
Jakarta - Perjalanan membangun festival musik dari komunitas kampus hingga menjadi salah satu festival terbesar di Indonesia menjadi topik utama dalam talk show kolaborasi A-Radio dan The Sounds Project yang digelar di Kampus Semanggi Unika Atma Jaya, Senin (25/5). Pada kegiatan ini, Founder dan CEO The Sounds Project, Gerhana Banyu Biru atau akrab disapa Ghana, membagikan pengalaman mengenai proses panjang membangun festival musik secara bertahap selama lebih dari satu dekade.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Kemahasiswaan Fakultas Bisnis, Inovasi, dan Sosial (FBIS) Unika Atma Jaya, Dr. Satria Fajar Kusuma Mahardika, S.Sos., M.Si., menilai The Sounds Project menjadi contoh nyata bagaimana ide sederhana yang dimulai dari komunitas dapat berkembang menjadi festival musik berskala besar. “Keberhasilan dibangun melalui proses panjang, konsistensi, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas dalam membaca kebutuhan audiens,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Dr.phil. Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa perjalanan The Sounds Project menjadi bukti bahwa kegiatan kampus dapat berkembang menjadi industri kreatif yang besar. “Karena itu, mahasiswa perlu mulai aktif membangun pengalaman dan profesionalisme sejak masa perkuliahan. Siapa tahu dari mahasiswa yang aktif sekarang bisa menjadi Ghana berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Acara, Yohana Aprilia, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran dan inspirasi bagi mahasiswa untuk lebih berani berkarya dan mengembangkan ide. “Melalui sesi ini, peserta tidak hanya diajak memahami bagaimana sebuah event besar dibangun, tetapi juga belajar tentang proses, tantangan, konsistensi, dan keberanian untuk memulai dari hal kecil hingga berkembang menjadi sesuatu yang besar dan impactful,” ujarnya.

Dalam sesi talk show, Ghana menjelaskan bahwa The Sounds Project pertama kali dimulai sebagai acara kampus sederhana di Universitas Gunadarma pada 2015 dengan satu panggung dan sekitar 2.000 penonton. Seiring waktu, festival tersebut berkembang secara bertahap hingga kini mampu menghadirkan puluhan ribu pengunjung dan ratusan musisi lokal maupun internasional setiap tahunnya.
“Sesuatu yang besar itu pasti awalnya langkahnya kecil. Semua harus by process,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa industri event dan festival tidak hanya berbicara mengenai teknis pelaksanaan, tetapi juga kemampuan bertahan, kreativitas, dan penyelesaian masalah.

Menurutnya, tantangan seperti keterlambatan artis, cuaca buruk, hingga kendala penonton merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia event management. “Kuncinya event management itu problem solving,” katanya.
Selain itu, Ghana juga menyoroti pentingnya membangun koneksi emosional dengan audiens dalam industri kreatif. Ia menilai festival musik bukan sekadar hiburan, tetapi ruang untuk menciptakan pengalaman dan hubungan antarmanusia. “It’s all about human connection,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk berani memulai dari hal kecil, konsisten menjalani proses, serta tidak takut mengembangkan minat dan kreativitas di bidang yang disukai. Talk show ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai peluang dan tantangan di industri kreatif, khususnya dunia event dan musik di Indonesia.
(DEL)