
Pengalaman belajar di lingkungan berbeda membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif akademik dan personal. Hal ini dirasakan Jan J. Hopman dan Noor M. Koning, dua dari 8 mahasiswa kedokteran Leiden University Medical Center (LUMC), Belanda, yang mengikuti Half-Minor Program di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya (UAJ).
Berkolaborasi sejak 2024, program ini merupakan bagian dari pendidikan formal mahasiswa LUMC melalui skema outbound. Pada 5–31 Oktober 2026, program mengangkat tema Infections in Health and Disease, dengan penelitian mengenai hubungan infeksi parasit usus, khususnya soil-transmitted helminths (STH), dengan respons imun dan alergi. Program HM menawarkan pengalaman penelitian lapangan di berbagai area di Indonesia, baik area urban maupun rural dan area-area transisi lainnya yang menjadi mitra penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Tim Studi Infeksi FKIK UAJ.
Mengenal Pendekatan Pembelajaran di Lingkungan Internasional
Jan mengikuti program ini karena ingin belajar di negara lain sekaligus terlibat dalam penelitian lapangan di Pulau Sumba. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kegiatan akademik dapat dijalankan melalui pendekatan yang berbeda.
“Awalnya, perbedaan cara mengatur waktu dan menjalankan kegiatan akademik cukup menantang, tetapi menarik untuk melihat bahwa semuanya tetap bisa berjalan dengan baik. Saya belajar bahwa ada berbagai cara untuk menyelesaikan pekerjaan, dan kita tidak harus selalu melakukannya dengan cara yang sama,” ungkap Jan.
Sementara itu, Noor tertarik mengikuti program ini untuk mendalami penyakit infeksi sekaligus mengenal budaya di luar Eropa, yang juga menjadi pengalaman pertamanya belajar di lingkungan dengan budaya dan pendekatan pembelajaran yang berbeda dari yang biasa ia temui di LUMC. “Di LUMC, saya terbiasa dengan kegiatan yang terstruktur dan berorientasi pada efisiensi waktu. Di sini, saya mendapat kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan pendekatan berbeda yang memberi saya lebih banyak waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan berbagai hal dari perspektif lain,” tuturnya.
Menggali Isu Kesehatan melalui Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan berlangsung di Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya. Mahasiswa terlibat dalam pengumpulan data melalui pengukuran tinggi dan berat badan, kuesioner kesehatan, skin-prick test (SPT) untuk menguji sensitisasi terhadap house dust mite (HDM) dan bee venom, serta pengambilan sampel darah melalui metode finger-prick. Sebelumnya, mereka mengikuti pelatihan untuk memahami prosedur dan protokol penelitian.

Mahasiswa kemudian melakukan praktik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) di Laboratorium Gedung Damianus, FKIK Unika Atma Jaya, untuk mengukur respons imun dan penanda inflamasi. Hasil penelitian menjadi dasar penyusunan laporan dan presentasi akhir. Mereka juga mengunjungi Rumah Sakit Atma Jaya, Klinik Atma Jaya, dan Museum Anatomi FKIK Unika Atma Jaya untuk mengenal lingkungan pelayanan kesehatan dan fasilitas pembelajaran kedokteran.
Belajar dan Bertumbuh melalui Pengalaman Lintas Budaya
Bagi Noor, tinggal di lingkungan dengan bahasa dan budaya berbeda menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan mengenal kehidupan masyarakat di luar pengalaman sehari-harinya.
“Hal paling berharga yang saya pelajari adalah kemandirian. Meskipun sudah terbiasa tinggal sendiri di Leiden, tinggal di negara dengan bahasa, budaya, dan lingkungan sosial yang berbeda memberi saya pengalaman baru. Saya juga belajar banyak tentang kehidupan masyarakat yang sebelumnya belum pernah saya temui,” tuturnya.

Jan juga merasakan tantangan saat harus keluar dari zona nyaman. Namun, dukungan orang-orang yang ditemuinya membantu ia beradaptasi dan menikmati pengalaman tersebut.
“Awalnya, saya sempat skeptis ketika mendengar bahwa program ini akan membawa saya keluar dari zona nyaman. Namun, setelah menjalaninya, saya merasakan sendiri tantangannya dan menyadari bahwa ada banyak orang yang siap membantu. Bertemu orang-orang baru dan menjalani pengalaman di negara yang sangat berbeda dari negara asal saya sungguh luar biasa,” ungkap Jan.
Keduanya merekomendasikan Half-Minor Program kepada mahasiswa lain yang ingin memperluas pengalaman akademik, terlibat dalam penelitian, dan mengenal budaya baru. Melalui Half-Minor Program, kolaborasi FKIK Unika Atma Jaya dan LUMC, kesempatan belajar lintas negara bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membantu membangun kemandirian dan memahami perspektif yang berbeda.
(THE)