Atma Jaya

Awards
Tagline


ENG | IND
 
FIABIKOM Sukses Selenggarakan Konferensi Internasional untuk Bisnis Inklusif

Research Synergy foundation dan Fakultas Administrasi Bisnis FIA UNIKA Atma Jaya telah sukses menyelenggarakan konferensi 2nd International Conference on Inclusive Business in the Changing World ( 2nd ICIB). Konferensi ini berfungsi sebagai sebuah platform akademisi yang bertujuan untuk membantu kalangan peneliti dalam mengeksplorasi peran penting bisnis inklusif di dunia saat ini. Kaitannya dengan keberlanjutan dan pertumbuhan masyarakat.

 

Ketua Research Synergy foundation, Dr. Hendrati Dwi Mulyaningsih mengatakan, 2nd ICIB juga bertujuan memberikan kesempatan kepada akademisi, praktisi, ilmuwan, dan sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas peran pemerintah, bisnis dan masyarakat dalam mencapai tujuan berkelanjutan dan mengidentifikasi cara yang efektif untuk menghadapi tantangan baik permasalahan regional dan global.

 

"Ide-ide penelitian dan studi yang kami terima untuk konferensi ini sangat menjanjikan, unik dan berdampak. Saya percaya, studi ini memiliki potensi untuk menghadapi tantangan utama dalam berbagai sub-domain dari ilmu sosial," kata Hendrati, Rabu (6/3).

 

Para peneliti yang menghadiri konferensi ini, lanjut Hendrati, akan merasa terbantu dalam menyempurnakan ide-ide penelitian mereka sendiri, menemukan solusi untuk masalah yang mereka hadapi. Mereka pun bisa berinteraksi dengan peneliti terkenal lainnya agar bisa melakukan kolaborasi.

 

Dia menjelaskan, Research Synergy foundation saat ini telah memiliki kolaborasi antara profesor senior dan peneliti junior dari berbagai wilayah dan bidang studi yang berbeda. Keragaman ini membuat platform ini menjadi tempat yang ideal untuk berbagi dan bertukar ide, dan meningkatkan kualitas penelitian untuk penerbitan lebih lanjut dalam jurnal atau proceeding terindeks.

 

Sementara itu, Rektor Universitas Atma Jaya Dr. Agustinus prasetyantoko mengatakan, perkembangan teknologi memang menjadi sesuatu yang penting untuk kemajuan manusia. Dunia pendidikan seperti universitas pun membutuhkan hal baru dan ide-ide cemerlang untuk perbaikan di masa depan.

 

Sambutan  Dr. Agustinus Prasetyantoko (Rektor Unika Atma Jaya) Konferensi Internasional dalam acara The 2nd International Conference On Inclusive Business In The Changing World

 

"Kita harap konferensi ini menjadikan masa depan yang lebih baik kaitannya dengan perkembangan revolusi industri 4.0," ujarnya.

 

Profesor dari Universitas Soka, Jepang, Hiroo Takahashi, yang hadir dalam konfensi ini menuturkan, perluasan ekonomi pasar dalam skala global until membaca sejumlah persoalan sosial seperti lingkungan global, iklim, polusi, kemiskinan, dan etika bisnis dalam hidup. Persoalan ini pun tak bisa diselesaikan tanpa kerja sama antaranegara. Perbaikan harus dilakukan bersama-sama sehingga apa yang bisa berdampak negatif dari perkembangan bisnis dunia mampu diminimalisir.

 

Hiroo yang juga Pendiri Masyarakat Jepang untuk Etika Bisnis (JABES) mengatakan, banyak konsep yang telah dimunculkan untuk menjaga agar perkembangan usaha tidak menciderai kehidupan manusia. " Konsep ini dinyatakan dalam bentuk pernyataan bersama seperti UN Global Compact, Pedoman OECD maupun GRI (Global Reporting Initiative)," kata Hiroo.

 

Menurutnya, setiap negara memiliki etikanya dalam menjalankan bisnis yang berdampingan dengan keberlangsungan masyarakat. Etika sebuah perusahaan dalam berbisnis dan menghadirikan program CSR membuat role model perusahaan dalam bentuk sosial pun terus berkembang.

 

"Karakter perusahaan sekarang didasarkan pada pertanyaan apakah perusahaan dapat hidup berdampingan dengan masyarakat," ujar dia.

 

Sementara itu, Joshua Park menjelaskan, kemajuan teknologi yang pesat sebenarnya telah memanggil masyarakat untuk menata kembali atau memodifikasi model strategi bisnis yang dijalankan. Kemudahan akses teknolgi pun memunculkan sejumlah perusahaan-perusahaan dalam bentuk baru, yakni ‘Born Global’ atau Internasional New Ventures (INVS) sebagai jenis penting dari usaha start-up.

 

"Ini membawa kita untuk melihat pentingnya UKM dalam ekonomi global serta strategi bisnis untuk UKM dalam pandangan yang berbeda," paparnya.

  

Meski demikian, role bisnis ini pun tetap menghadapi sejumlah tantangan. Joshua mengatakan, terdapat dua hal yang harus bisa diselesaikan perusahaan di saat ini. Pertama, menemukan pendekatan yang membantu mereka untuk menargetkan dan memasarkan secara akurat pada pasar-pasar yang sesuai dengan kekuatan mereka.

 

Dan yang kedua, adanya perbedaan sosial dan budaya memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dalam konteks ini bahwa aturan negosiasi global yang cocok untuk membantu pemerintah, bisnis, dan individu untuk bisa kolaboratif, yang memungkinkan adanya pergerakan kepada SDGs dan bisnis inklusif.

 

"kami akan berusaha untuk memberikan pedoman keterampilan dan strategi yang diperlukan untuk UKM, terutama INVS, agar fungsinya berhasil sebagai bagian dari lingkungan ekonomi global," kata Joshua.

  

 

Foto bersama seusai acara The 2nd International Conference On Inclusive Business In The Changing World

 

sumber : https://www.jawapos.com/jpg-today/06/03/2019/pelaku-usaha-didorong-jaga-iklim-keberlanjutan-manusia

Kalender
S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
bottom