Menyongsong Revolusi AI dalam Pendidikan Tinggi


Sebuah pertanyaan meluncur ke audience, “Butuh waktu berapa lama pesawat terbang memperoleh 50 juta pengguna atau 50 juta penumpang pertamanya?” Sebuah pertanyaan dalam konteks pengetahuan umum dimana diperlukan informasi data yang tepat untuk menjawabnya. “68 tahun yang dibutuhkan pesawat terbang untuk memperoleh 50 juta pengguna.” Demikian bro Pandu dari point star menyampaikan, hingga sampai pada pertanyaan terakhir, “Butuh waktu berapa lama AI memperoleh 50 juta pengguna pertamanya?” dan jawabannya adalah 5 minggu. Dua teknologi yang dijadikan contoh tersebut seolah menjadi perbandingan yang sangat jauh berbeda mengenai waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh 50 juta pengguna. Teknologi pesawat terbang dan Teknologi AI memang bukan “apple to apple” untuk dibandingkan karena kedua sifat teknologinya yang berbeda. Pesawat terbang merupakan teknologi yang bersifat fisik, kompleks, dan memerlukan rekayasa material yang berat sedangkan AI secara fisik tidak. AI merupakan produk digital yang berbasis perangkat lunak dan mudah untuk direplikasi. Perbandingan ini hanya ingin menunjukkan betapa massifnya penetrasi teknologi AI ke user atau penggunanya.


Jika dieksplorasi lebih lanjut, geseken fisik dalam teknologi AI nyaris nol. Bandingkan dengan upaya penumpang untuk naik pesawat: mengemas barang, pergi ke bandara, macet, melewati pemeriksaan keamanan, membayar tiket, kemudian duduk di kursi selama berjam-jam. Dengan teknologi AI hanya butuh buka browser di laptop atau buka aplikasi di smart phone, klik dan langsung dapat hasil.


Bro Pandu dan tim fasilitator yang lainnya memfasilitasi acara bertajuk Kelas Inovasi: Mewujudkan Pembelajaran yang Lebih Efektif dan Adaptif dengan AI dan Teknologi Digital yang diadakan oleh PoinStar, sebuah perusahaan penyedia solusi teknologi dan konsultasi IT untuk memperkenalkan produk Google Workspace. Acara dilaksanakan pada Kamis, 16 Juli 2026 di PointStar Jakarta - Sampoerna Strategic Square, South Tower 16th Floor.


Nathanael Sibarani, GM Pointstar dalam sambutannya memberikan contoh bagaimana AI membantu siswa menemukan jurusan pilihannya di sebuah universitas. AI ditempatkan untuk menjawab pertanyaan dengan berbagai bahasa. Nathanael mencontohkan dengan bahasa Indonesia, Inggris dan Korea. “AI bukan untuk menggantikan manusia tapi untuk meningkatkan manusia dalam berpikir kreatif dan untuk lebih kreatif.











Ibu Dian Rusdiana, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Prestasi LLDIKTI III menyampaikan bahwa pasca pandemi kita seakan dipaksa untuk beradaptasi secara radikal, seolah tidak ada ruang untuk berjalan santai bahkan lambat. Gelombang baru yang bernama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence ditanggapi secara variatif oleh Perguruan Tinggi. Ada kampus yang sangat adaptif dengan langsung menyusun pedoman etika untuk penggunaan AI bagi mahasiswa, namun juga tidak sedikit yang defensif dan menganggap AI ini sebagai ancaman plagiarism. Bu Dian melanjutkan bahwa pada kenyataannya, teknologi Ai ini sudah ada di genggaman mahasiswa. Dengan demikian mengarahkan untuk memanfaatkan dengan efektif dan adaptif menjadi lebih tepat ketimbang melarang atau bahkan memblokirnya.  Beberapa universitas menyambutnya dengan menawarkan program studi sesuai namanya yaitu Prodi Kecerdasan Buatan, selanjutnya sebagai sebuah keniscayaan dan juga amanat undang-undang yaitu Tridharma perguruan tinggi maka Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian kepada Masyarakat secara khusus pada keilmuan Kecerdasan Buatan akan mengiringi.


Mengelola institusi pendidikan tentu bukan hal yang sederhana. Masalah administratif serasa sudah menjadi beban keseharian. Selanjutnya juga pelaporan ke pangkalan data DIKTI, kemudian akreditasi, hingga manajemen sumber daya yang tentu menyita waktu. Belum lagi tuntutan akreditasi yang menuntut dokumen dan bukti kinerja yang lengkap, serta manajemen sumber daya yang harus menjamin semua elemen kampus bergerak selaras.


