EN | ID
 

Home » Fakultas » Info Fakultas

Sejarah

A.       PERIODE AWAL

 

1.             Cikal Bakal Pendirian FKIP

 

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah sangat membutuhkan banyak tenaga guru yang diperlukan untuk mencerdaskan bangsa Indonesia. Di lain pihak, lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mendidik dan menghasilkan tenaga guru masih sangat kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pemerintah Indonesia membuka semacam Crash Program berupa Kursus B1 dan B2. Pemerintah juga membuka peluang bagi institusi swasta untuk menyelenggarakan Kursus B1. Salah satu di antaranya adalah penyelenggaraan kursus B1 Bonaventura yang dipimpin oleh J.B. Legiman, S.H. Pada tahun 1960-an semua kursus B1 dan B2 ditiadakan karena kursus-kursus (B1 dan B2) tersebut dianggap kurang memenuhi syarat untuk menghasilkan tenaga guru yang bermutu. Oleh karena itu, pemerintah membuat suatu kebijakan untuk mendirikan lembaga pendidikan guru yang setaraf universitas yaitu IKIP atau FKIP.

 

Dalam menerapkan kebijakan tersebut, Pemerintah mengajukan dua alternatif. Pertama, apabila Kursus B1 dan B2 tetap ada dalam pengadaan guru maka institusi tersebut harus mengembangkan diri menjadi lembaga pendidikan yang setaraf universitas. Kedua, apabila Kursus B1 dan B2 tidak mau mengembangkan diri sebagai lembaga pengadaan guru yang profesional maka institusi tersebut harus membubarkan diri. Kursus B1 Bonaventura memutuskan untuk memilih alternatif yang pertama. Untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi setaraf universitas dibutuhkan modal yang tidak sedikit, sedangkan Kursus B1 Bonaventura tidak mempunyai dana untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi, hal ini menjadi suatu pemikiran yang berat bagi Bonaventura. Cara yang ditempuh oleh Kursus B1 Bonaventura adalah mengabungkan diri dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan inilah cikal bakal pendirian FKIP Unika Indonesia Atma Jaya. Penggabungan ini terjadi pada tanggal 1 Januari 1961, dan dengan demikian, dapat dikatakan bahwa FKIP merupakan kelanjutan dari Kursus B1 Bonaventura.

 

2.                  Proses Penggabungan

 

Kursus B1 Bonaventura memilih bergabung dengan Unika Atma Jaya karena keduanya sama-sama merupakan lembaga pendidikan Katolik dan kepercayaan akan masa depan Unika Atma Jaya yang lebih baik. Suatu kebetulan bahwa pimpinan Kursus B1 Bonaventura, J.B. Legiman, S.H., adalah salah satu pendiri Atma Jaya, sehingga lebih mempermudah proses penggabungan. Di lain pihak, Unika Atma Jaya menerima dengan baik usaha penggabungan ini sehingga prosesnya tidak mengalami hambatan.

 

Cita-cita para pendiri Atma Jaya adalah turut-serta dalam usaha mencerdaskan bangsa Indonesia, termasuk melaksanakan pendidikan sebagai wadah pengadaan guru yang kompeten. Unika Atma Jaya mengharapkan agar FKIP mampu menghasilkan ahli pendidikan dan guru profesional. Melihat kebutuhan akan tenaga guru dan dalam rangka mengembangkan diri maka pendirian FKIP sangat tepat dan bermakna bagi Unika Atma Jaya. Pada saat berdirinya, FKIP mempunyai tiga Jurusan, yaitu Jurusan Pendidikan Umum, Jurusan Bahasa Inggris dan Jurusan Sejarah. Tahun 1964 Jurusan Sejarah ditutup karena kurang peminat sehingga FKIP hanya memiliki dua jurusan yaitu Pendidikan Umum dan Bahasa Inggris.

