ASK
ME

REGISTER
NOW

2/20/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Bagi banyak mahasiswa Akuntansi, menembus firma audit global yang tergabung dalam “Big 4” merupakan impian besar. Proses seleksi yang ketat dan tingkat persaingan yang tinggi kerap menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi Bryan Christian Ravelino, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 Unika Atma Jaya (UAJ), tantangan tersebut justru menjadi motivasi.


Sejak 22 Desember 2025, Bryan resmi memulai perjalanannya sebagai Assurance Vocational Employee Intern di PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia, salah satu firma akuntansi profesional terbesar di dunia.


Target Sejak Awal Perkuliahan

Bagi Bryan, berkarier di Big 4 bukanlah sebuah kebetulan. Sejak pertama kali menempuh pendidikan di bangku perkuliahan, ia sudah menetapkan PwC sebagai target utama dalam peta kariernya.


"Berkarier di Big 4 merupakan salah satu impian utama saya sejak awal dalam memilih program studi Akuntansi di UAJ," ujarnya. Fokus ini mendorongnya untuk bersikap selektif dan strategis dalam memilih berbagai kegiatan selama menjalani masa studi.


Membekali Diri dengan Fondasi Akademik

Bryan menekankan pentingnya pemahaman konseptual yang kuat, bukan sekadar hafalan. Ia mengungkapkan bahwa kunci keberhasilannya dalam menaklukkan proses seleksi PwC adalah penguasaan materi Financial Accounting.


"Mata kuliah Financial Accounting, mulai dari level principal hingga advanced, adalah kunciku dalam menghadapi seleksi PwC", tuturnya. Pemahaman fundamental yang kuat membantunya menjawab berbagai tantangan studi kasus yang diberikan oleh perekrut.


Menaklukan Tahap User Interview

Perjalanan Bryan tidaklah mudah. Ia harus melewati tahapan seleksi yang sangat kompetitif. Menurutnya, momen yang paling menantang adalah saat memasuki tahap user interview. Pada tahap ini, kandidat akan berhadapan langsung dengan Senior Manager.




"Awalnya takut dan ragu, tapi dengan usaha dan doa semuanya dapat dilewati. Setelah diterima, saya baru mengetahui bahwa tingkat penerimaan (acceptance rate) untuk posisi ini ternyata di bawah 10%," ungkap Bryan.


Selain kompetensi teknis, Bryan juga menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi, khususnya dalam bahasa Inggris. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan percaya diri menjadi nilai tambah dalam proses wawancara.


Maksimalkan Privilege Selama Menjadi Mahasiswa

Di luar akademik, Bryan juga aktif dan berprestasi. Ia merupakan awardee Beasiswa Bank Indonesia serta meraih gelar Best Intelligence and Entrepreneurship dalam ajang Koko Cici Jakarta 2025. Berbagai pengalaman tersebut membentuk kepercayaan diri dan ketenangannya saat menghadapi tekanan.

Menurut Bryan, masa kuliah adalah fase yang penuh peluang. Selama masih berstatus mahasiswa, banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kapasitas diri.

Pesan untuk #AnakAtma 

Menutup kisahnya, Bryan membagikan pesan bagi #AnakAtma yang masih ragu untuk melangkah lebih jauh.


"Intinya, fake it till you make it! Banyak hal yang awalnya saya tidak kuasai, tapi tetap saya coba. Banyak kalanya aku gagal dan merasa tidak layak, tapi dengan doa dan ketentuan, segalanya bisa dicapai (everything could be achieved)," pungkasnya.


(DEL)