Menghadapi kompleksitas ini, institusi pendidikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan tenaga administrasi manual atau sistem yang terpisah-pisah. Dibutuhkan sebuah ekosistem sumber daya yang terintegrasi, meliputi Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten, sistem dan teknologi informasi yang andal, serta tata kelola data dan regulasi yang dinamis.


Pointstar sebagai authorized Google Education Partner memfasilitasi untuk menjelaskan pemanfaatan ekosistem Google Workspace for Education, serta optimalisasi perangkat Chromebook berbasis Chrome OS. Google Workspace for Education adalah rangkaian alat bantu berbasis awan (cloud) untuk sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan guna mendukung kegiatan belajar, mengajar, serta kolaborasi. Fitur dan layanan utama yang diberikan adalah aplikasi kolaborasi: Gmail, Google Drive, Google Docs, Sheets, dan Slides. Berikutnya manajemen kelas dengan Google Classroom untuk membuat dan mengelola tugas dan dalam Komunikasi Online menggunakan Google Meet dengan kapasitas rapat video yang lebih besar. Pilihan edisi yang tersedia adalah edisi Education Fundamentals berupa versi dasar gratis untuk lembaga yang memenuhi syarat. Kedua edisi berbayar (Standard, Teaching and Learning Upgrade, Education Plus): menawarkan fitur keamanan tingkat lanjut, analisis data mendalam, serta kapasitas meet yang lebih besar.


Bu Dian memberikan penekanan bahwa hal ini penting untuk dipelajari bersama agar institusi pendidikan mampu menciptakan kelas yang benar-benar interaktif, bukan hanya memindahkan ceramah ke platform Google. Demikian juga Google AI Labs / AI Learning Lab Higher Education yang merupakan inisiatif dan program kolaborasi strategis dari Google untuk menyediakan pusat riset, pelatihan, dan eksperimen kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perguruan tinggi. Program Google AI Labs ini dirancang khusus agar mahasiswa, dosen, dan peneliti di pendidikan tinggi dapat mengakses serta menguji coba teknologi AI mutakhir Google untuk kebutuhan akademik dan kesiapan karier. Ada tiga pilar utama yang menjadi maksud dan fokus dari pengembangan program ini yaitu Fasilitas Laboratorium Fisik & Inovasi (AI Learning Lab), Akses Eksperimen Fitur AI Pendidikan Terkini dan Program Akselerator dan Sertifikasi Karier.


Sebagaimana disampaikan Ibu Dian Rusdiana, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Prestasi LLDIKTI III, Unika Atma Jaya yang memiliki kampus di Semanggi, Pluit (Fakultas Kedokteran) dan  BSD juga seakan “dipaksa” untuk segera beradaptasi pada perubahan. Sebagai institusi yang saat ini merayakan Dies Natalis ke 66, respon atas tantangan perubahan diberikan dengan sangat adaptif dan visioner. Akselerasi digitalisasi yang masif, adopsi model pembelajaran hybrid, peningkatan literasi dan keterampilan digital dan kesadaran akan kesenjangan digital yang mendorong upaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan merata. Bisa disebutkan peta jalan transformasi yang dilakukan Unika Atma Jaya diantaranya adalah fondasi digital yang kokoh dari website hingga smart campus, menjelajahi batas-batas virtual dengan perkuliahan di Metaverse, mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum dan pengajaran serta kolaborasi strategis untuk pengembangan konten AI.




Melalui payung program seperti Google AI for Education Accelerator, Google menyediakan pelatihan gratis bagi ratusan kampus di dunia. Mahasiswa bisa mengambil program Google AI Professional Certificate di dalam lab ini untuk mendapatkan keterampilan praktis AI yang diakui industri sekaligus dikonversi menjadi kredit semester (SKS).


AI telah hadir bukan sebagai barang mewah, melainkan sebagai kebutuhan sehari-hari yang berada di genggaman mahasiswa. PoinStar melalui Kelas Inovasi ini mengingatkan bahwa masa depan pendidikan bukanlah tentang memilih antara manusia atau mesin. Melainkan tentang bagaimana manusia dengan AI dapat berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam, personal, dan bermakna. Tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—kini memiliki dimensi baru yang membuka ruang untuk diisi dengan kecakapan digital dan literasi AI. Kelas Inovasi ini bukan sekadar acara perkenalan produk. Ia adalah pengingat bahwa di era percepatan digital, keterlambatan beradaptasi adalah pilihan yang tidak lagi tersedia. 

Artikel ini disusun oleh Kotot Priyadi - ITP LIPP