Home » Fakultas » Info Fakultas

Metode Pembelajaran KBK

Metode pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum FKUAJ tahun 2012 merupakan perkembangan dari KBK 2006. Jika student-centered learning (SCL) dalam KBK 2006 terfokus pada metode PBL saat ini dalam KBK 2012 terdapat beberapa metode SCL. Titik berat metode pembelajaran yang student-centered seringkali sulit dipahami oleh berbagai pihak—dosen dan mahasiswa. Salah satu faktor penting dalam pemahaman SCLadalah perlunya pengayaan strategi pembelajaran oleh dosen yang lebih variatif bagi mahasiswanya. FKUAJ telah memperkenalkan problem-based learning (PBL) sebagai salah satu metode pembelajaran yang student-centered. Meskipun demikian, PBL bukanlah satu-satunya metode SCL. Hingga saat ini mayoritas dosen FKUAJ masih menggunakan metode teacher-centered dalam kegiatan di ruang kelas ataupun di laboratorium, variasi SCL tampaknya belum menjadi pilihan nyata bagi dosen FKUAJ. Pengayaan metode SCL dengan demikian mendesak untuk dilaksanakan. Bab ini menampilkan beberapa variasi SCL. Selain itu metode perkuliahan, praktikum dan SL tetap digunakan. Berikut ini rincian metode pembelajaran di FKUAJ:

1.       Perkuliahan
 
Perkuliahan terutama diberikan dengan tujuan untuk menjelaskan suatu konsep, hal-hal yang bersifat prinsip, ataupun masalah yang sukar dipahami oleh mahasiswa.
 
2.       Student-centered learning (SCL)
 
Beberapa metode SCL dapat dipilih untuk diterapkan dalam proses pembelajaran:
 
A.  Tutorial Problem Based Learning (PBL)
 
PBL adalah strategi pendidikan yang menggunakan masalah atau problem sebagai stimulus untuk mendapatkan berbagai informasi yang diperlukan guna memahami masalah dan menemukan penyelesaiannya. Metode ini merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa dan terintegrasi. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan, kemandirian dan kemampuan mahasiswa dalam belajar dan berpikir secara kritis, agar nantinya mereka mempunyai kebiasaan belajar seumur hidup. Selain itu, metode ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama dan ketrampilan berkomunikasi karena dalam pelaksanaannya mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan aktif berdiskusi. Dengan melalui metode ini juga mahasiswa diperkenalkan dengan masalah klinik sedini mungkin (early clinical exposure).

Dengan metode PBL, berbagai ketrampilan dapat diperoleh mahasiswa. Secara ringkas, ketrampilan dan sikap yang dapat dicapai melalui PBL adalah:
·         Kemandirian dan keaktifan belajar
·         Wawasan dan keterpaduan ilmu pengetahuan
·         Berpikir analitik
·         Ketrampilan memecahkan masalah
·         Kemampuan bekerja sama dalam kelompok
·         Ketrampilan berkomunikasi
·         Ketrampilan penelusuran kepustakaan (media cetak dan elektronik)
·         Keterbukaan

Pada problem based learning, mahasiswa dikelompokkan menjadi kelompok kecil yang difasilitasi oleh seorang tutor. Suatu masalah akan diberikan kepada kelompok ini dalam bentuk skenario, audiovisual ataupun pasien simulasi. Dalam proses diskusi digunakan langkah-langkah yang dikenal dengan nama “Seven Jumps from Schmidt”.

1.       Klarifikasi istilah-istilah dan konsep yang tidak dimengerti
2.       Menentukan masalah-masalah
3.     Brainstorming tentang hipotesis atau penjelasan yang mungkin merupakan jawaban dari masalah-masalah yang dikumpulkan pada langkah ke-2.
4.       Menyusun penjelasan/hipotesis menjadi solusi sementara
5.       Merumuskan tujuan pembelajaran
6.       Mengumpulkan tambahan informasi (belajar mandiri)
7.       Mempresentasikan berbagai informasi yang telah dikumpulkan
 
Sebuah skenario membutuhkan 2 kali pertemuan untuk diskusi kelompok dalam satu minggu. Selain itu, konsultasi pakar yang dilakukan di luar ruangan diskusi dapat diadakan bila dibutuhkan oleh mahasiswa. Diskusi pleno yang sekaligus bersifat sebagai konsultasi pakar dengan kehadiran seluruh pakar, diadakan di akhir blok bila diperlukan.
 
