
Jakarta – Teknologi dan Artificial Intelligence (AI) terus berkembang di dunia industri sehingga mesin modern dapat mengerjakan tugas teknis yang biasanya membutuhkan tenaga manusia. Isu ini memunculkan pertanyaan, apakah pendidikan vokasi masih relevan di zaman yang serba otomatis ini? Hal inilah yang menjadi pembahasan dari Sharing Session “The Future of Higher Education in Indonesia”.
Acara berlangsung pada Selasa (4/8) di Gedung Yustinus Lantai 13, Kampus Semanggi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ). Kegiatan dihadiri oleh Yayasan Atma Jaya dan jajaran pimpinan UAJ. Forum ini mengundang Direktur Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, Dr. Ir. Andreas Sugijopranoto SJ, M.Sc., IPM., yang membagikan pengalaman institusinya dalam mengelola pendidikan vokasi selama lebih dari lima dekade.
Mengutip dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, pendidikan vokasi merupakan jenis pendidikan yang dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan teknis yang aplikatif sehingga lulusan dapat langsung bekerja dengan kompetensi yang dibutuhkan industri. Artinya, peserta didik akan merasakan praktik nyata di lapangan ketimbang pembelajaran teoritis di kelas.
Politeknik ATMI Surakarta bermula dari Akademi Teknik Mesin Industri yang didirikan Ordo Serikat Yesus pada 1968 di Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah ini berfokus untuk menjadi pusat unggulan pendidikan vokasi yang inovatif dan adaptif. Bersama pendidikan vokasinya, ATMI berhasil membentuk lulusan yang siap kerja, hal ini terlihat dari penjelasan Romo Andre yang menyebutkan bahwa separuh lulusan ATMI setiap tahun sudah mendapat pekerjaan saat di wisuda, dan seluruhnya terserap industri dalam waktu tiga bulan setelah lulus.

Dalam pemaparannya, Romo Andre menjelaskan bahwa sistem pendidikan ATMI membagi sepertiga waktu pendidikan untuk porsi teori dan dua sepertiga waktu sisanya digunakan untuk praktik langsung dengan mengerjakan pesanan nyata dari industri. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi vokasi memiliki karakter berbeda dari perguruan tinggi akademik karena berfokus pada kompetensi yang dibutuhkan industri. ”Kompetensi yang dibutuhkan industri harus dimiliki semua lulusan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Romo Andre menambahkan bahwa mahasiswanya melakukan praktik langsung pada mesin agar memperoleh pengalaman operasional. Selain itu, ATMI memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi yang menguji dan memberikan sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi kepada setiap mahasiswa yang lulus. ”Wajah sekolah tercermin dari lulusannya,” katanya.
Memasuki sesi tanya jawab, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Sumber Daya Manusia, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si., menyampaikan kekagumannya terhadap penjelasan Romo Andre sekaligus mempertanyakan sejauh mana pendidikan vokasi masih relevan di tengah otomatisasi. Menjawab hal tersebut, Romo Andre menegaskan bahwa otomatisasi tidak menghilangkan kebutuhan akan manusia yang memahami proses produksi secara utuh, karena mesin tetap membutuhkan intervensi manusia untuk mengambil keputusan dan menjalankan proses kerja.

Pengalaman ATMI memberikan wawasan baru yang menjadi bahan pertimbangan UAJ dalam mengembangkan program studi ke depan. Sharing session ini juga menjadi bagian dari upaya Yayasan Atma Jaya untuk memperkuat kesiapan organisasi dalam menghadapi transformasi pendidikan tinggi, kemajuan teknologi, dan perubahan kebutuhan dunia kerja, sekaligus merumuskan langkah-langkah pengembangan institusi dari berbagai aspek. Pada akhirnya, pengalaman ATMI menunjukkan bahwa di tengah otomatisasi sekalipun, pendidikan vokasi tetap relevan selama terus beradaptasi dan menjaga kedekatannya dengan kebutuhan industri.
(STV)