berharap diskusi ini dapat mendorong kolaborasi, menginspirasi pemimpin masa depan, serta memperkuat peran perempuan dalam menciptakan perubahan positif bagi masyarakat,” ujarnya.




Talk show ini menghadirkan Ambassador of Ireland to Indonesia, H.E. Sharon Lennon, lalu Group Chief Information Officer Coca Cola Bottling Investments Group, Debbie Nova, serta Dosen FBIS UAJ, Prof. Rosdiana Sijabat, S.E., M.Si., Ph.D sebagai pembicara yang membagikan pengalaman dan refleksi mereka mengenai perjalanan karier, tantangan kepemimpinan, hingga peran perempuan dalam menghadapi perubahan dunia kerja dan sosial yang terus berkembang.


Dalam sesi diskusi, Debbie membagikan cerita tentang awal perjalanannya di dunia teknologi. Ia mengaku tidak pernah bercita-cita bekerja di bidang IT sejak kecil. Kesempatan itu datang ketika dirinya mulai terlibat langsung dalam operasional bisnis, mulai dari pabrik manufaktur, pusat distribusi, hingga daerah-daerah terpencil di Indonesia.


Ia bahkan harus turun langsung ke lapangan, naik motor menuju gudang di wilayah terpencil, hingga mengunjungi pabrik tanpa pendingin ruangan. Dari pengalaman tersebut, Debbie mulai melihat bagaimana teknologi bisa menjadi ruang untuk terus belajar dan berkembang. “Teknologi menjadi platform untuk terus belajar, menciptakan hal baru, dan memberi kontribusi secara bermakna,” ungkapnya.




Menurut Debbie, perjalanan karier tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang pernah ia hadapi adalah ketika keluarganya harus tinggal terpisah di beberapa negara berbeda karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan. Meski demikian, teknologi justru membantu keluarganya tetap terhubung, mulai dari menonton film bersama secara daring hingga mengikuti misa online bersama setiap minggunya.

Debbie juga mengajak para young leaders untuk tidak terlalu nyaman dengan status quo. “Behind every person sitting in a leadership position today, there was someone who gave them their first opportunity — someone who trusted them before they fully proved themselves,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Rosdiana membagikan sosok perempuan yang menjadi inspirasinya dalam dunia ekonomi dan kepemimpinan. Salah satunya adalah mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang dinilai berhasil membawa Inggris keluar dari krisis ekonomi melalui berbagai kebijakan strategis.




Selain Thatcher, ia juga menyoroti Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati sebagai figur perempuan yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan global, mulai dari pandemi COVID-19 hingga kondisi geopolitik dunia.


Rosdiana menilai pengetahuan tidak hanya penting untuk diri sendiri, tetapi juga harus mampu memberi dampak bagi masyarakat luas. “Knowledge akan lebih berarti ketika bisa digunakan untuk bangsa dan masyarakat,” ungkapnya.


Di sisi lain, Sharon membagikan perjalanan hidupnya hingga akhirnya menjadi diplomat Irlandia. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh di masa ketika kondisi ekonomi Irlandia sedang sulit. Ketertarikannya terhadap dunia internasional muncul dari rasa ingin tahu yang besar sejak kecil dan kebiasaan berdiskusi dengan kakeknya mengenai isu-isu global.




Sharon juga bercerita bahwa dirinya sempat tidak berhasil saat pertama kali mengikuti ujian diplomat. Namun kegagalan tersebut justru menjadi pengalaman yang membantunya belajar dan mempersiapkan diri lebih baik. “Failure is not the end of the story. Itu bagian dari proses,” tuturnya.


Karena itu, Sharon menilai perempuan perlu berani menetapkan batas, menyesuaikan ekspektasi terhadap diri sendiri, dan memahami bahwa tidak semua peluang harus selalu diambil.


Melalui talk show ini, para pembicara sama-sama menekankan bahwa perjalanan karier perempuan tidak selalu berjalan lurus. Namun keberanian mencoba, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting untuk bertahan dan berkembang di berbagai bidang.


(DEL)