Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
GLOBAL INDONESIAN NETWORK China Exponential Growth: 10 Years First-hand Journey (Back to Indonesia)

Suasana Global Indonesia Network

 

Kamis, 27 Juni 2019- Global Indonesia Network bersama dengan Program Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Jakarta, Indonesia menyelenggarkan seminar dengan topik “CINA EXPONENTIAL GROWTH: 10+ Years Firsthand Journey — Back to Indonesia “

 

Pada seminar ini mengupas tentang bagaimana Cina bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia melalui investasi dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia dan teknologi. Peserta seminar diajak untuk mendengar langsung bagaimana cerita Cina berkembang hingga melonjakan pesat langsung dari Mulyono, Managing Director, BAce Capital dan Dr.phil. Hora Tjitra yang pada saat itu tinggal di Cina.

 

 Dr. phil. Juliana Murniati, M.Si.

 

Berbicara tentang Cina saat ini menjadi manarik khususnya disaat tensi perang dagang dengan Amerika Serikat meningkat. Berbicara tentang kekuatan ekonomi Cina tidak dapat lepas dari bagaimana Cina secara serius mengembangkan kompetensi sumber daya mereka.  Cina mengembangkan sistem pendidikan yang menekankan pada ilmu sains, matematika dan teknik. Terbukti pada tahun 2009 bahwa Cina telah mencetak lebih dari 10.000 Ph.D bidang teknik dan 500.000 sarjana sains. Jumlah lulusan ini lebih unggul dari negara lainnya. Hal menarik datang dari kebudayaan Cina yang sejak dahulu mengedepankan sejarah serta berfokus pada kesejahteraan masyarakatnya.

 

 Mulyono, Managing Director, BAce Capital

 

Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, yaitu 1.4 miliyar penduduk dan memiliki luas negara sebesar 9.6 miliyar kilo meter persegi. GDP negara Cina mengalami kenaikan dari 150 miliyar dolar di tahun 1978 menjadi 12.24 triliun dolar pada tahun 2017.  Kebijakan sistem pendidikan juga sejalan dengan perubahan teknologi. Cina memiliki lompatan terbesar yang terbagi ke dalam tiga fase, yaitu low-cost manufacturer, high-tech at low cost, dan high-tech superpower.

 

Fase pertama dimulai pada tahun 1998 dimana Cina berada pada fase low-cost manufacturer. Cina dijuluki sebagai pabrik dunia karena pabrik-pabrik di Cina memproduksi segala macam produk dalam jumlah sangat besar. Produk tersebut dapat ditemukan di berbagai tempat dengan harga sangat murah namun tidak terlalu memperhatikan kualitas produknya. Berikutnya pada tahun 2008 Cina masuk ke dalam fase high-tech at low cost. Fase ini sangat terlihat bahwa Cina tetap tidak meninggalkan keunikannya dalam menjual barang dengan harga sangat murah, tetapi barang yang diproduksi sudah memasuki kategori high-tech. Misalnya telepon genggam buatan Cina dengan harga sangat murah dan memiliki fitur-fitur canggih di dalamnya. Tidak cukup sampai di situ, tahun 2018 Cina menjadi high-tech superpower dimana Cina sudah menemukan dan mengembangkan teknologi yang sedang dikembangkan oleh seluruh dunia. Perusahaan Huawei meluncurkan 5G di saat negara Amerika belum mengeluarkan produk tersebut. Lalu, Cina juga berfokus pada pengembangan clean-energy technology, mobile payment, dan biotechnology yang dapat dikatakan bahwa ketiga teknologi ini akan menjadi fokus dunia dalam era perkembangan teknologi.

 

 Prof. Dr.phil. Hana R. G. Panggabean, Psikolog

 

Salah satu pusat dari perkembangan high-tech, terutama e-commerce, di Cina bahkan dunia adalah kota Hangzhou. Di kota ini ada salah satu icon kekuatan ekonomi Cina yaitu Alibaba. Hangzhou, yang berada pada provinsi Zhejiang, pada tahun 2016 lalu sebagai tuan rumah G20 dan tahun 2022 nanti akan menjadi tempat diselenggarakannya ASIAN Games. Hangzhou dikenal sebagai kota dengan pusat perkembangan e-commerce, pusat dari produk kain sutra dan teh termahal di Cina. Kota Hangzhou sendiri memiliki GDP lebih dari 1 triliun RMB.