B.  Belajar mandiri (Independent Learning)
 
Belajar mandiri adalah kegiatan belajar yang dilakukan oleh mahasiswa tanpa didampingi oleh dosen atau tutor. Meskipun demikian, dosen wajib memberikan bahan ajar yang sesuai atau tugas untuk dikerjakan pada saat belajar mandiri. Belajar mandiri dapat dilakukan secara individual maupun berkelompok. Mahasiswa menentukan sendiri tujuan pembelajaran, informasi yang perlu mereka ketahui, di mana dan kapan mereka dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan, serta bagaimana cara memperolehnya (apakah melalui internet, membaca text book atau jurnal, atau bertanya kepada pakar).
 
Penugasan dapat juga dimasukkan kedalam bentuk belajar mandiri. Tugas tidak selalu berbentuk tulisan atau ringkasan atau membaca teks. Tugas dapat bersifat kreatif, menguji kognisi, psikomotor dan sikap. Pemberian tugas kreatif dapat berupa pembuatan audio visual suatu topik, pembuatan poster, pembuatan alat peraga, dll. Metode ini bagian dari experiential learning. Metode ini memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir kreatif dan mendorong dosen berpikir out of the box.
 
C.      Jigsaw

Pendekatan SCL lain adalah jigsaw. Metode ini dapat membantu dosen mengurangi pemberian seluruh topik dalam kuliah dan membantu mahasiswa bekerja sama serta saling menolong. Dosen dapat membagi kelompok perkuliahannya dalam kelompok kecil dan memberikan topik atau soal atau kasus yang berbeda bagi tiap kelompok kecil ini untuk didiskusikan pada sesi pertama, sessi ini dinamakan focus group. Pada sessi kedua, kelompok berpencar dan dosen sebagai fasilitator telah membagi distribusi kelompok sehingga setiap kelompok kini berisi beragam topik dari kelompok fokus. Sessi kedua ini dinamakan home group (dalam “home” ada beragam masalah, beragam peran yang dapat dipelajari bersama). Dalam sessi kedua ini mahasiswa membagikan soal atau topik dari fokus masing-masing kepada teman sekelompok sehingga dalam sessi ini seluruh topik atau soal telah terbahas. Dosen perlu berperan sebagai fasilitator yang memonitor pembicaraan dalam kedua sessi. Pada sessi pertama dosen perlu memastikan setiap anggota kelompok menguasai topik tersebut sebelum kemudian dibagikan pada sessi kedua. Gambar 1 menampilkan diagram jigsaw. Kelompok ABC, KLM dan XYZ adalah focus group pada sessi pertama jigsaw yang membahas tiga topik atau soal yang berbeda. Kelompok AKX, BLY dan CMZ adalah home group, pada sessi kedua jigsaw. Dalam kelompok home AKX misalnya, A akan membahas topik/soal pertama, K akan membagikan topik/soal kedua dan X akan berbagi topik/soal ketiga dari masing-masing focus group sebelumnya.


Gambar 1. Diagram jigsaw.

D.      E-learning (Moodle)
 
Pesatnya kemajuan teknologi mendorong diciptakannya metode pembelajaran yang sejalannya. E-learning sebutan umum untuk induk pembelajaran berbasis media elektronik online. Hingga saat ini telah banyak dibuat portal freeware untuk menjadi host pendistribusian bahan ajar dan pembelajaran via internet. Atma Jaya telah sejak tahun 2004 menggunakan freeware bernama Moodle. Moodle membantu dosen dalam distribusi bahan, interaksi dengan mahasiswa, pemberian PR atau tugas dan penilaian PR atau tugas. Fasilitas ini dikelola oleh Puskom dan pelatihan rutin terus diadakan untuk refreshing Moodle. Keunggulan Moodle terletak pada mudahnya dosen membagikan bahan ajar termasuk memberi tugas bagi mahasiswanya. Sistem paperless juga dengan demikian terdukung dengan adanya Moodle ini. Mahasiswa dapat diminta mengumpulkan bahan melalui Moodle dan dosen dapat memberikan penilaiannya langsung di dalam Moodle. Saat ini, koneksi internet hampir dimiliki oleh setiap individu, sehingga akses Moodle tidak terlalu bermasalah. Pada masa yang akan datang dengan penambahan bandwith Atma Jaya, sangat dimungkinkan e-learning tidak berhenti pada Moodle saja. Penambahan bandwith pun sangat mungkin didorong oleh bertambahnya pengguna internet di tiap fakultas. Oleh karena itu, pemilihan metode pembelajaran berbasis internet perlu menjadi pilihan para dosen di FKUAJ.

