Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Persiapkan Masyarakat Menghadapi Era 5.0 Melalui Transformasi Digital

Transformasi digital telah mengubah berbagai kebiasaan dan cara hidup masyarakat dan kalangan industri. Hal ini merupakan proses mengadaptasi praktik bisnis yang ada dengan metode digital baru untuk meningkatkan efisiensi dan mengikuti tuntutan pasar yang berubah dengan cepat.

 

Menghadapi isu tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya menyelenggarakan International Conference on Corporate and Marketing Communication (ICCOMAC) bertajuk “Creating a Society of 5.0 through Digital Transformation” di Gedung Yustinus lantai 15 Kampus 1 Semanggi, Selasa (9/7/2019).

 

Rektor Unika Atma Jaya Dr. Agustinus Prasetyantoko yang hadir, dalam sambutannya mengatakan, “tema yang diusung dalam conference kali ini sangat berkaitan dengan karakter universitas. Dimana kepedulian sosial sangat diperlukan tetapi transformasi digital tetap dilakukan, khususnya dalam menghadapi era 5.0.”

 

Senada dengan Rektor UAJ, Plt. Direktur Ekonomi Digital Kominfo Dr. Ir. I Nyoman Adhiarna, M.Eng sebagai keynote speaker dalam conference ini menjelaskan bahwa dunia sekarang menghadapi gelombang perubahan besar. Tren transformasi digital tidak dapat dihentikan dan secara drastis mengubah banyak aspek masyarakat, termasuk administrasi publik, struktur industri, pekerjaan dan kehidupan pribadi masyarakat.

 

Dr. Nyoman saat menyampaikan materinya dalam acara ICCOMAC 2019

 

“Ada banyak arah di mana masyarakat akan maju dengan perkembangan teknologi. Meskipun teknologi dapat menghasilkan perbaikan seperti standar kehidupan yang lebih tinggi dan kenyamanan yang lebih besar, teknologi juga dapat memiliki efek negatif, seperti dampak terhadap lapangan kerja, kesenjangan yang semakin besar, dan distribusi kekayaan serta informasi yang tidak merata,” jelasnya.

 

Dr. Nyoman juga mengatakan di era 5.0 masyarakat akan diharapkan untuk menggunakan imajinasi untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan dan tantangan yang tersebar di masyarakat dan skenario untuk menyelesaikannya, serta kreativitas untuk mewujudkan solusi tersebut dengan menggunakan teknologi dan data digital.

 

Society 5.0 akan menjadi Imagination Society, di mana transformasi digital digabungkan dengan kreativitas orang yang beragam untuk menghasilkan pemecahan masalah dan penciptaan nilai yang menuntun menuju pembangunan berkelanjutan. Ini adalah konsep yang dapat berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang diadopsi oleh PBB,” tuturnya.

 

Seusai Dr. Nyoman menyampaikan materinya, acara dilanjutkan dengan diskusi yang dibawakan oleh Jeffry Cole (Chairman, World Internet Project, Center for Digital Future), Henri Kasyfi Soemartono (Secretary General, APJII), dan Sergio Godoy E. (Facultad de Comunicaciones, Universidad Católica de Chile)

 

Suasana diskusi dalam acara ICCOMAC 2019 (dari kiri-kanan: Jeffry Cole, Sergio Godoy, Henri Kasyfi Soemartono, dan Dr. Dorien Kartikawangi sebagai moderator)

 

Jeffry Cole mengatakan bahwa teknologi mengubah pola hidup masyarakat. Mulai dari berkomunikasi, bekerja, bahkan dalam bersosialisasi. “We never occur to imagine this was going to totally transform how communities communicate, how trip we get from place to place the things like uber and grab, and we consume media. It’s affected everything, these businesses that had been created, these industries and it only getting more and more interesting,” ungkapnya.

 

Disisi lain, Sergio Godoy menjelaskan, dalam menghadapi perubahan teknologi digital, masyarakat harus beradaptasi dan memiliki pandangan terbuka akan hal tersebut. “If you really think, the whole life is being changing, not only a small innovation. 5.0 will change things in the very radical way, so you need to have a comprehensive view about that,” kata Sergio

 

Sementara Henri Kasyari menuturkan, halangan dan tantangan tentu ada disaat perubahan teknologi itu terjadi. Sama halnya yang dikatakan Sergio, Henry menyarankan agar masyarakat beradaptasi dengan cepat dan keluar dari “zona nyaman” nya.

 

Disruptions are everywhere so if you want to survive, business wise, social wise, I think you need to be able to adapt quickly. To think the changes that we are now experiencing are, we were not imagining it before, so I think in order to be able to survive all this disruptions you need to change not just outside the box but probably without box at all because you need to really think without box, think limitless,” kata Henri. (CTF)

 

Foto bersama antara pembicara dan peserta seusai diskusi

 

Kalender
S S R K J S M
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31
bottom