By: Christina Juliana
Sebanyak 18 dosen Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial (FBIS) dan Fakultas Hukum (FH) serta mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ) Jakarta mengikuti kunjungan edukatif dan reflektif yang mempertemukan iman, sejarah, kebinekaan, dan persaudaraan dalam satu perjalanan: Katedral – Terowongan Silaturahim – Masjid Istiqlal – Terowongan Silaturahim – Katedral dan Museum Katedral.
Kunjungan
diawali dengan foto bersama di depan Gereja Katedral Jakarta bersama Romo
Thomas Ulun Ismoyo, Pr. Dari Katedral, rombongan menyusuri Terowongan
Silaturahim menuju Masjid Istiqlal. Dengan pendampingan Ibu Susi, peserta
memahami terowongan bukan sekadar penghubung dua tempat ibadah, tetapi juga
simbol persaudaraan dan kerukunan dalam keberagaman Indonesia.




Pesan Paus Fransiskus terasa sangat relevan: “We need to walk side by side, ‘all brothers’, to become real artisans of peace and justice, in the harmony of our differences and respect for everyone’s identity.” Perbedaan tidak harus menjadi jarak; perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati, dan berjalan bersama.
Di Masjid Istiqlal,
dengan dipandu Bpk. Yusuf Faozi Subandi, peserta mengenal sejarah, arsitektur,
dan filosofi masjid nasional Indonesia. Nama Istiqlal berarti kemerdekaan.
Dirancang oleh Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen, Istiqlal juga
menyimpan simbol kuat perjalanan bangsa. Kubah utama berdiameter 45 meter
melambangkan tahun 1945; kubah berdiameter 8 meter merepresentasikan bulan
Agustus; dan tiang setinggi 17 meter di atas kubah utama mengingatkan pada
tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI. Arsitektur Istiqlal dengan demikian tidak
hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mengabadikan semangat Indonesia
Merdeka sesuai amanat Bung Karno. Pemilihan lokasi Istiqlal pun sarat makna.
Jika semula terdapat gagasan pembangunan di kawasan lain, Bung Karno memilih
lokasi bekas Taman Wilhelmina, berdampingan dengan Katedral Jakarta. Pilihan
ini menjadi simbol persaudaraan dan toleransi antarumat beragama—dua
rumah ibadah yang berdiri berdampingan dalam semangat Indonesia yang merdeka
dan Bhinneka Tunggal Ika.
Peserta
juga melihat beduk raksasa, salah satu ciri khas budaya Indonesia yang
hadir di lingkungan masjid. Beduk menjadi penanda waktu ibadah sekaligus simbol
kekayaan tradisi Nusantara yang hidup berdampingan dengan arsitektur dan nilai
keislaman Istiqlal.




Perjalanan rombongan kembali ke Katedral melalui Terowongan Silaturahim menjadi penutup yang sarat makna. Terowongan ini bukan sekadar penghubung dua rumah ibadah, tetapi menjadi simbol bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Kita dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu keyakinan menuju keyakinan lain, tanpa kehilangan rasa hormat, persaudaraan, dan kecintaan kepada Indonesia.
Setibanya di Katedral,
peserta diajak menelusuri sejarah Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga
sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia yang tumbuh dalam
keberagaman, toleransi, dan semangat hidup berdampingan. Di dalam Katedral,
peserta melihat Cathedra Bapa Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal
Suharyo, sebagai simbol kepemimpinan yang berlandaskan pelayanan, dengan
motto “Serviens Domino cum omni Humilitate”, yang berarti “Aku melayani Tuhan
dengan segala kerendahan hati.”
Keindahan Altar, Jalan
Salib, dan Pietà membawa peserta menyelami sisi kemanusiaan yang begitu dalam. Pietà,
yang menggambarkan Bunda Maria memangku jenazah Yesus, menghadirkan sosok
seorang Ibu yang dalam keheningan menanggung pedihnya kehilangan anak, tanpa
kebencian ataupun keinginan untuk membalas kekejaman yang dialami Yesus. Maria
menerima penderitaan itu dengan keteguhan hati, karena memahami bahwa
penderitaan Yesus merupakan wujud kasih dan pengorbanan-Nya: menyerahkan
hidup demi keselamatan manusia dan kehidupan kekal bagi segala bangsa.
Di tengah dunia yang
mudah terpecah oleh kebencian, kisah ini menjadi refleksi yang kuat: cinta
sejati tidak melahirkan kebencian dan balas dendam, tetapi pengampunan,
pengorbanan, dan harapan. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan untuk membangun
kehidupan bersama yang damai dan merawat persaudaraan sebagai sesama anak
bangsa.
Sementara itu, mimbar
bersejarah hingga orgel tua dengan sekitar 1.000 pipa yang masih dapat
dimainkan memperlihatkan kekayaan warisan iman, budaya, seni, dan sejarah yang
terus hidup. Peserta diajak melihat bahwa keberagaman keyakinan bukanlah sekat,
melainkan bagian dari kekayaan Indonesia: berbeda dalam iman, bersatu dalam
persaudaraan, dan bersama-sama merawat Indonesia.
Perjalanan kemudian
dilanjutkan ke Museum Katedral, tempat tersimpan berbagai benda dan
dokumentasi perjalanan Gereja Katolik di Indonesia. Setiap sudut menghadirkan
kisah tentang iman, kemanusiaan, pelayanan, seni, dan perjalanan bangsa dalam
keberagaman. Dari sana, peserta kembali diingatkan bahwa sejarah Indonesia
bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang manusia-manusia yang
memilih melayani, berdialog, hidup berdampingan, dan menjaga persaudaraan.








Semangat inilah yang
sejalan dengan pendidikan di Unika Atma Jaya. Pendidikan tidak berhenti
pada kompetensi dan keunggulan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang
mampu memahami perbedaan melalui Studi Perbandingan Agama dan
Multikulturalisme. Sebab, dunia yang akan dihadapi generasi muda adalah
dunia yang semakin beragam. Masa depan Indonesia membutuhkan insan yang mampu
hidup bersama, bekerja bersama, dan berkarya bersama, tanpa menjadikan
perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Inilah pendidikan yang
dihidupi Unika Atma Jaya: unggul dalam kompetensi, terbuka dalam dialog, kuat
dalam persaudaraan, dan nyata dalam kontribusi bagi Indonesia.
Dari Katedral dan
Istiqlal, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar teori. Toleransi hadir
ketika kita mau melangkah mendekat, mengenal, mendengarkan, memahami, dan
akhirnya berjalan bersama.
Belajar dari Perbedaan —
Membangun Persaudaraan — Merawat Indonesia
Unika Atma Jaya: tempat generasi muda belajar, berdialog, berkolaborasi, dan berkarya, dengan semangat Roh Kudus yang Jaya, untuk membangun Indonesia yang semakin maju, damai, inklusif, dan berkeadaban—menuju Indonesia Emas.