E.      Peer-assisted learning (PAL)

PAL merupakan salah satu contoh bagaimana mahasiswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran di universitas. PAL melibatkan seorang peer-tutor (PT) yang bisa saja mahasiswa tingkat atas atau mahasiswa dalam tahun yang sama dengan mahasiswa yang dibimbingnya. Mahasiswa sebagai PT diharapkan memperoleh keuntungan dalam mengembangkan dan memperdalam ilmu untuk ditularkan kepada kelompok mahasiswa yang dibimbingnya. Cukup banyak bukti bahwa mengajar menjadi salah satu cara belajar yang efektif. Penelitian kontemporer menunjukkan efektivitasnya mencapai 90 persen (dalam: Sausa, D. A. (2006). How the Brain Learns. Thousand Oaks: Corwin Press). Di pihak lain, kelompok mahasiswa yang dibimbing oleh seorang PT juga mendapatkan atmosfer belajar yang menyenangkan sehingga cara ini diharapkan mampu meningkatkan semangat belajar dan memperdalam materi mahasiswa. Mahasiswa PT juga menemukan keuntungan dengan mempelajari ulang materi, mengasah leadership, saling berbagi dan menolong. Bagi institusi, metode ini juga menguntungkan untuk pendeteksian dini calon dosen yang berasal dari benih PT yang baik.

Dosen juga mendapatkan keuntungan dengan adanya PAL. Lingkaran pengajaran tidak hanya berpusat pada kuliah di dalam kelas dengan dosen sebagai pusat belajar. PAL meringankan tugas dosen dalam hal mendistribusikan bahan-bahan pelajaran yang sebenarnya tidak perlu diajarkan di dalam kelas sebagai bahan kuliah saja. Sementara itu, desain PAL tidak serta merta menyerahkan suatu bahan kepada PT untuk diajarkan kepada mahasiswa kelompoknya, PAL memerlukan kreativitas dan pengetahuan dosen untuk mendesain modul yang dibutuhkan bagi PT dan kelompok mahasiswa. Dosen dengan demikian mendayagunakan pengetahuan yang dimilikinya tidak hanya untuk mendesain materi, tetapi juga secara kreatif menciptakan kondisi pengajaran yang akan mendorong PAL. PAL menumbuhkembangkan ide pengajaran dari dosen yang dengan demikian selalu terbarui sesuai tuntutan mahasiswa dari waktu ke waktu. Dengan demikian dosen juga menjalankan continuing education.

3.       Praktikum

Praktikum bertujuan untuk menunjang pengetahuan yang telah diberikan pada saat kuliah. Kegiatan praktikum akan diadakan di ruang laboratorium. Sebagian besar kegiatan praktikum pada kurikulum konvensional yang bertujuan hanya untuk memperlihatkan gambar sediaan dapat diganti dengan kegiatan demonstrasi menggunakan spesimen ataupun audiovisual, baik di ruang kuliah maupun di ruang praktikum.

4.       Skills lab

Skills Lab bertujuan untuk melatih ketrampilan klinis mahasiswa, seperti komunikasi, anamnesis, pemeriksaan fisik, ketrampilan klinik dasar, prosedur diagnostik dan terapi, dengan menggunakan manekin atau pasien simulasi. Mahasiswa dikelompokkan menjadi satu kelompok kecil yang akan dibimbing oleh seorang instruktur. Skills lab diselenggarakan 2 kali dalam waktu satu minggu. Di luar jadwal terstruktur, mahasiswa diberikan kesempatan untuk berlatih sampai trampil secara mandiri. Salah satu bentuk kegiatannya dapat berupa bermain peran.
 
