EN | ID
 
Perayaan Kelahiran Pancasila dan Unika Atma Jaya

Jakarta, 2 Juni 2017 – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya melangsungkan acara Tirakat Peringatan Kelahiran pancasila sekaligus Ulang Tahun Unika Atma Jaya yang ke- 57 pada Kamis (1/6). Acara dibuka dengan Sarasehan Kebangsaan bersama tiga pembicara Inayah Wulandari Wahid (Gusdurian), Romo JN Hariyanto, dan Ismail Hasani. Kegiatan Sarasehan tersebut dipandu oleh Andian Dian Dwifatma yang merupakan salah satu pengajar muslim Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya sebagai moderator. Selain Sarasehan, juga diselenggarakan buka Puasa bersama dan tirakat peringatan kelahiran Pancasila. Tirakat tersebut berisi kegiatan seperti membentuk formasi tulisan NKRI dengan lilin oleh para peserta, menyatakan komitmen terhadap Pancasila sebagai dasar negara kita bersama para pimpinan universitas serta perwakilan pancasila, dan doa bersama yang dipimpin oleh enam pemuka agama.

 

Dr. Agustinus Prasetyantoko selaku rektor Unika Atma Jaya memberikan sambutan sebagai pembuka acara Sarasehan Kebangsaan. “Peringatan berdirinya Atma Jaya yang bertepatan dengan Hari Kelahiran Pancasila bukanlah sebuah kebetulan belaka. Para pendiri dengan sadar menegaskan posisi Atma Jaya yang memiliki identitas Katolik ini sebagai kampus dengan semangat kebangsaan. Dengan demikian, upaya terus-menerus bergumul dengan persoalan bangsa harus terus dilakukan.

 

Seperti sekarang ini, saat bangsa tengah menghadapi menguatnya radikalisme yang berbasis identitas, maka Kampus Unika Atma Jaya perlu secara nyata berpartisipasi aktif merekatkan kembali semangat Pancasila dan Kebhinekaan. Kampus sebagai tempat bergumulnya kaum muda dalam menemukan identitas, harus menjadi sarana yang sangat baik menumbuhkan semangat kebangsaan dengan prinsip kebhinekaan,” jelas Prasetyantoko dalam sambutannya.

 

Inayah Wulandari menyatakan sesungguhnya kekuatan anak – anak muda atau generasi muda sesungguhnya ada dan nyata. Meskipun mereka tidak menyuarakan pendapat dan opini mereka secara masif, namun sesungguhnya dibalik itu mereka bekerja dan bergerak. “Ada umat Kristen yang pernah cerita ke saya, kalau mereka lebih sering mendapatkan ucapan selamat natal dari umat yang beragam Islam,” ucapnya.

 

Untuk lebih menarik minat dan perhatian generasi muda terhadap nasionalisme NKRI, maka ada pergantian positive movement menjadi happiness movement. Movement tersebut berfokus untuk menciptakan harmoni serta perdamaian (peace). “Kita harus jatuh cinta terlebih dahulu kepada Indonesia, baru kita bersedia melakukan banyak hal untuknya” ujar Inayah.

 

Suasana Sarasehan bersama Ismail, Romo Hariyanto, Inaya, dan Andina (Dari Kiri ke Kanan)

 

“Ahmadiyah adalah salah satu contoh terjadinya perbedaan pendapat diantara kita,” Ucap Romo Hariyanto Rohaniawan, Pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace – ICRP yang berdiri resmi pada tahun 2000. Begitu banyak larangan kepada Ahmadiyah, seperti mesjid mereka yang pernah disegel. Ada aliran Ahmadiyah yang dilukai bahkan dibunuh, dan masih jadi tersangka pula. Disamping itu, sekarang banyak muncul aliran Facebookiyah, dimana orang – orang merasa menjadi ahli agama hanya dengan membaca posting atau potongan ayat yang ada di facebook. Berbahaya jika negara bisa ditekan hanya untuk membela suatu kelompok atau golongan tertentu. Untuk itu, kita harus mampu bersuara dan membuatnya menjadi viral. Menurut Romo, kita perlu lebih dari sekedar toleransi. Karena, toleransi bisa juga artinya membiarkan. “Penting bagi kita untuk mampu merayakan perbedaan,” ucap Romo Hariyanto. Jangan sampai ada dominasi oleh suatu golongan atau kelompok.

 

Menururt Ismail Hasani Direktur Riset Setara Institut, negara tidak boleh kalah dengan mempertahankan kemajemukannya. Negara harus mampu menguatkan teori serta praktek ketahanan nasional. Jangan sampai timbul antikeberagaman. “Penegakan Hukum adalah kunci utama,” tutur Ismail.

 

Setelah sarasehan dan buka puasa bersama acara dilanjutkan dengan Tirakatan Hari Pancasila melalui parade lilin oleh para peserta dengan membentuk formasi NKRI. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa, alumni dan masyarakat umum bersatu menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seperti Garuda Pancasila, Gebyar-Gebyar, Satu Nusa Satu Bangsa, dan lain sebagainya. Deklarasi Komitmen kecintaan terhadap Pancasila yang dipimpin oleh para pimpinan universitas dan diakhiri dengan doa bersama lintas agama oleh enam pemuka agama yaitu Zuhairi Misrawi (Gus Mis) mewakili umat Muslim, Romo Bernardus Hardijantan Dermawan, Pr. mewakili umat Katolik, Pandita Liem Wira Wijaya mewakili umat Buddha, Ciao Sheng Susanto Kurniawan mewakili umat Khong Hu Chu dan Pdt DR.Mangapul Sagala mewakili umat Kristen.

 

Enam Pemuka Agama yang hadir dalam acara tirakat pancasila di Unika Atma Jaya

 

Salah satu perwakilan Banser NU yang turut hadir sebagai bagian dari kepanitiaan, Bapak Muhammad Wasruni mengatakan sebagai organisasi yang mencintai NKRI dan berasaskan Pancasila menganggap acara ini adalah acara yang bagus karena dari sinilah kita, warga Indonesia dapat menghargai siapapun dan apapun agamanya. “Siapa yang mengganggu NKRI akan berhadapan dengan kami dan Banser akan siap dibarisan depan membela NKRI,” ujar Muhammad Wasruni. (IN) 

S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved