Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Teach Like a Finn!

Jakarta, 1 Juli 2019— Beberapa waktu lalu media ramai memberitakan Finlandia sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Beberapa kelebihan pendidikan Finlandia yang dianggap mampu melahiran sumber daya manusia unggulan adalah jam belajar yang lebih pendek, tidak mengenal PR dan pendidikan yang serba gratis.

 

Beberapa kelebihan lain yang juga menonjol adalah materi pelajaran yang dianggap cocok untuk mendukung perkembangan anak dan juga kemampuan mengajar guru. Tapi apakah hanya itu yang menjadikan Finlandia sebagai negara pendidikan nomor satu?

 

Dr. Luciana, M.Ed., pada pembukaan workshop international bertajuk Teach Like a Finn! (26/7)

 

Dr. Luciana, M.Ed., pada pembukaan workshop international bertajuk Teach Like a Finn!, berujar bahwa sebetulnya materi yang dikaji di Finlandia sama dengan materi yang pengajaran di Indonesia. Lantas beliau mempertanyakan mengapa barang yang sama, label yang sama tidak menjadi makanan yang sama  untuk murid kita?

 

“Sebagai guru, disini kita perlu membawa suatu perubahan, transformasi pembelajaran yang sifatnya sociocultural. Kami sangat berharap lokakarya ini tidak hanya memperkaya bapak ibu dalam segi pembelajaran tetapi juga membawa suatu perubahan pada lingkup berpikir kita sebagai guru. Bahwa kita belajar dari negara Finlandia yang bisa membuat pendidikan begitu bermakna,” ujar Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya itu.

 

Nina Orpana

 

Sebagai pelatih lokakarya, Nina Orpana, yang telah memiliki pengalaman 20 tahun mengajar dan beberapa kali dipercaya sebagai kepala sekolah, mengungkapkan bahwa hal penting dalam pendidikan Finlandia adalah hubungan informal dan kedekatan antara siswa dan guru. Menurutnya hubungan informal, atau kasual, antara guru dan murid bukan mengajarkan anak untuk bertindak tidak sopan kepada guru, tapi justru dalam batasan tertentu memotivasi anak untuk lebih terbuka sehingga tidak segan untuk bertanya dalam kelas dan memotivasi anak bahwa tidak ada pembatas yang memisahkan pimpinan dan subordinat, tapi rekan kerja yang mendukung.

 

"Good relations between students and teacher is really important. You (para guru) have to listen, understand and take account on their opinions (para murid). At class, teacher as a facilitator, they are among students. They support student’s autonomy," tuturnya.

 

Lebih lanjut, Nina menjelaskan bahwa bukan berarti setelah pelatihan ini merekomendasikan untuk menghilangan budaya timur yang selama ini kita kenal, melainkan yang penting adalah membangun hubungan yang mendukung kebebasan berekspresi dari anak tanpa menempatan posisi guru sebagai superior.

 

 

(kanan-kiri) Ananto Seta, Ph.D, Dr. Luciana, M.Ed. Mr. Ha¨rrki Jyrki, Pricilla Anindyta, M.Pd.

 

 

Topik yang diangkat dalam lokakarya ini mengenai Student Centered Learning atau pembelajaran yang berpusat pada siswa. Materi dirancang untuk memfasilitasi siswa agar dapat mengembangkan keterampilan dan kemampuan softskill  yang dibutuhkan saat ini.

 

Komitmen untuk Memajukan Pendidikan di Indonesia

 

Kegiatan yang berlangsung pada 26-27 Juni dan 28-29 Juni 2019 lalu ini diikuti oleh guru yang berasal dari berbagai kota di tanah air. Workshop international ini merupakan hasil kerjasama dan perdana antara Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dengan PT ALT dan Koulu Group Finland. Ini merupakan kali pertama Koulu Group Finland mengadakan loka karya di Indonesia. Sebelumnya mereka telah mengadakan kegiatan yang sama di beberapa negara seperti Mesir, Vietnam dan India. Koulu Group Finland sendiri merupakan institusi yang menaungi profesional yang berprofesi sebagai guru dan dosen di Finlandia, dan sering mengadakan pelatihan.

 

Ketika ditanya alasan mengapa Program Studi PGSD menyambut baik kerjasama ini, Kaprodi PGSD Unika Atma Jaya, Pricilla Anindyta, M.Pd., merasa bahwa sebetulnya secara teori guru Indonesia sangat kompeten dalam mengajar dan dapat dikatakan tidak beda dengan standar yang dibuat Finlandia, hanya menurut beliau persoalannya terletak pada bagaimana intepretasi teori dan bagaimana pembelajaran harusnya dikelas.

 

Suasana sesi diskusi

 

“Kita memang perlu belajar dari mereka. Sebaik apa sih pendidikan mereka? Sebaik apa sistem itu dijalankan di Finlandia dan apa yang bisa kita adopsi dari Finlandia supaya disekolah-sekolah bisa kita implementasikan. Karena sebenarnya secara teori guru-guru itu bisa, tetapi kok kenapa implementasinya tidak sebaik di sana (Finlandia). Nah oleh karena itu kita mau refresh guru-guru, mau mengembangkan karir dan wawasan mereka,”

 

Dalam kegiatan yang sama turut dihadiri oleh Ananto Seta, Ph.D, staf ahli menteri bidang inovasi dan Mr. Härrki Jyrki, utusan Kedutaan Besar Finlandia di Indonesia.

 

Ananto Seta, atas nama kementrian, mengucapkan terima kasih kepada Atma Jaya yang telah menjadi pionir memberikan inisiasi meningkatkan kapabilitas guru-guru melalui pelatihan.

 

“Pelatihan ini menjadi bagian dari menyiapkan, membangun SDM kita kedepan. Ini merupakan ide cemerlang dari Atma Jaya untuk menghadirkan trainers dari Finlandia,” tutur Ananto. (HCR)

 

Foto bersama pada workshop international Teach Like a Finn! batch 2


 

 

 

 

 

 

 

 

Kalender
S S R K J S M
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
bottom