 

 Dr. Phil. Hora Tjitra

 

Prof. Dr. Phil. Hana Panggabean sebagai pakar budaya organisasi dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya menyampaikan, “Saya kira yang sangat menarik dari Cina, bahwa mereka selalu merasa, dan memang, salah satu peradaban besar di dunia. Orang per orang selalu punya perasaan itu. Jadi merasa selalu merasa harus jadi yang terbaik di dunia dan harus selalu terlibat. Saya kira ini merupakan bagian dari kesejarahan mereka,” Ia juga melanjutkan agar Indoneisa harus menjadi kuat bukan berdasarkan tolak ukur yang ditentukan oleh bangsa lain tapi dengan kekuatan dan keunikan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri, “Kalau kita mau go global, mau jadi kuat, kita harus kuat dan berhasil dengan kekuatan kita. Jangan mengikuti kekuatan orang lain. Itu premisnya Global Indonesia Networking,”

 

Global Indonesia Netwok sendiri merupakan komuitas yang digagas oleh Prof. Dr.phil. Hana R. G. Panggabean, Psikolog, Dr. phil. Juliana Murniati, M.Si. dan Dr. Phil. Hora Tjitra, yang merupakan komunitas dialog antara akademisi dan praktisi. Komunitas ini percaya bahwa hasil temuan dari para akademisi tidak hanya cukup untuk kepentingan internal tapi sebenarnya dapat digunakan oleh di kalangan praktisi. Ketiganya melalui komunitas ini memiliki visi untuk mendorong sebanyak mungkin orang Indonesia agar go-global.

 

Pada sesi seminar ini, Bapak Mulyono membagikan pengalamannya ketika bekerja di Alibaba Group. Beliau terakhir menduduki jabatan sebagai Deputy Director di Alibaba Group hingga tahun 2017.

 

Politik satu anak yang diterapkan Cina sejak 1979 diakui Mulyono menjadi salah satu pendorong bagi generasi yang lahir dalam kurun waktu 40 tahun belakangan lebih terbiasa hidup individual dan dengan itu menmbuhkan sikap kompetisi dan agresifitas yang tinggi, “Temen-temen sewaktu kuliah itu mereka itu sendiri, dari kecil sampai kuliah. Baru ngerti namanya respect your dormmate, tapi sebelum itu mereka hidup sendiri. Mentality mereka itu ‘gue gabisa bergantung sama siapapun, I’m with my own destiny”.

 

Ia melanjutkan bahwa gaya itu terbawa sampai ke dunia kerja dan budaya organisasi di Cina. Ia membandingkan dengan budaya organisasi yang ada di Indonesia, khususnya dalam konteks digital idustry. Mulyono menilai bahwa di Indonesia mudah sekali puas meski baru menjadi nomor satu pada taraf regional, “Tapi kalau di Cina, world is the brench mark. Kalau bahasa Jack (Jack Ma) pada tahun 99 dia mulai sudah we’ll change the world. Saya rasa visi, misi dan value seperti ini yang agak kurang,

 

Muloyo juga bercerita pengalamannya selama berkerja untuk Alibaba, bahwa budaya organisasi di Alibaba amat baik dengan menghargai ide dan karya tiap pegawainya, bahkan ide gila sekalipun, selama akan memudahkan bisnis, “Jadi menurut saya budaya perushaan Alibaba itu sangat jelas, apakah bisnis di dalam kita itu bisa benefit, become better, effeciencynya, naik costnya rendah. That’s all,”

 

Dilain sisi, Prof. Hora berpendapat bahwa sebenarnya kekuatan orang Indonesia adalah dalam budaya guyub atau dalam kata lain kebersamaan dan berbagi. Menurutnya Indonesia sebenarnya merupakan salah satu bangsa yang paling mudah untuk menjalin hubungan sosial dan itu harusnya jadi kekuatan kita, tapi sering kali masalah kita adalah apakah orang Indonesaia bisa hidup sendiri mengingat budaya guyub yang amat kental.

 

Dalam paparan mereka, kedua pembicara kompak memberikan signal bahwa Indonesia kini sedang menghadapi momentum baik untuk go global. Mulyono memandang bahwa Indonesia menuju kearah yang baik dan positif melihat pertumbuhan pesat yang sedang terjadi di Indonesia kini dengan hadirnya berbagai start up dalam digital industry, “Kita secara keseluruhan is going to be good,” ujar Mulyono

Kalender
S S R K J S M
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
bottom