Unika Atma Jaya Terima Kunjungan Leeds Business School CU Boulder, Bahas Ekspansi Bisnis hingga Energi Terbarukan

5/7/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Transformasi bisnis global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh skala perusahaan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan pasar, budaya, dan tuntutan keberlanjutan. Di tengah dinamika tersebut, Indonesia mulai menunjukkan perannya bukan sekadar sebagai pasar besar, melainkan juga sebagai penghasil model bisnis yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Isu mengenai ekspansi bisnis global, inovasi energi terbarukan, serta pembelajaran lintas budaya menjadi fokus utama dalam rangkaian kunjungan akademik Leeds Business School, University of Colorado Boulder (CU Boulder), ke Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial (FBIS) Unika Atma Jaya pada Rabu (6/5). Kegiatan yang berlangsung di Kampus Semanggi itu menghadirkan sesi kuliah umum.

Mengawali kegiatan, Wakil Dekan Bidang P2M, Kerja Sama Institusi, Inovasi, dan Alumni FBIS Unika Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan apresiasinya atas kunjungan delegasi Leeds Business School CU Boulder ke Unika Atma Jaya.


“Melalui general lecture ini, saya berharap para peserta bisa belajar lebih jauh mengenai bisnis dan budaya Indonesia, sekaligus melihat langsung bagaimana perkembangan dunia usaha di Jakarta,” tutur Rosdiana.

Sementara itu, Associate Director of Specialized Programs, Leeds Business School CU Boulder, Alyssa Radtke, turut mengapresiasi sambutan yang diberikan FBIS Unika Atma Jaya kepada delegasi CU Boulder. Ia menyebut kunjungan tersebut menjadi momen penting karena merupakan program pertama CU Boulder yang dilaksanakan di Indonesia.


“Kami sangat berterima kasih karena telah diterima dengan hangat di sini. Ini menjadi awal yang baik untuk membangun koneksi jangka panjang dan kolaborasi mahasiswa antara kedua perguruan tinggi,” kata Alyssa.

Dalam sesi bertajuk Doing Business in Indonesia, Chief Economist Indonesian Business Council sekaligus akademisi Universitas Gadjah Mada, Denni Puspa Purbasari, Ph.D., membahas peluang dan tantangan berbisnis di Indonesia yang dinilai terus berkembang seiring perubahan lanskap ekonomi regional.


Menurut Denni, pendekatan komunikasi yang terlalu formal dan rumit justru sering kali membuat masyarakat sulit memahami program yang dijalankan. “Gunakan bahasa yang sederhana dan langsung ke poin. Partisipasi masyarakat itu penting, jadi program harus dibuat mudah diakses dan mudah dipahami,” jelasnya.

Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Dosen Prodi Administrasi Bisnis Unika Atma Jaya, Dr.rer.pol. A.Y. Agung Nugroho, melalui presentasi bertajuk From Local Roots to Global Routes: The Success Stories of Indonesian MNCs. Melalui studi kasus Indomie, Agung menjelaskan bagaimana perusahaan Indonesia mampu berkembang dari pasar domestik menuju pasar global dengan strategi adaptasi budaya, distribusi yang kuat, dan harga terjangkau.


Ia menyoroti model ekspansi perusahaan multinasional Indonesia yang dimulai dari pasar domestik, kemudian berkembang ke negara-negara berkembang lain dengan karakteristik serupa. Strategi tersebut dilakukan melalui kombinasi market creation, distribusi masif, hingga integrasi produk ke dalam budaya sehari-hari masyarakat setempat.

“Dalam kasus Indomie di Nigeria, perusahaan bahkan berhasil membangun lebih dari satu juta jaringan retailer dan menjadikan produknya sebagai bagian dari rutinitas masyarakat,” paparnya.

Di sisi lain, isu transisi energi turut menjadi sorotan dalam sesi yang dibawakan Co-Founder sekaligus VP of Operations Xurya, Philip Effendy. Dalam presentasinya bertajuk Penetrating Indonesia’s Renewable Energy Business, ia menjelaskan bahwa energi surya di Indonesia masih memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.


“Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, tetapi tingkat pemanfaatannya masih rendah. Padahal kebutuhan industri terhadap energi berkelanjutan terus meningkat,” ujar Philip.

Ia menjelaskan, Xurya menyediakan layanan energi surya terintegrasi mulai dari desain, instalasi, hingga operasional dan pemeliharaan sistem panel surya. Hingga akhir 2025, perusahaan tersebut tercatat memiliki lebih dari 281 proyek operasional dan puluhan proyek konstruksi di berbagai wilayah Indonesia. 

Forum ini menjadi ruang pertukaran wawasan mengenai bisnis global, inovasi, dan kolaborasi lintas budaya antara akademisi serta pelaku industri dari Indonesia dan Amerika Serikat.

(DEL)