EN | ID
 
Public Lecture Japanese Writing

Jakarta, 30 Mei 2017 – Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menyelenggarakan Public Lecture “Japanese Writing: What and How?” pada Jumat (26/5) diRuang Multimedia Teknik. Pembicara yang hadir adalah Onuma Genya (Kanda University of International Studies).

 

“Acara ini bertujuan untuk mengenal sejarah penulisan Bahasa Jepang dari awal hingga sampai saat ini. Kita berusaha memasukkan macam-macam penulisan Jepang seperti Hiragana, Katakana dan lainnya di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan mencoba menulis nama kita sendiri menggunakkan karakter-karakter tersebut,” ucap Victoria selaku Ketua Acara.

 

Pada awalnya, dokumen bahasa Jepang ditulis dalam bahasa Tionghoa, dan dilafalkan menurut cara membaca bahasa Tionghoa.

Meski Jepang mengadaptasi Kanji  dari China, namun tidak semua Kanji yang ada di Jepang sama dengan Kanji China. Hal ini terjadi karena ada beberapa Kanji yang mengalami penyederhanaan bentuk. Selain itu, jumlah Kanji yang ada di Jepang tidak sebanyak yang ada di China.

 

Kanji adalah salah satu jenis huruf yang dipergunakan dalam bahasa Jepang dan mempunyai ciri tersendiri terutama dalam cara baca dan cara penulisannya. Oleh karena itu, Kanji sering disebut sebagai huruf yang sangat sulit untuk dipelajari. Walaupun begitu, Kanji merupakan salah satu huruf yang sangat penting dalam bahasa Jepang karena setiap huruf menyatakan arti. Onuma mengatakan bahwa Bahasa Jepang kaya sekali akan kosa kata yang memiliki ucapan yang sama, tetapi dengan adanya Kanji maka kesalahan pahaman pengertian dapat dihindari.

 

Katakana dan Hiragana Table

 

Orang Jepang sendiri masih mengalami kesulitan dalam menulis huruf Kanji, untuk itu bagi yang baru belajar Bahasa Jepang, disarankan lebih dahulu mempelajari penulisan Katakana dan Hiragana. Penulisan Katakana dan Hiragana lebih mudah dibandingkan Kanji dan biasanya bersifat informal. “Hiragana dan Katakana adalah simbol fonetik, masing-masing mewakili satu suku kata. Katakana biasanya lebih sering dipakai di beberapa daerah di China. Untuk Hiragana jumlahnya ada 48 karakter, itu sebabnya angka 48 merupakan angka spesial bagi orang Jepang. Dengan belajar menulis Katakana dan Hiragana, maka bisa melatih konsentrasi kita,” ucap Onuma.

 

Onuma menambahkan ketika ingin menulis karakter Jepang, maka harus menulisnya dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Di tabel Katakana dan Hiragana, tidak terdapat huruf “l”. Onuma menjelaskan bahwa orang Jepang susah untuk mengenali dan mengucapkan huruf “r” itu sebabnya pengucapan huruf “r” tidak berbeda dengan huruf “l”.

 

Onuma Genya sedang mengajari salah satu peserta

 

Di penghujung acara, Onuma sempat mengajak para peserta untuk belajar menulis nama mereka menggunakan huruf Katakana. Onuma berkeliling ke meja para peserta untuk memeriksa apakah penulisannya sudah benar atau belum. Apabila ada peserta yang kesulitan menulis namanya, Onuma tak segan untuk mengajarinya.

 

“Saya berharap semua peserta bisa belajar banyak tentang tulisan Jepang. Bagi yang pertama kali belajar Bahasa Jepang, kedepannya mereka bisa lebih tertarik untuk mengenal dan mendalami sejarah dan penulisan Bahasa Jepang serta multikultural di dunia ini. Saya juga berharap acara ini bisa menjadi pintu utama bagi para peserta dalam mendapatkan partnership baik untuk kuliah maupun bekerja,” tutur Victoria.

 

Di zaman Globalisasi saat ini, berbagai negara berusaha untuk bisa berhubungan satu sama lain, untuk itu tidak ada salahnya memulai belajar bahasa baru, salah satunya bisa dimulai dengan belajar Bahasa Jepang. (SH)

 

Beberapa perwakilan Unika Atma Jaya berfoto bersama Onuma Genya (tengah) seusai acara

S S R K J S M
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved