Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Pribadi yang tegar dan mengagumkan

PRIBADI YANG TEGAR & MENGAGUMKAN
Oleh : P. Ari Triwibowo

 

 

Seperti  biasa  Paulus melakukan tugasnya sebagai seorang Koster dari pagi hingga sore hari,  dan  tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 18.00 yang berarti telah melewati jam kerja  yang ada.  Paulus  merapikan tasnya dan mengunci satu persatu pintu-pintu Kapel yang ada, setelah yakin semua terkunci Paulus melangkahkan kakinya menuju menuju pintu keluar.

 

Belum jauh Paulus melangkah dari pintu keluar, seorang wanita datang dan mencoba membuka pintu Kapel yang telah terkunci, saat itu juga Paulus mengurungkan niatnya untuk pulang dan membukakan kembali pintu Kapel.

 

Si wanita  tersenyum dan berkata : Trimakasih Mas, bolehkah saya berdoa di depan Tabernakel?

Paulus menganggukan kepalanya sambil meletakkan kembali tasnya di dalam Sakristi untuk menunggu si wanita selesai berdoa.  15 menit, 30 menit, 1 jam sudah Paulus menunggu si wanita yang berdoa di depan Tabernakel, muncul kekhwatiran dalam diri Paulus kepada si wanita.

 

Tanpa berbicara, Paulus memberanikan diri duduk di sebelah wanita. Wanita itu menyadari keberadaan Paulus di dekatnya, perlahan wanita ini membuka matanya dan memandang ke arah Paulus lalu menyodorkan tangannya dengan memperkenalkan dirinya bernama Shinta (bukan nama sebenarnya). Paulus menjabat tangan Shinta dengan memperkenalkan namanya dan menanyakan apakah masih butuh waktu untuk berdoa?

“Maafkan saya Mas Paulus  jika saya menyita waktu Mas, cukup untuk hari ini dan saya akan berusaha sering hadir di Kapel ini setiap saat untuk berbicara dengan Tuhan.”

 

Setiap hari Shinta selalu rajin mengunjungi Kapel  untuk berdoa di depan Tabernakel.

Sampai pada suatu hari  Shinta menyapa Mas Paulus dengan memberikan penjelasan mengenai kebiasaanya berdoa berjam-jam di depan Tabernakel.

 

“ Mas Paulus, terima kasih atas pelayanan Mas Paulus selama ini kepada saya, saya sangat senang berada di Kapel ini karena saya bisa mendapatkan ketenangan dan memohon petunjuk kepada Tuhan mengenai panggilan hidup saya. Sudah cukup lama saya dilanda kebimbangan antara hidup menjadi awam atau hidup menjadi biarawati.”

 

Mas Paulus mendengarkan dengan seksama dan mencoba memahami pergulatan batin yang ada dalam diri Shinta.  Mas Paulus memberikan sedikit masukan kepada Shinta untuk  konsentrasi terlebih dahulu agar kuliahnya dapat selesai pada waktunya, dan biarkan Tuhan bekerja pada panggilan hidup yang Shinta rasakan.

 

Sudah 2 bulan ini Shinta  tidak pernah lagi pergi ke Kapel untuk berdoa, sampai akhirnya ada sepucuk surat ditujukan kepada Paulus dari seorang teman Shinta yang berisi :

 

“ Mas Paulus yang saya hormati dan saya kasihi dalam Tuhan Yesus, terima kasih boleh mengenal Mas Paulus yang telah saya anggap sebagai kakak saya sendiri, saat ini Shinta  terbaring lemah di rumah sakit dengan diagnosa dari dokter kalau Shinta  terkena Kanker Leukimia.  Shinta tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan buat Shinta, pergulatan panggilan hidup Shinta sampai saat ini saja belum terjawab dan sekarang Shinta diberikan cobaan lain yang  Shinta terima dengan keikhlasan. Itulah sebabnya Shinta tidak pernah lagi berdoa di depan Tabernakel. Saya banyak belajar dari Mas Paulus tentang bersyukur dan berpasrah kepada Tuhan dalam hidup ini.

Mas Paulus, mohon doakan saya agar selalu kuat dalam menerima cobaan ini. Semoga suatu saat Shinta bisa kembali ke Kapel  dan berdoa lagi di depan Tabernakel.”