 

Jurusan Pendidikan Umum dibuka dengan tujuan untuk menyiapkan calon pengajar Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dalam mata kuliah Pedagogik, Psikologi, Didaktik/Metodik, dan Filsafat Pendidikan. Selain itu, Jurusan Pendidikan Umum berguna untuk menyiapkan calon ahli pendidikan yang memahami proses pendidikan dan pengajaran. Ketua Jurusan Pendidikan Umum yang pertama adalah J.B. Legiman, S.H., sebagai pendiri dan Dekan FKIP yang pertama.

 

Pada awalnya, Jurusan Pendidikan Umum cukup diminati. Sebagian besar peminatnya adalah orang yang sudah bekerja pada pagi hari dan kuliah diadakan pada sore hari. Pada perkembangan selanjutnya, mahasiswa tidak saja dari orang yang sudah bekerja tetapi jugadari lulusan SLTA yang baru tamat. Gejala ini mungkin disebabkan oleh keinginan masyarakat, khususnya kaum muda untuk belajar tentang pendidikan, tetapi perguruan tinggi yang memiliki Jurusan Pendidikan masih terbatas. Mengingat minat dan komposisi mahasiswa seperti itu maka pelaksanaan kuliah tidak lagi dilaksanakan hanya pada sore hari tetapi juga pada pagi hari.

 

Jurusan Bahasa Inggris dibuka dengan tujuan menyiapkan calon pengajar Bahasa Inggris untuk tingkat SLTP dan SLTA. Pada saat dibuka, Jurusan Bahasa Inggris cukup diminati dan bahkan sampai sekarangpun peminatnya paling banyak dibandingkan dengan jurusan lain di FKIP. Kuliah Jurusan Bahasa Inggris dilaksanakan pada pagi hari dan sore hari. Ketua Jurusan Bahasa Inggris yang pertama adalah R.A.M Istimarsidah.

 

3.             Lokasi Tempat Kuliah

 

Sebelum menempati kampus utama di Jalan Jenderal Sudirman, mahasiswa FKIP melaksanakan perkuliahan di berbagai tempat yaitu dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena FKIP tidak mempunyai tempat sendiri yang menetap untuk kuliah. Mula-mula perkuliahan dilaksanakan di Lapangan Banteng Utara 10, kemudian di Jalan Batutulis (Sekolah Santa Maria) dan Jalan Merdeka Timur (Bruderan yang sekarang menjadi gedung Pertamina). Tahun 1964 tempat kuliah pindah ke jalan Gereja Theresia 2. Meskipun tempat kuliah selalu berpindah-pindah, dosen dan mahasiswa tidak berkecil hati tetapi sebaliknya, mereka tetap bersemangat. Keadaan seperti ini berlangsung selama 11 tahun. Kemudian pada tahun 1972 kuliah diselenggarakan di kampus utama, Jalan Jenderal Sudirman bersama-sama dengan fakultas lain.

 

Terpusatnya perkuliahan di kampus utama Jalan Jenderal Sudirman sebagai kampus Semanggi memberikan keuntungan yang besar bagi FKIP. Proses belajar mengajar dapat berjalan lebih baik dan urusan-urusan lain seperti administrasi pengajaran dapat terlaksana dengan mudah. Keuntungan lain adalah naiknya kredibilitas FKIP di mata masyarakat dan pemerintah. Kerjasama dengan fakultas lain jauh lebih mudah dibanding dengan kuliah di kampus terpisah. Para mahasiswa FKIP dapat lebih mudah berkomunikasi dengan mahasiswa dari fakultas-fakultas lain sehingga persatuan dan kesatuan di antara mahasiswa Unika Atma Jaya lebih terjamin.

 

B.                PERIODE PERTUMBUHAN

 

1.                  Perubahan Nama Menjadi FIP dan Kembali Menjadi FKIP

 

Menurut peraturan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) tahun 1965, nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) harus diubah menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Perubahan ini membawa masalah tersendiri. Jurusan Bahasa Inggris mengalami kesulitan dalam mengusahakan ujian negara tingkat Sarjana karena nama FIP itu kurang mencerminkan tujuannya yakni pendidikan guru Bahasa Inggris. Oleh karena itu, atas saran Koordinator Kopertis Wilayah III, pada tahun 1980 nama FIP kembali menjadi FKIP.

 

Berdasarkan SK Kopertis pada tahun 1985 Jurusan Bahasa Inggris menjadi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

 

2.             Penerapan Sistem Kredit Semester dan Lahirnya Program Studi Baru

 

a)   Penerapan kuliah dengan sistem kredit semester

 

Pada tahun 1984 FKIP terpilih sebagai pilot project untuk melaksanakan perkuliahan dengan Sistem Kredit Semester (SKS) dalam mempersiapkan sistem tersebut bagi semua fakultas di Unika Atma Jaya kecuali Fakultas Kedokteran. Pada tahun 1985, secara resmi FKIP melaksanakan perkuliahan dengan berpedoman pada Sistem Kredit Semester (SKS) untuk mengganti sistem kuliah paket. Satu tahun kemudian, yakni tahun 1986, kuliah dengan sistem kredit semester semakin disempurnakan sejalan dengan pemberlakuan sistem tersebut untuk semua pendidikan tinggi di Indonesia.

 

b)      Penambahan Program Studi Pendidikan Agama (Kateketik)

 

Pada tahun yang sama, FKIP menambah satu Program Studi baru yaitu Program Studi Pendidikan Agama Katolik (Kateketik). Program Studi Kateketik merupakan kelanjutan dari Sekolah Tinggi Kateketik (STKat) Karya Wacana milik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Ordo Ursulin Indonesia. Salah satu alasan penggabungan adalah bahwa semua Sekolah Tinggi seyogyanya mengembangkan diri menjadi universitas. Oleh karena pihak Yayasan Karya Wacana, yaitu Keuskupan Agung Jakarta dan Ordo Ursulin Indonesia, ingin menjamin keberlangsungan pendidikan Kateketik dan ingin pula memantapkan mutu akademik pendidikan  tinggi katekis ke tingkat universitas maka pihak Sekolah Tinggi Kateketik “Karya Wacana” mengintegrasikan diri ke dalam FKIP Unika Atma Jaya. Pihak Unika Atma Jaya menerima baik gagasan tersebut, berdasarkan dua alasan. Pertama, karena dengan adanya Program Studi Kateketik Unika Atma Jaya dapat lebih memperkokoh identitasnya sebagai universitas Katolik, karena menurut (hukum Kanonik) “Ex Corde Ecclesiae” suatu universitas Katolik seharusnya memiliki Fakultas Teologi. Kehadiran program studi “Pendidikan Agama (Kateketik)” atau sekarang disebut Ilmu Pendidikan Teologi dipandang sebagai suatu langkah menuju pemenuhan “Ex Corde Ecclesiae”. Kedua, karena dengan mengadakan tenaga katekis yang kompeten Atma Jaya bermaksud dapat memberikan kontribusi yang berarti kepada Gereja. Yayasan Atma Jaya berpendapat bahwa ciri-ciri khas Gereja di Indonesia adalah Gereja orang awam. Dalam Gereja yang demikian itu, katekis merupakan kebutuhan yang sangat vital, karena mengingat kenyataan bahwa dewasa ini laju pertumbuhan jumlah umat jauh melebihi laju pertumbuhan jumlah imam. Pada awal bergabung dengan FKIP Unika Atma Jaya perkuliahan Program Studi Kateketik masih dilaksanakan di sekolah Santa Theresia sebagai eks kampus STKat “Karya Wacana karena belum ada tempat di Kampus Atma  Jaya. Tahun 1992, setelah pembangunan gedung Van Lith selesai, Program Studi Kateketik pindah ke Kampus Semanggi. Program Studi Kateketik kemudian mengubah nama menjadi Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi pada tahun 1996.

