Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
Sempat Tertunda Pandemi, Frans Seda Award 2021 Anugerahkan Penghargaan kepada Insan Muda Peduli Kesehatan dan Pendidikan

 

Jakarta, 4 Oktober 2021 - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya bekerja sama dengan Yayasan Atma Jaya, dan Frans Seda Foundation kembali menganugerahan Frans Seda Award (FSA). Penghargaan ini ditujukan kepada insan muda perubahan masyarakat yang berdedikasi dan memiliki kepedulian dalam bidang pendidikan dan kesehatan di Tanah Air.

 

Penghargaan Frans Seda Award diselenggarakan setiap dua tahun sekali, semulanya direncanakan akan diselenggarakan pada tahun 2020. Situasi pandemi membuat pelaksanaannya dipindahkan ke tahun 2021, praktis seluruh proses seleksi, wawancara dan urusan administrasi kandidat sepenuhnya dilaksanakan secara daring.

 

Program kegiatan FSA tidak hanya mengenang, tetapi juga membagi dan menyebarluaskan semangat hidup Frans Seda yang bernilai bagi bangsa. Tema FSA 2021 yang kelima ini adalah “Sinergitas Pendidikan dan Kesehatan Saat dan Pasca Pandemi: Pendidikan dan Kesehatan bagi Semua” dengan dua bidang penghargaan utama pendidikan dan kesehatan.

 

Rektor Unika Atma Jaya, Dr. A. Prasetyantoko mengatakan “Ini adalah salah satu cara bagi kita untuk terus menerus mengejewantahkan dan menghidupi nilai-nilai serta semangat para pendiri. Kegiatan ini juga adalah cara bagi kita untuk membangun budaya multikultural dan kepedulian sebagai bagian pokok keberadan Unika Atma Jaya dan juga tujuan dari Frans Seda Award ini.”

 

Aspek pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang sangat krusial, terutama ketika masa pandemi ini. Frans Seda Award 2021 adalah saluran apresiasi terhadap aksi kemanusiaan yang diperjuangkan generasi muda Indonesia, serta wujud nyata dari nilai kepedulian kepada sesama, yang merupakan nilai inti dari Yayasan dan Unika Atma Jaya.

 

Untuk kategori bidang pendidikan dimenangkan oleh Ai Nurhidayat dari Pangandaran, Jawa Barat, sebagai pendiri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi. Sementara kategori bidang kesehatan dimenangkan oleh Dewi Wulan dari Jawa Barat sebagai pendiri Yayasan Terus Berjuang (Terjang).

 

Untuk pertama kalinya sejak awal diselenggarakan tahun 2011, Frans Seda Award memberikan penghargaan kepada tiga pemenang. Frans Seda Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan di Belanda, memilih Faiz Fakhruddin sebagai juara favorit Frans Seda Award 2021 dari kategori pendidikan. Faiz Fakhruddin adalah pendiri Sekolah Gajah Wong yang ada di kawasan Ledhok Timoho, Yogyakarta.

 

Ketua Yayasan Atma Jaya, Linus M. Setiadi dalam sambutannya berharap agar generasi muda dapat mengikuti semangat berkarya dari Frans Seda, “Semoga Frans Seda Award mampu memicu semangat berkarya dan berkreasi generasi muda, serta mendapatkan inspirasi dari semangat Frans Seda yang sejak masa belia mengerahkan upaya melakukan berbagai langkah nyata untuk mengabdi pada Tuhan dan Tanah Air.”

 

Dr. Angela Oktavia Suryani, M.Si., Ketua Panitia Frans Seda Award periode 2020-2021 mengatakan, “Penghargaan ini diberikan kepada insan-insan muda Indonesia yang inspiratif. Pada usia yang masih muda mereka mampu mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat baik secara ekonomi, pendidikan, sosial dan kesehatan. Ini merupakan upaya nyata komunitas Atma Jaya menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan menghidupi semangat Untuk Tuhan dan Tanah Air.”

