
Jakarta - Keterbatasan akses terhadap kadaver menjadi salah satu alasan lahirnya Museum Anatomi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya. Didirikan pada 1995, museum ini tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan mahasiswa kedokteran, tetapi juga dibuka untuk masyarakat umum sebagai ruang edukasi mengenai anatomi manusia.
Dalam peringatan 31 tahun Museum Anatomi yang diselenggarakan pada 20 Agustus 2026 di Gedung Klara Lt. 4, Kampus Pluit, Dekan FKIK Unika Atma Jaya, Dr. dr. Felicia Kurniawan, M.Kes, menyampaikan bahwa museum anatomi tidak hanya memberikan pengetahuan terkait tubuh manusia. Lebih dari itu, pembelajaran melalui museum diharapkan dapat menumbuhkan rasa syukur dan penghargaan atas kehidupan serta mendorong penerapan ilmu melalui pelayanan kepada masyarakat.

“Tidak hanya mempelajari anatomi, namun dengan adanya museum ini kita juga belajar untuk menghargai ciptaan Tuhan. Dan diharapkan untuk siapapun yang mendapatkan manfaat setelah mempelajari ilmu anatomi di museum ini bisa mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat,” jelasnya.
Apresiasi terhadap perjalanan Museum Anatomi juga disampaikan oleh Kepala Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Yiyok Triherlambang. Menurutnya, Museum Anatomi FKIK Unika Atma Jaya memiliki peran penting untuk memperkenalkan pengetahuan terkait tubuh manusia kepada masyarakat awam.

“Kami mengapresiasi luar biasa atas dedikasi Bapak Ibu sekalian dalam menjalankan Museum Anatomi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Unika Atma Jaya. Ke depannya kami berharap kita selalu bisa berkolaborasi,” tuturnya.
Perjalanan Museum Anatomi Unika Atma Jaya bermula pada tahun 1989, ketika Unika Atma Jaya menjalin kerja sama dengan universitas di Belanda. Dalam kerja sama tersebut, muncul gagasan untuk mengkaji kemungkinan menghadirkan museum anatomi sebagai bagian dari sarana pembelajaran. dr. Liliana Sugiharto, MS., PAK(K), kala itu berkesempatan melakukan kajian pengelolaan museum anatomi di Belanda dan Jerman.

Museum Anatomi Unika Atma Jaya akhirnya dibuka pada tahun 1995 dan menjadi salah satu museum anatomi yang dibuka untuk masyarakat umum di Indonesia. “Prinsip museum anatomi Atma Jaya sampai hari ini unik. Perbedaannya adalah museum ini tidak hanya belajar anatomi dari kadaver, tetapi yang paling dekat dengan orang yang masih hidup adalah radiologi,” ujar dr. Liliana.
Sejalan dengan perkembangan museum, Kepala Museum Anatomi FKIK Unika Atma Jaya, Dr. dr. Tena Djuartina, M.Biomed., PAK(K), menyampaikan bahwa fungsi museum lebih dari sekadar tempat penyimpanan spesimen. Museum juga menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan ilmu anatomi dengan berbagai bidang keilmuan lainnya, termasuk histologi, radiologi, dan ilmu klinis.

“Museum bukan hanya sebagai tempat penyimpanan spesimen saja, tetapi di situ merupakan salah satu rujukan,” jelasnya.
Memasuki usia 31 tahun, Museum Anatomi FKIK Unika Atma Jaya diharapkan terus berkembang sebagai ruang edukasi yang mengkolaborasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman nyata bagi para pengunjungnya.
(CHA)