 

c)      Perubahan Nama Jurusan Pendidikan Umum

 

Seiring dengan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) di Unika Atma Jaya dan untuk mengikuti perkembangan ilmu serta untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di masyarakat, jurusan Pendidikan Umum (tingkat Sarjana Muda dan Sarjana Lengkap) diubah namanya menjadi Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB) tingkat sarjana Strata I pada tahun 1984. Prodi PBB menyiapkan lulusannya bukan hanya pada bidang pembelajaran, tetapi juga pada aplikasi psikologi anak dan remaja serta layanan bimbingan konseling.

 

d)      Penutupan Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan dan Pendirian Program Studi Bimbingan dan Konseling

 

Pada tahun 1992 program studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB) tidak menerima mahasiswa lagi (phasing out) karena dibukanya Fakultas Psikologi di Unika Atma Jaya. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah akan guru pembimbing maka pada tahun 1995 dimulainya program studi baru di FKIP yaitu program studi Bimbingan dan Konseling (BK) dengan ijin operasional dari Direktorat Pendidikan Tinggi (SK 136/DIKTI/KEP/1995).

 

e)      Pendirian Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

 

Dalam usaha turut mencerdaskan bangsa Indonesia pada tahun 2000 - 2002 FKIP Unika Atma Jaya mencoba membuat terobosan dengan mengajukan usulan pembentukan program studi baru yaitu program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Akhirnya pada tanggal 5 Juli 2002 FKIP Unika Atma Jaya diberikan izin prinsipil untuk menyelenggarakan program studi PGSD. FKIP Unika Indonesia Atma Jaya adalah satu-satunya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) swasta bersama 6 LPTK negeri yang diberi kepercayaan oleh Dikti untuk menyelenggarakan program studi PGSD. Pada saat itu program studi ini hanya boleh merekrut mahasiswa yang sudah lulus PGSD Diploma 2. Dalam perkembangan selanjutnya program studi PGSD diijinkan untuk menerima mahasiswa dari lulusan SLTA.

 

C.            PERIODE PENGEMBANGAN

 

1.      Pengakuan Negara dan  Status Akreditasi Masing-Masing Program Studi

 

Dalam rangka mengembangkan diri sebagai fakultas yang bermutu dari segi pengelolaan akademik, FKIP senantiasa membina Program Studinya untuk memiliki akreditasi dari pemerintah. Secara periodik berbagai Program Studi di FKIP berusaha untuk memperoleh pengakuan sebagai Program Studi yang terakreditasi dengan nilai yang tinggi. Berturut-turut akan diberi gambaran sekilas mengenai kinerja masing-masing Program Studi yaitu Jurusan Bahasa Inggris, Jurusan Pendidikan Umum, Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

 

 Jurusan Bahasa Inggris dan Seni dengan Program Studi S1 Bahasa Ingris yang pada tahun 1966 masih bernama Jurusan Bahasa Inggris untuk tingkat Sarjana Muda telah mendapat status disamakan berdasarkan SK Menteri PTIP No. 59/1966, sedangkan untuk tingkat Sarjana pada tahun yang sama telah mendapat status terdaftar. Oleh karena berstatus terdaftar maka penyelenggaraan ujian sarjana harus bergabung dengan Perguruan Tinggi Negeri yang sejenis, dalam hal ini IKIP Jakarta. Dalam perkembangannya pada tahun 1985, sebagai Program Studi Sarjana S1 Bahasa Inggris telah mendapat status Diakui. Setelah mendapat pengakuan diakui, untuk ujian Sarjana Negara FKIP dapat menyelenggarakan sendiri meskipun pelaksanaannya diawasi Departemen P & K. Sekitar empat tahun kemudian yakni pada tahun 1989 Program Studi tersebut mendapatkan status disamakan. Dengan demikian ijazah S1 dihargai sama dengan Perguruan Tinggi Negeri yang sejenis. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mendapatkan status akreditasi B pada tahun 1998, reakreditasi pada tahun 2003 mendapatkan peringkat A, dan pada tahun 2009 dilakukan reakreditasi tetap mempertahankan akreditasi A.

