Dari Katedral ke Istiqlal: Belajar tentang Iman, Sejarah, dan Persaudaraan

8/26/2026 12:00:00 AM

By: Christina Juliana

Sebanyak 18 dosen Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial (FBIS) dan Fakultas Hukum (FH) serta mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ) Jakarta mengikuti kunjungan edukatif dan reflektif yang mempertemukan iman, sejarah, kebinekaan, dan persaudaraan dalam satu perjalanan: Katedral – Terowongan Silaturahim – Masjid Istiqlal – Terowongan Silaturahim – Katedral dan Museum Katedral.


Kunjungan diawali dengan foto bersama di depan Gereja Katedral Jakarta bersama Romo Thomas Ulun Ismoyo, Pr. Dari Katedral, rombongan menyusuri Terowongan Silaturahim menuju Masjid Istiqlal. Dengan pendampingan Ibu Susi, peserta memahami terowongan bukan sekadar penghubung dua tempat ibadah, tetapi juga simbol persaudaraan dan kerukunan dalam keberagaman Indonesia.



Pesan Paus Fransiskus terasa sangat relevan: “We need to walk side by side, ‘all brothers’, to become real artisans of peace and justice, in the harmony of our differences and respect for everyone’s identity.” Perbedaan tidak harus menjadi jarak; perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati, dan berjalan bersama.


Di Masjid Istiqlal, dengan dipandu Bpk. Yusuf Faozi Subandi, peserta mengenal sejarah, arsitektur, dan filosofi masjid nasional Indonesia. Nama Istiqlal berarti kemerdekaan. Dirancang oleh Frederich Silaban, seorang arsitek Kristen, Istiqlal juga menyimpan simbol kuat perjalanan bangsa. Kubah utama berdiameter 45 meter melambangkan tahun 1945; kubah berdiameter 8 meter merepresentasikan bulan Agustus; dan tiang setinggi 17 meter di atas kubah utama mengingatkan pada tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI. Arsitektur Istiqlal dengan demikian tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga mengabadikan semangat Indonesia Merdeka sesuai amanat Bung Karno. Pemilihan lokasi Istiqlal pun sarat makna. Jika semula terdapat gagasan pembangunan di kawasan lain, Bung Karno memilih lokasi bekas Taman Wilhelmina, berdampingan dengan Katedral Jakarta. Pilihan ini menjadi simbol persaudaraan dan toleransi antarumat beragama—dua rumah ibadah yang berdiri berdampingan dalam semangat Indonesia yang merdeka dan Bhinneka Tunggal Ika.


Peserta juga melihat beduk raksasa, salah satu ciri khas budaya Indonesia yang hadir di lingkungan masjid. Beduk menjadi penanda waktu ibadah sekaligus simbol kekayaan tradisi Nusantara yang hidup berdampingan dengan arsitektur dan nilai keislaman Istiqlal.



Perjalanan rombongan kembali ke Katedral melalui Terowongan Silaturahim menjadi penutup yang sarat makna. Terowongan ini bukan sekadar penghubung dua rumah ibadah, tetapi menjadi simbol bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Kita dapat berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu keyakinan menuju keyakinan lain, tanpa kehilangan rasa hormat, persaudaraan, dan kecintaan kepada Indonesia.


Setibanya di Katedral, peserta diajak menelusuri sejarah Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia yang tumbuh dalam keberagaman, toleransi, dan semangat hidup berdampingan. Di dalam Katedral, peserta melihat Cathedra Bapa Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, sebagai simbol kepemimpinan yang berlandaskan pelayanan, dengan motto “Serviens Domino cum omni Humilitate”, yang berarti “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati.”


Keindahan Altar, Jalan Salib, dan Pietà membawa peserta menyelami sisi kemanusiaan yang begitu dalam. Pietà, yang menggambarkan Bunda Maria memangku jenazah Yesus, menghadirkan sosok seorang Ibu yang dalam keheningan menanggung pedihnya kehilangan anak, tanpa kebencian ataupun keinginan untuk membalas kekejaman yang dialami Yesus. Maria menerima penderitaan itu dengan keteguhan hati, karena memahami bahwa penderitaan Yesus merupakan wujud kasih dan pengorbanan-Nya: menyerahkan hidup demi keselamatan manusia dan kehidupan kekal bagi segala bangsa.


Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh kebencian, kisah ini menjadi refleksi yang kuat: cinta sejati tidak melahirkan kebencian dan balas dendam, tetapi pengampunan, pengorbanan, dan harapan. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang damai dan merawat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.


Sementara itu, mimbar bersejarah hingga orgel tua dengan sekitar 1.000 pipa yang masih dapat dimainkan memperlihatkan kekayaan warisan iman, budaya, seni, dan sejarah yang terus hidup. Peserta diajak melihat bahwa keberagaman keyakinan bukanlah sekat, melainkan bagian dari kekayaan Indonesia: berbeda dalam iman, bersatu dalam persaudaraan, dan bersama-sama merawat Indonesia.


Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Museum Katedral, tempat tersimpan berbagai benda dan dokumentasi perjalanan Gereja Katolik di Indonesia. Setiap sudut menghadirkan kisah tentang iman, kemanusiaan, pelayanan, seni, dan perjalanan bangsa dalam keberagaman. Dari sana, peserta kembali diingatkan bahwa sejarah Indonesia bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga tentang manusia-manusia yang memilih melayani, berdialog, hidup berdampingan, dan menjaga persaudaraan.





Semangat inilah yang sejalan dengan pendidikan di Unika Atma Jaya. Pendidikan tidak berhenti pada kompetensi dan keunggulan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang mampu memahami perbedaan melalui Studi Perbandingan Agama dan Multikulturalisme. Sebab, dunia yang akan dihadapi generasi muda adalah dunia yang semakin beragam. Masa depan Indonesia membutuhkan insan yang mampu hidup bersama, bekerja bersama, dan berkarya bersama, tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.

Inilah pendidikan yang dihidupi Unika Atma Jaya: unggul dalam kompetensi, terbuka dalam dialog, kuat dalam persaudaraan, dan nyata dalam kontribusi bagi Indonesia.

Dari Katedral dan Istiqlal, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar teori. Toleransi hadir ketika kita mau melangkah mendekat, mengenal, mendengarkan, memahami, dan akhirnya berjalan bersama.

Belajar dari Perbedaan — Membangun Persaudaraan — Merawat Indonesia

 

Unika Atma Jaya: tempat generasi muda belajar, berdialog, berkolaborasi, dan berkarya, dengan semangat Roh Kudus yang Jaya, untuk membangun Indonesia yang semakin maju, damai, inklusif, dan berkeadaban—menuju Indonesia Emas.