JAKARTA - Lima agama besar sudah sepakat bahwa persoalan
pendidikan tidak dapat dipisah-pisahkan dari persoalan agama. Karena itu perlu
terus disosialisasikan bahwa membantu pendidikan adalah sebuah ibadah.
Demikian kesepakatan yang dicetuskan sejumlah tokoh lima
agama Islam, Katholik, Protestan, Hindu, dan Budha. Bersama anggota legislatif,
pengurus organisasi massa, LSM, artis, dan pemerhati pendidikan, Senin (29/11)
mendeklarasikan Gerakan Nasional Pendidikan adalah Ibadah di Hotel Sahid,
Jakarta.
Naskah deklarasi ditandatangani masing-masing oleh Ketua
Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Dr. Ahmad Satori Ismail (Islam), Ketua Persekutuan
Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Nathan Setiabudi, Paulus Wirutomo (Katholik),
Sularso Sopater (Protestan), IN Dana (Parisada Hindu Darma), Oka Diputhera (Ketua
Wali Umat Budha Indonesia), Yesi Gusman dan Ratih Sang (artis), Irwan Prayitno
dan Mustafa Kamal (anggota DPR RI), dan sejumlah tokoh lainnya.
Piagam Deklarasi dibacakan oleh Ahmad Satori dan berisi dua
butir. Pertama, pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan
masyarakat adalah kegiatan yang bernilai wajib dan mulia serta bernilai ibadah
untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, agama menganjurkan umat
meningkatkan peran serta dalam pendidikan.
Kedua, selain memberikan kecerdasan dan keterampilan,
pendidikan juga menumbuhkan kekuatan iman bagi anak didik agar menjadi manusia
yang cerdas dan berakhlak mulia yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Oleh
sebab itu perlu ditingkatkan peran serta bagi pendidikan.
Usai ditandatangani para tokoh dari lima agama besar dan
tokoh-tokoh lainnya, termasuk dari unsur Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI),
naskah deklarasi kemudian diserahkan kepada Ketua MPR Hidayat Nurwahid sebagai
simbol penyerahan amanat rakyat untuk dijalankan dan diperjuangkan
keberlanjutannya.
Ketua MPR menilai, meskipun kepedulian sebagian masyarakat
terhadap peningkatan pendidikan di Indonesia sudah terlambat, tetapi Gerakan
Nasional "Pendidikan adalah Ibadah" yang dideklarasikan oleh sejumlah tokoh
agama dan pendidikan, merupakan titik awal yang baik untuk penyadaran publik
bahwa masalah pendidikan adalah kewajiban yang melekat dalam setiap individu.
"Pendidikan merupakan kewajiban yang dile-katkan
masing-masing agama kepada individu pemeluk agama. Agama apa pun, mempunyai
kewajiban berpendidikan yang berkualitas," ujar Hidayat
Dia berharap gerakan ini nantinya tidak hanya menjadi gerakan
moral saja namun dapat menjadi bagian tindak lanjut pemerintah melalui
kebijakan-kebijakannya yang merujuk pada UUD 45. "Gerakan ini hanya akan menjadi
gerakan moral jika berhenti di tingkat himbauan, tetapi jika gerakan ini
didukung sepenuhnya oleh Diknas dan ormas-ormas, maka akan menjadi sebuah
kebijakan," tegasnya.
Sementara bagi Presiden SBY, lanjut Hidayat, di awal kerja
pemerintahannya, merupakan momentum yang baik mengingatkan beliau dan aktivis
pendidikan untuk menangani pendidikan secara lebih serius. Pemerintah hendaknya
membuat pendidikan sebagai sesuatu yang utuh dan terpadu dan tidak terpisah
antara sosial, teknologi dan agama. Dengan itu diharapkan akan memberikan nilai
yang kokoh untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis, katanya.
Deklarasi Gerakan Pendidikan Adalah Ibadah merupakan
rangkaian kegiatan sarasehan nasional yang berlangsung sejak 27 November 2004.
Sarasehan tersebut digelar atas kerja sama Institute for Science and Technology
Studies (ISTECS) dengan Yayasan Sekolah Rakyat. Sarasehan diikuti oleh lebih
dari 100 peserta dari kalangan agama, pendidik, LSM, organisasi massa, media,
dan birokrasi.
Ketua Pelaksana Sarasehan dan Deklarasi Nasional Dr Mulyanto
menyatakan, kegiatan ini diselenggarakan untuk menggerakkan partisipasi
masyarakat dalam dunia pendidikan. Hal ini, katanya, perlu dilakukan mengingat
secara kualitas pendidikan nasional tengah mengalami persoalan yang berat,
bahkan program wajib belajar sembilan tahun pun terancam tidak tercapai. "Hanya
dengan partisipasi aktif masyarakat, kualitas pendidikan nasional dapat
ditingkatkan, sehingga bisa mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain,"
ujarnya.
Untuk menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam dunia pendidikan, lanjut dia, perlu kerja bersama termasuk dukungan dari
kalangan agama. Menurut dia, agama akan menjadi energi yang sangat besar untuk
menggerakkan dunia pendidikan nasional. (L-11)
Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 30/11/04, ed by KS