 

Jurusan Ilmu Pendidikan dengan Jurusan Pendidikan Umum pada tahun 1966 untuk tingkat Sarjana Muda telah mendapatkan status Disamakan dengan SK Menteri PTIP no. 59/1966, sedangkan untuk tingkat Sarjana mendapatkan status Diakui pada tahun yang sama. Namun demikian, FKIP diberi hak menyelenggarakan Ujian Sarjana Negara sendiri tetapi masih mendapat pengawasan dari Departemen Pendidikan. Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan mendapat status Disamakan tahun 1985. Dengan demikian ijazah S1 dihargai sama dengan Perguruan Tinggi Negeri yang sejenis.

 

Program Studi S1 Pendidikan Agama Katolik (Kateketik) mendapat status terdaftar pada tanggal 27 Juli 1985 berdasarkan SK No. 0331/O/1985. Sekitar empat tahun kemudian, yakni tahun 1989 telah mendapatkan status Diakui. Pada tahun 1991 Program Studi Kateketik mendapat status Disamakan, dengan demikian ijazah S1 dihargai sama dengan Perguruan Tinggi Negeri yang sejenis. Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi mendapat peringkat akreditasi B tahun 1998, ketika dilakukan reakreditasi pada tahun 2003 mendapatkan akreditasi A dan selanjutnya reakreditasi pada tahun 2009 mendapatkan kembali akreditasi A.

 

Program Studi Bimbingan Konseling mendapatkan akreditasi C pada tahun 1998. Setelah melakukan berbagai perbaikan dan melakukan reakreditasi pada tahun 2002 berhasil mencapai peringkat akreditasi A. Selanjutnya pada tahun 2008 reakreditasi Program Studi BK dapat mempertahankan peringkat A.

 

Pada tahun 2009 program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mendapatkan bantuan dari Ditjen Pendidikan Tinggi berupa Dana Insentif Akreditasi BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) yang digunakan untuk proses pelaksanaan akreditasi program studi. Ketika laporan ini disusun tahun 2010, program studi PGSD sedang dalam proses pengajuan akreditasi kepada Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT).

 

2.        Mahasiswa dan Lulusan FKIP

 

a)      Mahasiswa

 

Pada saat dibuka, FKIP menerima mahasiswa dengan jumlah yang cukup besar yaitu 345 mahasiswa yang terbagi dalam dua jurusan yaitu Bahasa Inggris dan Seni serta jurusan Ilmu Pendidikan. Apabila dibandingkan dengan fakultas lain, FKIP mempunyai mahasiswa paling besar. Pada tahun yang sama itu fakultas Ekonomi 269 mahasiswa; FIPK 124 mahasiswa; Fakultas Teknik 72 mahasiswa. Apabila dibandingkan dengan fakultas yang lain yang ada di Unika Atma Jaya, FKIP menduduki ranking ketiga dalam jumlah mahasiswa. Dalam perkembangan jumlah mahasiswa FKIP mengalami pasang surut.            

 

Pada semester ganjil tahun akademik 2010/2011 jumlah mahasiswa FKIP sebanyak 926 mahasiswa, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 513 mahasiswa, Ilmu Pendidikan Teologi sebanyak 91 mahasiswa, Bimbingan Konseling sebanyak 152 mahasiswa, dan PGSD sebanyak 170 mahasiswa. Berdasarkan data-data terakhir tersebut, sudah sangat tampak bahwa ada Program Studi yang sangat kecil peminatnya dan ada Program Studi yang paling banyak peminat untuk menjadi mahasiswa. Berikut ini akan diberi gambaran mengenai jumlah peminat tiap Program Studi dan akan diawali dengan Prodi Ilmu Pendidikan Teologi.

