100 Tahun Frans Seda, Unika Atma Jaya Refleksikan Tantangan Kebijakan Ekonomi Indonesia

10/8/2026 12:00:00 AM


Jakarta — Unika Atma Jaya melalui Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) bersama Frans Seda Foundation menyelenggarakan Frans Seda Memorial Lecture 2026 bertajuk “Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit: Pelajaran dari Krisis, Geopolitik, dan Tekanan Struktural” pada Kamis (1/10) di Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Semanggi, sebagai ruang refleksi atas pemikiran dan keteladanan Frans Seda sekaligus membahas relevansinya bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Diselenggarakan menjelang peringatan 100 tahun kelahiran Frans Seda pada 4 Oktober 2026, kegiatan ini dihadiri sekitar 500 peserta yang terdiri atas pembuat kebijakan, akademisi, pimpinan lembaga, pelaku usaha, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan 100 tahun Frans Seda bukan sekadar kesempatan untuk mengenang seorang tokoh bangsa, melainkan juga momentum untuk mempelajari semangat pengabdiannya. 


“Kebijakan ekonomi bukan semata persoalan angka, karena di balik setiap angka ada manusia dan di balik setiap kebijakan ada kehidupan yang terdampak. Untuk itu, universitas memiliki peran penting sebagai ruang untuk belajar dari masa lalu, membaca tantangan hari ini secara kritis, sekaligus melahirkan gagasan yang relevan bagi masa depan Indonesia. Semangat ini sejalan dengan spiritualitas Atma Jaya, yaitu cinta Tuhan dan Tanah Air, yang mengajak kita untuk tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga memberikan yang terbaik melalui karya dan pengabdian,” ujar Prof. Yuda.

Ketua Frans Seda Foundation, Steve Ginting, turut menegaskan pentingnya menghidupkan warisan Frans Seda melalui refleksi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan bangsa.


“Seratus tahun Frans Seda merupakan momen penting bagi bangsa saat ini, di mana dalam situasi ketidakpastian saat ini kita membutuhkan teladan pemimpin bangsa. Makna 100 tahun Frans Seda sangat penting karena memberi kita refleksi atas pentingnya integritas dan keberanian mengambil keputusan sulit. Ini adalah warisan yang perlu dihidupkan, bukan sekadar dikenang,” ujarnya.

Menilik Relevansi Pemikiran Frans Seda bagi Kebijakan Ekonomi Masa Kini

Sesi utama diawali dengan keynote address oleh Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional sekaligus mantan Menteri Perdagangan RI dan mantan Managing Director Bank Dunia. Dalam paparannya, Mari mengulas pengalaman Frans Seda sebagai Menteri Keuangan periode 1966–1968 dalam menghadapi hiperinflasi, menata anggaran negara, merestrukturisasi utang, serta membuka investasi asing melalui Undang-Undang Penanaman Modal Asing 1967.


“Di tengah tekanan ekonomi global, ketegangan perdagangan, transisi energi, hingga perkembangan kecerdasan buatan, Indonesia perlu mampu membaca tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang hadir. Dari pengalaman Frans Seda, ada tiga pelajaran penting yang tetap relevan hingga hari ini, yaitu keberanian mengambil keputusan, disiplin fiskal dalam mengelola sumber daya untuk kepentingan jangka panjang, serta integritas yang tidak dapat dikompromikan, terutama ketika pembuat kebijakan berada di bawah tekanan. Menjaga disiplin fiskal bukan sekadar membatasi pengeluaran, melainkan memastikan sumber daya dialokasikan secara bijak agar Indonesia tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan dan membangun masa depannya,” ujarnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan Suahasil Nazara, Menteri Keuangan Republik Indonesia, sebagai keynote speaker yang dalam paparannya menyoroti kontribusi Frans Seda dalam memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia melalui disiplin anggaran, penataan utang, dan kebijakan stabilisasi. “Keberanian dalam mengambil keputusan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab fiskal. Kebijakan ekonomi boleh berbeda sesuai dengan tantangan zamannya, tetapi kepercayaan dan kredibilitas tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan,” tuturnya.


Rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi panel bersama Mari Elka Pangestu, Dinna Prapto Raharja selaku ekonom politik dan praktisi diplomasi, serta A. Prasetyantoko, Ekonom sekaligus Rektor Unika Atma Jaya periode 2015–2023, yang dipandu oleh Glory Rosari Oyong, Direktur Corporate Communication Kompas Gramedia.

Dinna Prapto Raharja menyoroti pentingnya kedaulatan kebijakan Indonesia di tengah rivalitas geopolitik dan perubahan tatanan global. “Indonesia perlu memiliki ruang untuk menentukan arah kebijakan berdasarkan kepentingan nasional, sekaligus membangun kepercayaan kolektif agar mampu menghadapi rivalitas geopolitik dan membaca perubahan tatanan global secara strategis,” ujar Dinna.

A. Prasetyantoko melengkapi diskusi dengan menyoroti krisis sebagai momentum untuk melakukan reformasi kebijakan dan kelembagaan. “Krisis selalu membawa tekanan, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang untuk melakukan reformasi. Tantangannya adalah memastikan teknokrasi tetap berintegritas, sehingga kebijakan ekonomi senantiasa berpijak pada kepentingan publik dan keadilan sosial, termasuk dengan melibatkan perguruan tinggi,” ungkapnya.


Merawat Warisan Frans Seda, Meneruskan Pengabdian bagi Bangsa

Melalui Frans Seda Memorial Lecture 2026, Unika Atma Jaya bersama Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) menghadirkan ruang dialog antara akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat untuk merefleksikan tantangan serta arah kebijakan ekonomi Indonesia, sekaligus mendorong lahirnya pemikiran kebijakan publik yang berlandaskan nilai, bukti, dan kepentingan jangka panjang.

Sebagai salah satu tokoh perintis Unika Atma Jaya, Frans Seda mewariskan nilai integritas, keberanian, dan pengabdian kepada bangsa yang terus relevan dalam menjawab tantangan zaman, sehingga semangat tersebut diharapkan senantiasa hidup melalui pemikiran dan karya generasi penerus, sejalan dengan semangat Unika Atma Jaya, Untuk Tuhan dan Tanah Air.

(THE)