
Dokumentasi : Pierre Markuse/Copernicus Sentinel data
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah gunung berapi di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan aktivitas yang berdampak pada masyarakat, salah satunya Gunung Anak Krakatau yang aktivitas erupsinya menghasilkan kolom abu vulkanik dengan sebaran partikel mencapai sejumlah wilayah termasuk DKI Jakarta.
Abu vulkanik merupakan campuran partikel sangat halus yang terbentuk ketika magma dan batuan terpecah secara eksplosif saat erupsi. Ukuran butiran material yang keluar dari satu letusan dapat sangat bervariasi. Pecahan yang lebih besar dan berat biasanya jatuh kembali di sekitar gunung berapi, sedangkan butiran yang lebih ringan dan halus dapat terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh. Abu vulkanik, sebagai salah satu partikel berukuran kecil, bahkan dapat menempuh jarak puluhan hingga ribuan kilometer dari sumber erupsi, bergantung pada kecepatan angin, jumlah material yang dikeluarkan, dan tinggi kolom erupsi.
Material abu vulkanik terdiri atas pecahan kaca vulkanik, serpihan batuan, dan kristal mineral. Komponen-komponen ini memiliki sifat fisik yang keras, tajam, dan abrasif. Selain itu, abu vulkanik juga dapat membawa jejak gas iritan, seperti sulfur dioksida atau hidrogen klorida, yang menempel pada permukaan partikel halus.
Kombinasi antara sifat abrasif material abu dan keberadaan gas iritan ini membuat paparan abu vulkanik tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan dapat menyebabkan peradangan pada lapisan mukosa, sementara gas iritan dapat memicu penyempitan saluran pernapasan dan mengganggu fungsi silia, yaitu rambut-rambut halus di dalam saluran pernapasan yang bertugas menyapu dan mengeluarkan kotoran atau partikel asing.
Iritasi mekanis dan kimiawi yang terjadi secara bersamaan dapat melemahkan pertahanan alami saluran pernapasan sehingga bakteri atau virus lebih muda menginfeksi jaringan yang mengalami peradangan. Kondisi tersebut membuat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lebih mudah terjadi atau memburuk setelah paparan abu vulkanik, terutama pada kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru kronis.
Langkah Pencegahan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
Mengurangi Paparan Abu di Lingkungan Terbuka
Langkah paling penting adalah membatasi aktivitas luar ruangan. Jendela, pintu, dan ventilasi sebaiknya ditutup sementara untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah. Jika abu sudah masuk, bersihkan permukaan menggunakan kain basah agar partikel tidak kembali beterbangan. Hindari menyapu secara kering karena dapat membuat abu kembali terangkat ke udara dan berisiko terhirup.
Menggunakan Masker dan Pelindung yang Tepat
Masker yang mampu menyaring partikel halus diperlukan dalam kondisi paparan abu vulkanik. Masker N95 atau KN95 dapat memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan masker kain biasa dalam menyaring partikel halus.

Dokumentasi : Chris Woodrich/Wikimedia Commons
Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan kacamata pelindung juga dapat membantu mencegah iritasi mata. Setelah selesai beraktivitas, penting untuk segera mandi dan mengganti pakaian guna menghilangkan abu yang menempel pada kulit dan rambut, serta mengurangi risiko paparan lanjutan.
Menjaga Kebersihan Udara dan Lingkungan Dalam Rumah
Kualitas udara di dalam ruangan perlu dijaga selama periode paparan abu. Membersihkan lantai dan permukaan dengan metode basah dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang berpotensi terhirup. Jika tersedia, alat penyaring udara dengan HEPA filter dapat membantu mengurangi partikel halus di udara.
Pastikan makanan dan air minum tertutup rapat agar tidak terkontaminasi abu. Perangkat ventilasi atau pendingin udara yang terpapar abu juga perlu diperiksa atau dibersihkan agar tidak kembali menyebarkan partikel ke seluruh ruangan.
Memberikan Perlindungan Khusus bagi Kelompok Rentan
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru atau jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan saat terjadi paparan abu vulkanik. Kelompok ini sebaiknya menghindari paparan dan membatasi aktivitas di luar rumah selama abu masih turun atau tersuspensi di udara.
Apabila harus keluar rumah, penggunaan masker N95 menjadi menjadi salah satu langkah perlindungan yang penting. Penderita asma atau penyakit paru kronis juga perlu memastikan obat rutin tersedia dan digunakan sesuai anjuran dokter.
Mengenali Gejala dan Mencari Pertolongan Medis
Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau nyeri dada. Apabila gejala menetap atau semakin memburuk, penting untuk segera mencari pertolongan medis.
Partikel halus dan mineral yang terkandung dalam abu vulkanik dapat memperburuk kondisi paru, terutama pada individu yang telah memiliki gangguan pernapasan sebelumnya. Oleh karena itu, penanganan sejak dini penting dilakukan untuk membantu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
Ditulis Oleh:
dr. Albert Sedjahtera, Sp.PD.,M.Res
Dosen Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
(Penyunting: THE)