 

Semoga pemenang dapat terus berkarya dalam pelayanan dan mengembangkan kegiatan kemanusiaan dibidang kesehatan maupun pendidikan untuk Tuhan dan Tanah Air.

 

Para Pemenang:

 

 

 

 

1. Ai Nurhidayat, pendiri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi.

 

Ai Nurhidayat adalah tokoh yang mengusung Bhineka Tunggal Ika menjadi suatu hal yang tidak hanya berupa omongan saja. Kelas Multikultural di SMK Bakti Karya Parigi merupakan program yang menghubungkan siswa dari berbagai suku dan etnik dari berbagai provinsi di Indonesia untuk bersekolah gratis selama 3 tahun melalui gerakan publik. Perwujudan multikulturalisme juga dibuahkan dalam bentuk Kampung Nusantara sebagai ekosistem belajar.


SMK Bakti Karya Parigi kini telah berhasil mempertemukan lebih dari 150 siswa dari 35 suku 25 provinsi yang berbeda budaya untuk saling mengenal satu sama lain. Tujuan akhir dari toleransi budaya yang tercipta di lingkungan sekolah diharapkan mengantisipasi konflik di masa depan dimulai dengan upaya menciptakan para pendamai yaitu para siswa/i SMK Bakti Karya Parigi.

Pertemuan dan hidup bersama menurut Ai adalah cara terbaik untuk mengubah persepsi orang dalam memandang keragaman sebagai anugerah, dimulai dengan pendekatan yang sangat kultural dan bercorak pada kebudayaan.

 

 

2. Dewi Wulan, pendiri Yayasan Terus Berjuang (Terjang).

Dewi Wulan Merupakan Pendiri Yayasan Terus Berjuang (TERJANG) yang dibangun pada November 2013 berdomisili di Jawa Barat. Yayasan ini mendampingi orang yang terkena TBC dan resisten obat (RO) yang sedang memulai pengobatan, dan menjalani pengobatan, dengan membangun kerja sama dengan rumah sakit serta pukesmas.

 

Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Terjang yaitu; Memberikan dukungan psikososial dan motivasi; Meningkatkan akses terhadap dukungan pengobatan dan perawatan Orang dengan TB Resisten Obat; Meningkatkan pengetahun tentang penyakit TB khususnya TB Resisten Obat melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang tepat dan benar kepada Orang dengan TB dan kontak Erat; Meningkatkan komitmen Orang dengan TB untuk menjalani pengobatan sampai dinyatakan sembuh; Melakukan kunjungan rumah Orang Dengan TB karena “delay treatment ” untuk dapat melanjutkan pengobatan sampai TUNTAS; dan Mencarikan donatur untuk memenuhi kebutuhan pasien.

 

 

 

 

3. Faiz Fakhruddin, pendiri Sekolah Gajah Wong

 

Berawal dari Kampung Komunitas Ledhok Timoho, Yogyakarta yang merupakan kampung dengan mayoritas masyarakat imigran, pengamen, pemulung dan sektor informal lainnya. Faiz Fakhruddin mendirikan Sekolah Gajah Wong pada tahun 2009 dengan tujuan memutuskan rantai kemiskinan dan memberikan fasilitas pendidikan kepada anak-anak usia 0-15 tahun yang tidak mendapatkan akses.

Sekolah Gajah Wong tidak dipungut biaya dan memiliki kurikulum tersendiri yang membuatnya berbeda. Dengan kurikulum utama pendidikan lingkungan, Sekolah Gajah Wong tidak hanya mengajarkan para murid tentang sekitarnya melainkan memberikan pengajaran kepada orang tua murid juga, seperti menjahit. Menarik perhatian banyak pihak, Sekolah Gajah Wong seringkali kedatangan universitas luar negeri untuk mendalami kurikulum sekolah dan juga terbuka untuk menjadi subjek penelitian mahasiswa. Pada masa pandemi Sekolah Gajah Wong tetap berjalan dengan menyesuaikan pendekatan dan pembelajaran.

 

Kalender
S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
bottom