 

Mas Paulus terdiam, dengan seringnya pertemuan antara Mas  Paulus dan Shinta selama ini tentu mempunyai ikatan batin sebagai saudara yang cukup kuat sehingga Mas Paulus turut merasakan betapa berat penderitaan yang Shinta alami. Mas Paulus menyempatkan waktu untuk menjenguk Shinta di Rumah Sakit di kawasan Salemba, hanya untuk memberikan dukungan dan doa. Mas Paulus  melihat Shinta terbaring lemah dari  ruang kaca perawatan, rambut Shinta yang sebelumnya bagus telah mulai rontok, Mas Paulus ragu untuk masuk karena takut mengganggu istirahat Shinta

 

Tuhan memang mempunyai cara yang kita tidak bisa pahami, ternyata Shinta melihat Mas Paulus dan Shinta meminta keluarga yang menunggu untuk memanggil Mas Paulus agar bisa masuk. Shinta mengucapkan terima kasih atas kehadiran Mas Paulus dan rupanya itu menjadi pertemuan untuk terakhir kalinya.

 

3 bulan berlalu Mas Paulus tidak pernah lagi bertemu dengan Shinta, tidak ada lagi yang berdoa di depan Tabernakel, tidak ada lagi yang menangis, tidak ada lagi cerita tentang kuliah dan panggilan hidup, tidak ada lagi yang memberikan kacang koro, tidak ada lagi gorengan kantin yang biasa dibawa oleh Shinta untuk di Sakristi Kapel.

 

Beredar kabar kalau Shinta berobat ke negara tetangga dan telah berhasil melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Mendengar kabar ini Mas Paulus sangat bersyukur dan berdoa agar Shinta bisa sehat kembali untuk dapat menyelesaikan kuliahnya.

 

Sepucuk surat dibawa oleh temen deket Shinta yang diberikan kepada Mas Paulus. Mas Paulus membuka dan membaca surat yang ternyata ditulis tangan oleh Shinta.

“Mas Paulus, lama kita tidak berkomunikasi. Saya sekarang sedang berobat dan telah berhasil  melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Kondisi saya telah membaik dan saya berdoa kepada Tuhan agar saya bisa datang lagi berkunjung ke Kapel yang sangat saya rindukan.

Sampai disini dulu ya Mas, karena saya pusing jika menulis terlalu lama”

Salam.

Shinta

 

Mas Paulus menyimpan surat yang ditulis oleh Shinta dan seperti biasa Mas Paulus selalu menceritakan semuanya kepada istrinya yang sangat pengertian.

2 Minggu kemudian surat ke dua dari Shinta diterima oleh Mas Paulus dan Mas Paulus membacanya dengan mata berkaca-kaca.

 

“Mas Paulus, kondisi Shinta memburuk dan Shinta merasa tidak akan bisa datang kembali ke Kapel tempat dimana Shinta berbicara dan mendengarkan Tuhan. Shinta mohon doa Mas Paulus agar kuat menerima semua ini.

Terima kasih atas kesediaan Mas Paulus yang selalu mau mendengarkan keluh kesah saya.

Semoga kita bisa berjumpa lagi ya Mas.

 

Salam kasih dari adikmu

Shinta.

 

Hari demi hari berlalu dan akhirnya Mas Paulus mendengar kabar kalau Shinta  telah menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan,  Shinta tidak lagi membawa kebimbangan dalam panggilan hidupnya, Shinta tidak lagi merasakan sakit dan Shinta menyerahkan dirinya dalam pangkuan Bapa di Sorga.

 

Mas Paulus tergiang akan keinginan Shinta untuk bisa berdoa di depan Tabernakel  suatu saat nanti, dan Tuhan memang sayang dengan Shinta sehingga  Shinta masih menyempatkan diri hadir kembali ke Kapel di depan Tabernakel  dalam Misa  Peringatan tiga  tahun wafatnya dalam bentuk abu jenazah yang disemayamkan dalam guci.

 

“Tuhan, terkadang rencana kami belum tentu sama dengan apa yang telah Engkau rencanakan untuk kami, secara khusus kami banyak belajar dari Alm. Shinta yang telah membuat kami semua  lebih tegar dan lebih bijaksana dalam melihat karyaMu untuk kami. Terjadilah pada kami menurut kehendakMu ya Tuhan.

 

Renungan :

Ketika kita diberikan kesempatan dalam hidup ini maka berusahalah untuk mengisinya dengan hal-hal yang baik sehingga ketika kita dipanggil Tuhan kita telah mempersiapkan diri dengan baik, sebab kita tidak tahu kapan waktunya akan tiba. Kekuatan Iman dan kepasrahan alm. Shinta diatas diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk kita semua.

 

 

Selamat jalan sahabatku, Tuhan menyertaimu selalu

 

 

Kalender
S S R K J S M
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31
bottom