Kajian Budaya, Rumah Pemikiran Ilmiah Prof. Bagus

HARIMAU mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

PERIBAHASA ini layaknya tepat ditujukan bagi almarhum Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus. Selama mengabdikan diri sebagai pengajar dan guru besar di Universitas Udayana, Bali, Prof Bagus-demikian panggilan akrab almarhum-tidak hanya mendidik mahasiswa dan menghasilkan berpuluh-puluh hasil penelitian ilmiah, tetapi juga memelopori pendirian Jurusan Antropologi di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali.

Dalam lingkup akademi, Prof Bagus merupakan putra Bali yang pertama meraih gelar doktor antropologi dan sekaligus menjadi guru besar pertama dalam Ilmu Antropologi Budaya di Universitas Udayana, Bali. Almarhum juga merupakan penggagas dan sekaligus pendiri kajian budaya (cultural studies) Mazhab Bali.

"Beliau mewariskan monumen berupa Program Studi S2 dan S3 Kajian Budaya," ungkap mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana Drs I Wayan Geriya dalam Seminar Sehari Memperingati Satu Tahun Wafatnya Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus di Denpasar.

Dihadiri puluhan peserta, yang sebagian besar adalah mahasiswa Program Pascasarjana S2 dan S3 Kajian Budaya Universitas Udayana, seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Geriya. Pembicara lain di antaranya Prof Dr Hari Purwanto dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Ir Putu Rumawan Salain MSi dari Universitas Udayana, dan Dr Emiliana Mariyah MS dari Kajian Budaya Universitas Udayana.

Prof Bagus, menurut penilaian Geriya, telah meletakkan modal dasar sains yang sangat berharga dan inspiratif. Sementara pembicara lainnya, Putu Rumawan Salain menilai, pendirian program pascasarjana tersebut merupakan bagian dari upaya Prof Bagus menjawab kegelisahan dalam pencarian dan menemukan jati diri.

Dalam konteks kebalian, ujar Rumawan, hal itu merupakan upaya Prof Bagus melahirkan pemikir dan perancang cetak biru kebudayaan Bali dalam perubahan dan pembangunan Bali.

MELALUI Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya yang didirikan dan diketuai Prof Bagus sejak 1996 dan disusul pendirian Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya pada 2001, almarhum Prof Bagus dengan gencar menyemaikan kajian budaya mazhab Bali dengan pendekatan bentuk-fungsi-makna (form-function-meaning).

Paradigma keilmuan ini, menurut Geriya, searah dengan pemikiran Bapak Antropologi Indonesia, Koentjaraningrat, tentang tiga wujud kebudayaan, yaitu fisik (artefact), perilaku (sociofact), dan ide (ideofact), serta sejalan dengan Tri Kon Ki Hadjar Dewantara, yakni konvergensi, kontinuitas, serta konsentrisitas.

"Beliau sangat menekankan bahwa pembangunan bukan hanya dilihat dari aspek pertumbuhan, misalnya pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus dilihat pula apakah masyarakat menjadi terhegemoni akibat pembangunan tersebut," papar Ketua Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Udayana Dr Emiliana Mariyah MS.

Alumnus program doktor di Universitas Gadjah Mada ini secara singkat mencontohkan, apabila menerapkan pendekatan pertumbuhan, pembangunan hotel di kawasan Nusa Dua merupakan keberhasilan karena menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

Namun, ditinjau dari pendekatan postmodernitas, pembangunan hotel dapat menjadikan masyarakat justru terhegemoni (dikuasai) apabila masyarakat tidak mampu turut menikmati atau diserap dalam pembangunan hotel tersebut. Pembangunan justru menghasilkan pemiskinan bagi masyarakat. "Pendekatan kritis ini yang disemaikan almarhum Prof Bagus," ujar Emiliana.

Senada dengan Emiliana, Geriya menguraikan, upaya Prof Bagus dalam menyadarkan dan mencerdaskan masyarakat dilakukannya melalui wacana intensif tentang tiga post, yaitu postmodernisme, pascatradisi (post tradition), dan manusia pasca-Bali.

"Pesan dan makna akademik dari proses transmisi pemikiran dan monumen Prof Bagus adalah perluasan, peningkatan, dan penganekaragaman gagasan-gagasan beliau melalui jalur Tri Dharma Perguruan Tinggi," papar Geriya. "Ini artinya mewaspadai transmisi yang bergerak ke arah monoton, involutif, dan apalagi degradatif."

KAJIAN budaya (cultural studies) baru populer di Indonesia pada tahun 1990-an, sedangkan di Inggris, kajian budaya telah berkembang sejak 1960-an. Sementara landasan bagi kajian budaya Bali telah dilakukan Prof Bagus sejak awal tahun 1970-an, melalui penelitian bersama antropolog Amerika, Philip McKean, mengenai dampak pariwisata terhadap kebudayaan Bali.

Pemahamannya yang mendalam tentang Bali dengan segala aspeknya dan kelengkapan referensi yang dimiliki Prof Ngurah mendudukkan ia sebagai "pintu masuk" bagi peneliti kebudayaan Bali. I Nyoman Dharma Putra memberikan istilah, Prof Bagus ibarat kamus bagi peneliti asing untuk mendapatkan masukan dan penjelasan atas beragam topik mengenai Bali.

Antropolog Belanda, Dr Henk Schulte Nordholt, menjuluki Prof Bagus sebagai The Father of Balinese Studies sementara julukan The Mother of Balinese Studies disandang antropolog Amerika, Hildred "Hilly" Geertz. Melalui jejaring dan kedekatan kontak akademik dengan para sarjana dan antropolog Barat, Prof Bagus dengan langkah pasti mendirikan Program Studi Kajian Budaya di Universitas Udayana.

"Jadilah pewahyu rakyat." Kutipan pidato Presiden RI Ir Soekarno saat peresmian pendirian Fakultas Sastra Udayana tersebut menjadi motor pemikiran dan kegelisahan Prof Bagus selama pengabdiannya di Universitas Udayana.

"Beliau mengharapkan sarjana-sarjana antropologi untuk meningkatkan pendidikan akademis mereka, antara lain melalui program studi magister dan doktor ini. Tetapi, sayangnya, masih sedikit yang mau melanjutkan. Padahal, kajian budaya ini sangat relevan dengan ilmu antropologi," ujar Emiliana. (COK)

Sumber: Kompas, 21/10/04

http://www.kompas.com/

Informasi
 
 
Quick Link Program Pendidikan
 
 
 
email Forum E-Learning
 
Perpustakaan
 
Sistem Infomasi Akademik
 
top
Kalender Atma Jaya
Juli 2010
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
bottom