 

Pada waktu dibuka Program Studi Kateketik jumlah mahasiswa yang diterima pada waktu itu hanya 15 orang. Dalam perkembangan sampai saat ini, jumlah mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi (IP Teologi) stabil, artinya sekitar 12-15 mahasiswa tiap angkatan. Mengapa Jumlah mahasiwa Prodi IP Teologi yang realatif kecil? Sulit dicari jawaban yang pasti, tetapi FKIP menyadari bahwa mahasiwa yang masuk ke Prodi ini mengandaikan juga panggilan untuk menjadi katekis atau pembina iman umat Katolik dan  menjadi guru Agama Katolik. Sekalipun jumlah mahasiswa tidak banyak, tetapi Program Studi ini didukung oleh staf dosen dengan keahlian dalam bidang Teologi, Kitab Suci, dan  Pastoral/Kateketik serta bidang humaniora lain yang memadai.     

 

Sejak dibuka dan sampai saat ini, Program Studi Bahasa Inggris yang paling banyak peminatnya. Mengapa demikian? Berdasarkan pengalaman para alumni, lapangan pekerjaan yang tersedia bagi lulusan Jurusan ini sangat luas. Lulusan Bahasa Inggris FKIP tidak hanya menjadi guru melainkan dapat juga bekerja di luar profesi guru seperti misalnya di bank, perusahaan swasta atau kedutaan besar. Sekalipun saat ini di Jakarta FKIP tidak termasuk fakultas favorit bagi generasi muda, tetapi tidak dapat disangkal bahwa dari tahun ke tahun kebutuhan untuk menjadi guru tetap ada. Pasang surut memang terjadi tetapi tidak membahayakan eksistensi FKIP. Pengalaman pun membuktikan bahwa masih ada cukup banyak generasi muda yang berminat dalam bidang pengajaran pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, sekalipun sebagai sumber nafkah, profesi guru saat ini memang kurang menarik.

 

b)      Lulusan FKIP

 

Sejak tahun 1961 sampai tahun 1984 FKIP dengan dua jurusan yaitu Jurusan Ilmu Pendidikan dan Jurusan Bahasa dan Seni telah meluluskan 699 Sarjana Muda dan 83 Sarjana yang semuanya diakui oleh Negara. Jumlah lulusan Sarjana lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah lulusan Sarjana Muda. Hal ini disebabkan kebanyakan mahasiswa sudah bekerja dan merasa cukup puas hanya dengan ijazah Sarjana Muda (saja). Disamping itu, prasyarat untuk mengikuti ujian negara sangat rumit dan memerlukan waktu cukup lama.

 

Data terakhir, lulusan FKIP sampai dengan wisuda Oktober 2010 berjumlah 3484 Sarjana. Menurut pengguna lulusan dan pengalaman para alumni, mutu lulusan FKIP tidak perlu diragukan.  Mereka umumnya mampu bersaing dengan perguruan tinggi sejenis lainnya dan memiliki kompetensi kepribadian yang menjadi andalan bagi pengguna lulusan.

 

            Kualitas lulusan mahasiswa FKIP cukup terjamin karena didukung oleh staf dosen dengan latar belakang pendidikan Magister dan Doktor dalam keahlian yang sesuai dengan program studi. Berdasarkan data pada semester ganjil 2010/11, jumlah dosen tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 20 dosen, Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi sebanyak 7 dosen, Program Studi Bimbingan Konseling sebanyak 8 dosen, dan Program Studi PGSD sebanyak 6 dosen.

 

Dalam usahanya untuk menunjang program studi, FKIP menyediakan berbagai fasilitas untuk keperluan studi mahasiwa. Fasilitas yang dimaksud seperti Perpustakaan  Pusat, Perpustakaan Lembaga Bahasa dan Perpustakaan Pusat Penelitian. Disamping itu, ada Laboratorium Bahasa, Laboratorium Konseling Individual, Laboratorium Konseling Kelompok (Micro Counseling Laboratory), Laboratorium MIPA, Laboratorium Spiritualitas, Laboratorium Komputer yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk melatih keterampilan berbahasa Inggris, keterampilan Konseling, keterampilan spiritualitas, keterampilan dalam bidang MIPA dan keterampilan komputer. 