5.       Case-Based Learning (CBL)

Case-based learning adalah suatu metode pembelajaran di mana mahasiswa bertugas untuk memecahkan suatu kasus. Di dalam kedokteran, kasus yang sering digambarkan adalah tentang masalah pasien di mana mahasiswa harus melakukan analisis, interpretasi data, membuat rencana penatalaksanaan. Data yang dipaparkan dalam suatu masalah dapat berasal dari satu kasus atau dikumpulkan dari berbagai sumber, bahkan dari literatur yang dipublikasikan, yang meliputi keluhan pasien, hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium. Mahasiswa ditugaskan untuk melakukan analisis kritis tentang relevansi dan kegunaan data, menguraikan artinya dan akhirnya mengusulkan suatu hipotesis. Hipotesis yang diusulkan pada umumnya meliputi rencana pemeriksaan selanjutnya, diagnosis masalah pasien dan rencana penanganan. CBL dapat dilakukan mulai tahun ketiga pendidikan kedokteran hinga tingkat kepaniteraan.

6.       Field study

Studi lapangan dengan kunjungan ke tempat-tempat yang menunjang pembelajaran telah terbukti efektif bagi proses belajar mahasiswa terutama jika diiringi dengan proses refleksi. Beberapa blok di FKUAJ telah menerapkan field study, misalnya blok paliative care, blok Kedokteran Adiksi, dan blok entreprenuership. Kunjungan lapangan dibimbing oleh fasilitator dari FKUAJ maupun dari tempat yang dikunjungi. Setelah kunjungan, mahasiswa diminta membuat presentasi atau laporan serta diajak berdiskusi untuk memaknai pembelajarannya.

 7.       Case based teaching (kuliah kasus)
Case/kasus adalah deskripsi problem di mana mahasiswa bertugas untuk memecahkan masalah tersebut. Di dalam kedokteran, kasus yang sering digambarkan adalah tentang masalah pasien di mana mahasiswa perlu melakukan analisis, interpretasi data dan membuat keputusan. Kuliah kasus dengan demikian dapat dibuat bervariasi, terutama di tingkat kepaniteraan dengan mengembangkan analisa yang komprehensif.
 
8.       Bed side teaching

Kontak langsung dengan pasien merupakan faktor penting dalam proses pengembangan clinical reasoning, kemampuan berkomunikasi, sikap profesional dan empati. Oleh sebab itu, mahasiswa diharapkan sedini mungkin mengadakan kontak langsung dengan pasien di bangsal rawat inap dan rawat jalan (poliklinik) ataupun dalam komunitas (PUSKESMAS), kegiatan ini dilaksanaan terutama saat kepaniteraan.

9.       Morning Report
 
Morning report sering diterapkan di tingkat kepaniteraan. Utamanya berisi laporan kondisi pasien yang ditemui oleh mahasiswa di bagiannya. Cara belajar ini dapat mendorong tidak hanya penguasaan pengetahuan tetapi juga sisi profesionalitas mahasiswa kepaniteraan. Metode ini diikuti dengan tanya jawab antara dosen dan mahasiswa dengan demikian dapat menjadi pengukuran langsung tingkat penguasaan kasus oleh mahasiswa terkait.

10.    Journal Reading

Journal reading merupakan pendekatan belajar berbasis data dan publikasi ilmiah untuk mempelajari suatu kasus kedokteran atau kesehatan (evidence-based medicine). Kegiatan ini sebaiknya dilakukan secara kontinu oleh pembimbing di tingkat kepaniteraan dalam kelompok kecil mahasiswa. Perlakuan yang kontinu dapat merangsang daya pikir mahasiswa dan dengan demikian dapat mendorong siklus akademis ke arah penelitian serta penerapannya dalam dunia nyata (pengabdian kepada masyarakat).
 
11.    Referat

Penulisan ringkasan secara ilmiah telah lama diterapkan dalam pembelajaran untuk mendorong mahasiswa berpikir kritis, terstruktur dan belajar menulis secara komprehensif. Penulisan ilmiah dapat menjadi penugasan sejak masa pre-klinik sehingga saat menulis refrat di tingkat kepaniteraan dapat dilakukan dengan lebih profesional.


Informasi Untuk
Agenda Kegiatan
S S R K J S M
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          
bottom
Home | Site Map | Kontak Kami
Copyright © 2012 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved
Ayo temui kami via