Inovasi Teknologi Pembelajaran LIPP Unika Atma Jaya pada Kamis, 16 Juli 2026 memberangkatkan 3 personilnya menghadiri acara yang diadakan oleh Pointstar dengan tema, Kelas Inovasi: Mewujudkan Pembelajaran yang Lebih Efektif dan Adaptif dengan AI dan Teknologi Digital. Pointstar merupakan perusahaan penyedia solusi teknologi dan konsultasi IT. Acara dilaksanakan pada Kamis, 16 Juli 2026 di PointStar Jakarta - Sampoerna Strategic Square, South Tower 16th Floor. Dwi Adi, Cloud Education Facilitator - PointStar Indonesia memberikan fokus perhatian pada ketidaktahuan adalah penghambat Produktivitas. Pesan ini menjadi benang merah yang mengingatkan bahwa hambatan terbesar dalam mengadopsi teknologi bukanlah keterbatasan alat, melainkan kurangnya pemahaman dan kesadaran. Pemahaman dan kesadaran ini terimplementasi pada munculnya data mahasiswa pengguna AI (85%) untuk menyelesaikan tugas kuliah dan pemecahan topik rumit dan bagi dosen/pengajar sebesar 81% untuk memahami topik baru dan menghemat waktu kerja.

Cobalah mengambil jarak pada diri sendiri atau dalam
bahasa lain self-detachment. Mengambil jarak bukan berarti tidak peduli, acuh,
atau menarik diri dari tanggung jawab. Justru sebaliknya, ini adalah mendorong
kemampuan Anda untuk menjadi pengamat atas diri sendiri—seolah-olah Anda
sedang menonton film tentang diri Anda sendiri saat berada di tengah-tengah
badai masalah.
Dalam psikologi organisasi, self-detachment sering
dikaitkan dengan metacognition (kesadaran berpikir) dan emotional
regulation dengan memperhatikan 3 lapis jarak atau "pelepasan"
yaitu memisahkan ego dari identitas pekerjaan yang akan membantu memahami
sebuah kegagalan yang mungkin terjadi dalam proyek kerja tidak serta merta
menjadi kegagalan harga diri Anda. Kedua memisahkan emosi dari fakta. Emosi
(marah, panik, kecewa) adalah alarm, bukan peta. Self-detachment memungkinkan
Anda mendengar alarm tanpa berlari kacau, lalu melihat peta untuk mencari jalan
keluar yang rasional, dan ketiga memisahkan "sekarang" dari
"dampak jangka panjang" disini dimaknai sebagai melepaskan diri dari
rasa urgensi yang berlebihan untuk melihat apakah masalah ini akan berarti
dalam 6 bulan ke depan.
Kita bisa gunakan self-detachment untuk memposisikan diri kita pada dunia kerja saat ini. Jika kita memposisikan dalam konteks sebagai bagian dari institusi pendidikan, jika sudah menemukan apa dan bagaimana dunia kerja saat ini, apa yang kita persiapkan bagi mahasiswa kita, bagi anak anak kita? Mengambil sumber dari Google & Ipsos Survey Data di tahun 2025, dunia kerja saat ini telah berubah secara fundamental. Berikutnya sumber dari World Economic Forum pada 2025, prioritas beralih dari IPK ke bukti nyata. Perusahaan lebih memprioritaskan microcredentials, digital badges, dan portofolio daripada sekadar nilai IPK (GPA). Sumber PwC Global AI Jobs Barometer tahun 2026, kombinasi keahlian menjadi prioritas, dan perusahaan global bersedia membayar harga mahal untuk tenaga kerja dengan kombinasi: AI Proficiency (keahlian AI) dan Human-centric Skills (kepemimpinan, EQ, negosiasi, pemikiran strategis).

Sebuah paradigma baru muncul dan berkembang saat ini
yaitu paradigma bahwa AI bertindak sebagai mitra pengajar. Artificial
Intelligence seharusnya bertindak sebagai mitra pengajar (co-orchestration)
dalam kegiatan belajar mengajar—bukan pengganti, melainkan kolaborator yang
memperkaya proses pembelajaran. Perubahan paradigma ini mengingatkan pada
pelatihan 7 habits training yang diberikan oleh Dunamis Intermaster. Mengapa
"Change Your Paradigm" begitu penting? Pesan utamanya adalah dalam cara
kita melihat masalah (paradigma) seringkali adalah masalah itu sendiri. Covey
berpendapat bahwa untuk menghasilkan perubahan yang signifikan, kita tidak bisa
hanya mengubah perilaku atau sikap di permukaan. Dia membuat perbedaan yang
sangat penting dimana perubahan kecil (Incremental) cukup dengan
mengubah sikap atau perilaku sedangkan perubahan besar (Quantum/Massive
Growth) harus dimulai dengan mengubah paradigma atau peta
mental kita. Mengubah paradigma adalah "momen Aha!" yaitu
moment dimana kita melihat sesuatu dengan cara yang benar-benar baru.
Pada sisi yang lain, ada tantangan terbesar pada
berkembangnya Ai yaitu kemalasan metakognitif. Apa itu kemalasan metakognitif?
Kelancaran jawaban AI menciptakan ilusi kompetensi dimana seseorang merasa
sudah sangat memahami topik atau mampu mengerjakan suatu tugas padahal
sebenarnya yang terjadi adalah AI lah yang mengerjakan pekerjaan kognitif berat
yang memicu "kemalasan metakognitif" (metacognitive laziness), di
mana mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada AI, mengabaikan proses berpikir
kritis (diagnosis, evaluasi dan iterasi mandiri yang secara sederhana dipahami
sebagai pengulangan langkah atau proses secara bertahap untuk mencapai
perbaikan), peningkatan kepercayaan diri terhadap AI berbanding lurus dengan
penurunan usaha kognitif dan pada akhirnya hilangnya kemandirian belajar.
Sebagai upaya menuju sekolah masa depan, solusi yang ditawarkan adalah pergeseran dari Fast AI ke Slow AI. Jika fast AI mencari jawaban instan, memicu kemalasan metakognitif, hasil instan tanpa proses, siswa sebagai konsumen pasif, maka slow AI mengubah pendekatan berbasis RAG (Retrieval-Augmented Generation), mencegah cognitive offloading, mewajibkan pencarian literatur valid secara mandiri, dan yang terakhir ini menarik dimana mahasiswa sebagai kurator pengetahuan aktif.