 

3.        Kegiatan dosen dan mahasiswa

 

a)      Kegiatan dosen

 

   Untuk memenuhi Tridarma Perguruan Tinggi, FKIP berusaha semaksimal mungkin memenuhi kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam bidang pengajaran dosen FKIP telah melakukan kegiatan pengajaran melalui proses pembelajaran dengan berbagai metode dan penggunaan media pembelajaran. Untuk meningkatkan kompetensi profesional, para dosen diberi kesempatan untuk mengembangkan diri melalui studi lanjut, seminar, workshop dan kegiatan ilmiah lainnya.       Dalam kegiatan penelitian, fakultas mendorong para dosen untuk melakukan penelitian, baik secara kelompok maupun sendiri. 

 

Untuk melaksanakan darma ketiga, yaitu pengabdian kepada masyarakat, FKIP melaksanakan berbagai kegiatan, baik dilakukan secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. Kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain: Kelompok Bimbingan Citra Remaja (BKCR), yang memberikan pelayanan bimbingan kelompok untuk siswa SLTP dan SLTA, kegiatan Pengembangan Keterampilan Dasar dan Potensial Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Kelurahan Penjaringan dimana kegiatan ini bekerjasama dengan PPA dan Pemda DKI. Selain itu menyelenggarakan lokakarya untuk guru-guru SMP, pelatihan untuk guru-guru SMA, dan pendalaman iman langsung kepada umat atau secara tidak langsung yaitu pembinaan para katekis relawan di dekenat-dekenat Keuskupan Agung Jakarta.

 

b)      Kegiatan mahasiwa

 

Kegiatan kemahasiswaan umumnya dilakukan melalui Senat Mahasiswa FKIP dan Himpunan Mahasiswa Jurusan setiap Program Studi. Mahasiswa FKIP cukup banyak menyelenggarakan berbagai kegiatan berkaitan  bidang ilmiah, pendidikan dan pelatihan, minat bakat dan pengabdian kepada masyarakat Beberapa contoh kegiatan misalnya, penyelenggaraan Pekan Buku yang diikuti oleh penerbit dan toko buku, kegiatan sosial di Panti Asuhan, Panti Werdha, dan ikut serta dalam pekan seni, olah raga dan lain-lain. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kreativitas dan kepekaan sosial para mahasiswa.

 

            Mahasiswa FKIP tidak hanya mengikuti perkuliahan di kelas melainkan harus melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sesuai dengan program studinya. PPL yang dilakukan mahasiswa meliputi praktik mengajar, praktik konseling, dan layanan kepada umat di paroki. Program studi Bimbingan Konseling memberikan layanan penjurusan kepada siswa SMK Tarakanita. Program studi Ilmu Pendidikan Teologi memberikan tugas kepada mahasiswa untuk mengajar di sekolah, membantu kegiatan Paroki seperti membantu pastor dalam  Bina Iman Anak, Bina Iman Remaja, kegiatan di lingkungan/wilayah, memimpin ibadat sabda, memimpin rekoleksi/retret dan memberikan renungan.    

 

            FKIP Unika Atma Jaya akan tetap berkembang karena pendidikan bukan hanya merupakan suatu kewajiban tetapi merupakan kebutuhan hidup manusia menjadi lebih bermakna. Profesi Pendidik tetap menjadi sumber daya yang berperan mencerdaskan bangsa Indonesia.

 

 

 

Jakarta, 1 Januari 2011

 

 

 

Penyusun : Prof. Dr. Laura F. N. Sudarnoto

 

Sumber Buku Tiga Dasawarsa Atma Jaya dan data dokumentasi FKIP

 

S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  
bottom
Copyright © 2016 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya - All right reserved